Khamis, 5 Mei 2016

Syekh Husen al-Ifrani at-Tijani

Syekh Husen al-Ifrani at-Tijani

 

Syekh al-Qutb Sidi Husen bin Ahmad bin al Hajj Belqasim bin Abdur Rahman bin Ahmad bin Abdul Karim bin Ali al-Ifrani al-Idrisi al-Hassani lahir  di desa Suqin (Maroko) pada tahun 1248 H. riwayat lain menyebutkan tahun 1250 H. Nasabnya berujung kepada sayyidina Hasan as-Sibthi bin sayyidina Ali dan sayyidah Fatima az-Zahra binti Rasulullah SAW.

 Sedangkan Ifran disini bukanlah kota di Negri Matahari Terbenam yang popular ketika musim dingin turun salju, melainkan daerah yang berada di selatan Maroko (Sus). Ia sudah yatim sejak kecil, sebab ayahnya meninggal sepulang  menunaikan ibadah haji. Hanya tinggal ibunya yang merawat dan mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Setelah selesai belajar Alquran dan Tajwid di kampungnya, ia dikirim ibunya kepada Syekh Arobi bin Ibrahim (W. 1266 H) di daerah Jazulah agar menimba ilmu darinya. Setelah itu, ia pindah ke Syekh Abdellah bin Abdur Rahman al Kasytimi (W. 1271 H) yang merupakan pimpinan Madrasah Imo Aksyatim didaerah itu juga. 

Pada tahun 1271 H, ia ingin meneruskan kembali masa belajarnya, lalu bergurulah kepada Syekh Muhammad al-Kansusi (W. 1294 H) di kota Marakech. Kemudian setelah itu ia menuju Fes untuk belajar kepada ulama kota ilmu tersebut. Disana ia bertemu dengan al-Arif billah Sidi Ahmad bin Ahmad Banani Kala (W. 1306 H), ia pun berguru kepadanya hingga memperoleh legalisasi ijazah sanad. Lalu, pada tahun 1277 H., ia kembali ke kampung halamannya Ifran, disana ia mulai mendedikasikan ilmunya dengan ragam pendidikan disiplin ilmu agama serta menjadi Mufti. Kesehariannya ia habiskan untuk mengamalkan dan mengabdikan ilmunya, hingga suatu ketika ia didatangi oleh Ketua Majelis Ulama setempat untuk mengisi pengajian kitab Shahih Bukhori pada even bulan Ramadhan. 

Pada tahun 1280 H., ia berangkat untuk menunaikan rukun islam ke 5 ke tanah suci Makkah. Dalam perjalanannya, ia mimpi bertemu dengan Baginda Rasulullah SAW. dan memerintahkannya untuk mandi bersuci di sungai, perintah tersebut pun ia laksanakan. Namun, usai mandi ternyata masih tersisa sebagian anggota tubuh yang belum terkena air. Dalam keadaan itu, ia mendapat ilham hanya dengan jalan suluk (tasawuf) yang dapat mensucikan seluruh anggota tubuh seseorang. Ia pun kembali ke Marakech pada tahun 1282 H. untuk mengambil talqin Tarekat Tijaniyah kepada Syekh Muhammad bin Ahmad al-Kansusi. Selain itu, ia juga berguru kepada Syekh Arobi bin Sayih (W. 1309 H) penulis kitab “Bughyatu al Mustafid li Syarhi Munyati al Murid”. 

Kemudian, pada tahun 1304 H. ia pergi ke kota Rabat untuk menemui gurunya Syekh Arobi bin Sayih, disana ia diberi ijazah sanad kitab Shahih Bukhori serta diangkat sebagai Mursyid Tarekat Tijaniyah. Dari situlah Allah SWT membukakan pintu hakekat dan ma’rifat lantaran dua orang Waliyullah Syekh Arobi bin Sayih dan Syekh Muhammad al Kansusi. 

Usai dari kota Rabat, dengan perasaan gembira setelah bertemu gurunya kemudian ia menuju kota Fes untuk ziarah ke makam Maulana al-Qutb Syekh Ahmad Tijani. Disana ia bertemu dengan beberapa ulama Tijaniyah, antara lain Sidi Ahmad bin Ahmad Banani Kala yang sebelumnya merupakan gurunya sendiri sewaktu ia belajar di Fes. Beliau pun sama memberinya ijazah dan legalisasi sebagai Mursyid Tarekat Tijaniyah, lalu ia pun menginap selama 41 malam di Fes untuk menemani gurunya tersebut. 

Dalam tatanan horizontal, ia sewajarnya masyarakat lainnya dalam berinteraksi sosial. Tetapi, dalam hubungan vertikal dengan Allah SWT ia sering berpuasa sunah, membaca Alquran, melanggengkan shalat malam maupun shalat tasbih serta membaca salawat Fatih minimal 6.000 kali tiap malam.

Ia menghembuskan nafas terakhir dan menghadap Sang Khaliq pada hari Sabtu 4 Syawal 1328 H., usai mengkaji kitab Shahih Bukhari. Dulu ia dimakamkan diluar Zawiyah Tijaniyah kota Tiznit – Maroko. Namun karena mengalami perluasan bangunan, kini posisi makamnya berada didalam Zawiyah. 

Adapun muridnya yang kesohor dan piawai lebih dari 300 orang, diantaranya yaitu:

   ü  Syekh Ahsan Ba’qili (kota Casablanca)

   ü  Al Hajj Ali Isaki

   ü  Sidi Ahmad at-Tijani as-Syenqiti

   ü  Sidi Yusuf al-Kansusi

   ü  Syekh Abdellah Qasyas (kota Essouira)

   ü  Syekh Muhammad Rafi’i ad-Dukkali

   ü  Syekh Muhammad bin Yahya al-Wilati

   ü  Sidi Thahir al-Ifrani

   ü  Sidi Muhammad bin Abdellah al Ilghi (pendiri Madrasah Ilghi)

   ü  Sidi Ali bin Abdellah al-Ilghi

   ü  Sidi Muhammad Radhi al-Ifrani

   ü  dan lain sebagainya.

Ia pun banyak menelurkan karya ilmiah, diantaranya: Tiryaqu al Qulub min Adawai al Ghaflah wa ad-Dzunub, Tafsir Surah Al Ikhlas, Kasyfu al Ghithai fi man Takallama fi as Syekh at Tijani bi al Khatha’, Idzharu al Haq wa as Shawab, Ta’liq ala Kitabi ad Durratu al Kharida dan lain-lain.

Demikianlah biografinya yang dapat saya tulis disini, semoga kita mendapat berkah dari ilmu beliau.

Waliyullah dari Kota Rabat

Waliyullah dari Kota Rabat

Syekh al-Qutb Arobi bin Sayih

Adalah Syekh Arobi bin Muhammad bin Muhammad Sayih bin Muhammad bin Dawud bin Muhammad bin Abdul Qadir bin al-Qutb Muhammad as-Syarqi al-Umari. Nasabnya berujung kepada Khulafaur Rasyidin ke- 2 Sayyidina Abu Hafs Umar bin Khattab RA.

 Ia lahir pada paginya hari raya Idul Adha tahun 1229 H/1813 M. dirumahnya yang terletak disebelah Masjid Agung kota Meknes - Maroko. Saat ia dilahirkan, ayahnya merasa sangat bahagia dengan kelahirannya, pasalnya karena usianya sudah menginjak 75 tahun. Allah SWT mengabulkan doanya supaya dianugrahi seorang putra yang saleh. Hal ini mirip dengan cobaan yang dialami oleh Nabi Zakaria AS.

Awal masa pendidikannya ia belajar Alquran dan menghafalnya dengan lancar, kemudian baru mengenyam pendidikan berbagai disiplin ilmu agama seperti Fiqih, Gramatika arab, Linguistik dan lain sebagainya kepada ulama Meknes di Madrasah setempat seperti: Syekh Muhammad Badi bin Syafi’i Badu, Syekh Muhammad bin Muhammad Faqirah al-Miknasi, al-Qadhi Sidi Abbas Benkiran dan lain-lain. 

Setelah itu, ia meneruskan belajar kepada para ulama kota Fes, diantaranya kepada Sidi Walid al-Iraqi al-Fasi, Sidi Muhammad Badruddin al-Hamumi al-Fasi, Ahli Hadits Sidi Abdul Qadir bin Abi Jidah yang lebih akrab disebut al-Kuhin. Di Fes ia belajar dengan kesungguhan hingga berhasil dan tercapai cita-citanya. Kemudian, ia kembali ke kampung halamannya. Dan disanalah ia mulai mengajar dan membuka majlis pengajian. 

Pada tahun 1256 H., ia mulai berpegang teguh dengan Tarekat Tijaniyah dibawah bimbingan Sidi Muhammad Belqasim Basri. Nah, apa penyebab ia masuk dalam ajaran tasawuf Tarekat Tijaniyah? 

Mulanya ia merasa rindu ingin bertemu dengan Rasulullah SAW diusianya ke- 27. Ia pun mengerti hanya dengan memperbanyak salawat kepada Nabi SAW jalan agar bisa bertemu kekasih Sang Khaliq SWT tersebut. Suatu malam, ia mimpi bertemu sang ayah, dia pun berkata: “wahai anakku, apakah kamu ingin bertemu Rasulullah SAW? Ia menjawab: iya ayah. Kemudian ayahnya memberi isyarat untuk bertemu dengan sekelompok orang yang selalu berdzikir di Masjid”. Seketika itu ia terbangun dari mimpinya, dia pun paham siapa mereka yang diisyaratkan ayahnya, yakni mereka tersebut adalah para muridnya Maulana Syekh Ahmad Tijani yang selalu membaca amalan(wiridan) di Masjid secara berjamaah.

Akhirnya ia mengerti bahwa ini pertanda izin untuk menyelam di dunia tasawuf, ia pun ditalqin oleh seorang Mursyid yang ada di jamaah tersebut.

Pada tahun 1269, Ia pindah dari Meknes ke kota Rabat dan menetap disana hingga akhir hayatnya. Tepat diusianya ke- 40, ia pun menikah dengan Lala Aisyah binti Sidi Muhammad Hafyan as Syarqi. Disana ia terjun di masyarakat sebagai Dai dan membuka majelis pengajian di rumahnya. Adapun karyanya yang paling monumental adalah kitabAl- Bughyatu al-Mustafid li Syarhi Munyati al Murid merupakan penjelas  (syarh) kitabMunyatu al-Murid dan bisa anda dapatkan di berbagai toko buku.

Pada bulan Rajab tahun 1309 H., beliau sakit selama 16 hari, yang akhirnya beliau menghadap kehadirat Yang Maha Kuasa pada tahun tersebut malam Ahad pukul 22.00 waktu setempat bulan Rajab. Demikianlah biografinya, semoga kita mendapat barokah dari ilmu beliau.

Basmalah sambung dgn fatihah

أهمية قراءة البسملة متصلة بفاتحة الكتاب
#Kepentingan membaca bismillah bersambung dengan fatihah ..#
قال الشيخ القاضي الفيروزابادي رحمه الله و الله العظيم لقد أخبرني الشيخ صفي الدين البعلبكي عن الشيخ القاروني عن محمد بن العربي ( المشهور بالشيخ الأكبر رضي الله عنه ) أنه قال إذا قرأت الفاتحة فقل بسم الله الرحمن الرحيم في نفسٍ واحد، فإني أقول و الله العظيم لقد سمعت من لفظ أبي بكر الفضيل بن محمد الكاتب و قال بالله العظيم لقد حدثنا أبو محمد علي السانسي عن لفظه و قال بالله العظيم لقد حدثني عبد الله المعروف بأبي بكر الصرخاوي و قال بالله العظيم لقد حدثني عبدالله الوراق و قال بالله العظيم لقد حدثني محمد بن يونس الطويل و قال بالله العظيم لقد حدثني محمد بن الحسين العلوي الزاهد و قال بالله العظيم لقد حدثني أبو بكر الراجعي و قال بالله العظيم لقد حدثني عمر بن موسى البرمكي و قال بالله العظيم لقد حدثني أنس بن مالك رضي الله عنه و قال بالله العظيم لقد حدثني علي بن أبي طالب رضي الله عنه و قال بالله العظيم لقد حدثني أبو بكر الصديق رضي الله عنه و قال بالله العظيم لقد حدثني المصطفى صلى الله عليه و سلم و قال بالله العظيم لقد حدثني جبريل عليه السلام و قال بالله العظيم لقد حدثني ميكائيل عليه السلام و قال بالله العظيم لقد حدثني إسرافيل عليه السلام و قال قال الله تعالى و عزتي و جلالي و جودي و كرمي من قرأ بسم الله الرحمن الرحيم متصلة بفاتحة الكتاب مرة واحدة فاشهدوا عليَّ أني قد غفرت له و قبلت منه الحسنات و تجاوزت له عن السيئات و لا أحرق لسانه بالنار و أجيره من عذاب القبر و عذاب النار و عذاب يوم القيامة و الفزع الأكبر

Telah berkata Syeikhul qadhi Fairuzbadi :
Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya syeikh Sofiyuddin Alba'laba' Telah memberi tahu kpdku yg bahawa beliau meriwayatkan daripada syeikh Alqoruni yg meriwayatkan drpd
Muhammad ibnu Arabi (Syeikhul Akbar) telah berkata :
"Apabila engkau  hendak membaca fatihah..., maka bacalah bismillah beserta fatihah dlm satu nafas (bismillah bersambung dengan fatihah )
"sesungguhnya aku(ibnu Arabi) katakan bahawa :
Demi Allah yg maha agung, aku telah mendengar dr ungkapan Abu bakar fudhail bin Muhammad AlKatib katanya:
-Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya Abu Muhammad Ali As-Sanisi :
Sesungguhnya telah memberitahu kepadaku oleh Abdullah (Abu bakar sakhrawi) katanya:
-Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku Abdullah Al-Warraq katanya:
-Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku oleh Muhammad bin yunus  Al-towil dan berkata :
-Demi Allah yg maha agung, Sesungguhnya telah memberitahu kepadaku oleh Muhammad bin Husain Al - Alawi Az-Zahid katanya:
-Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku Abu bakar Rajiei' :
-Demi Allah yg maha agung, Sesungguhnya telah memberitahu kepadaku oleh Muhammad bin Musa Al - Albarmiki katanya:
-Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku Anas bin Malik RA:
-Demi Allah yg maha agung, Sesungguhnya telah memberitahu kepadaku oleh Ali.bin Talib KW katanya:
-Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku Abu bakar As-Siddiq RA:
-Demi Allah yg maha agung, Sesungguhnya telah memberitahu kepadaku oleh 
Rasulullah SAW Dan kata baginda SAW:
Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku Jibril AS :
-Demi Allah yg maha agung, Sesungguhnya telah memberitahu kepadaku oleh  Mikail AS Dan katanya:
Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku oleh Israfil AS dan katanya :
Telah berfirman Allah SWT:
" وعزتي و جلالي و جودي و كرمي"
"demi sifat kemegahan, kegagahan, kemurahan dan karim Allah SWT. ."

من قرأ بسم الله الرحمن الرحيم متصلة بفاتحة الكتاب مرة واحدة فاشهدوا عليَّ أني قد غفرت له و قبلت منه الحسنات و تجاوزت له عن السيئات و لا أحرق لسانه بالنار و أجيره من عذاب القبر و عذاب النار و عذاب يوم القيامة و الفزع الأكبر
"Barangsiapa yang membaca bismillah bersambung dengan fatihah sekali gus, maka persaksikan atasku bahawa aku telah mengampuni akannya, dan aku menerima semua amalan kebajikannya, dan aku melepaskan (ampun) segala kejahatannya
Dan aku tidak akan membakar lidahnya dgn api neraka
Aku menyelamatkan drpd azab kubur,  azab neraka,azab pd hari kiamat kelak dan juga azab pd hari kejutan yang besar ...

Basmalah sambung dgn fatihah

أهمية قراءة البسملة متصلة بفاتحة الكتاب
#Kepentingan membaca bismillah bersambung dengan fatihah ..#
قال الشيخ القاضي الفيروزابادي رحمه الله و الله العظيم لقد أخبرني الشيخ صفي الدين البعلبكي عن الشيخ القاروني عن محمد بن العربي ( المشهور بالشيخ الأكبر رضي الله عنه ) أنه قال إذا قرأت الفاتحة فقل بسم الله الرحمن الرحيم في نفسٍ واحد، فإني أقول و الله العظيم لقد سمعت من لفظ أبي بكر الفضيل بن محمد الكاتب و قال بالله العظيم لقد حدثنا أبو محمد علي السانسي عن لفظه و قال بالله العظيم لقد حدثني عبد الله المعروف بأبي بكر الصرخاوي و قال بالله العظيم لقد حدثني عبدالله الوراق و قال بالله العظيم لقد حدثني محمد بن يونس الطويل و قال بالله العظيم لقد حدثني محمد بن الحسين العلوي الزاهد و قال بالله العظيم لقد حدثني أبو بكر الراجعي و قال بالله العظيم لقد حدثني عمر بن موسى البرمكي و قال بالله العظيم لقد حدثني أنس بن مالك رضي الله عنه و قال بالله العظيم لقد حدثني علي بن أبي طالب رضي الله عنه و قال بالله العظيم لقد حدثني أبو بكر الصديق رضي الله عنه و قال بالله العظيم لقد حدثني المصطفى صلى الله عليه و سلم و قال بالله العظيم لقد حدثني جبريل عليه السلام و قال بالله العظيم لقد حدثني ميكائيل عليه السلام و قال بالله العظيم لقد حدثني إسرافيل عليه السلام و قال قال الله تعالى و عزتي و جلالي و جودي و كرمي من قرأ بسم الله الرحمن الرحيم متصلة بفاتحة الكتاب مرة واحدة فاشهدوا عليَّ أني قد غفرت له و قبلت منه الحسنات و تجاوزت له عن السيئات و لا أحرق لسانه بالنار و أجيره من عذاب القبر و عذاب النار و عذاب يوم القيامة و الفزع الأكبر

Telah berkata Syeikhul qadhi Fairuzbadi :
Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya syeikh Sofiyuddin Alba'laba' Telah memberi tahu kpdku yg bahawa beliau meriwayatkan daripada syeikh Alqoruni yg meriwayatkan drpd
Muhammad ibnu Arabi (Syeikhul Akbar) telah berkata :
"Apabila engkau  hendak membaca fatihah..., maka bacalah bismillah beserta fatihah dlm satu nafas (bismillah bersambung dengan fatihah )
"sesungguhnya aku(ibnu Arabi) katakan bahawa :
Demi Allah yg maha agung, aku telah mendengar dr ungkapan Abu bakar fudhail bin Muhammad AlKatib katanya:
-Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya Abu Muhammad Ali As-Sanisi :
Sesungguhnya telah memberitahu kepadaku oleh Abdullah (Abu bakar sakhrawi) katanya:
-Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku Abdullah Al-Warraq katanya:
-Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku oleh Muhammad bin yunus  Al-towil dan berkata :
-Demi Allah yg maha agung, Sesungguhnya telah memberitahu kepadaku oleh Muhammad bin Husain Al - Alawi Az-Zahid katanya:
-Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku Abu bakar Rajiei' :
-Demi Allah yg maha agung, Sesungguhnya telah memberitahu kepadaku oleh Muhammad bin Musa Al - Albarmiki katanya:
-Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku Anas bin Malik RA:
-Demi Allah yg maha agung, Sesungguhnya telah memberitahu kepadaku oleh Ali.bin Talib KW katanya:
-Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku Abu bakar As-Siddiq RA:
-Demi Allah yg maha agung, Sesungguhnya telah memberitahu kepadaku oleh 
Rasulullah SAW Dan kata baginda SAW:
Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku Jibril AS :
-Demi Allah yg maha agung, Sesungguhnya telah memberitahu kepadaku oleh  Mikail AS Dan katanya:
Demi Allah yg maha agung, sesungguhnya telah memberi tahu kpdku oleh Israfil AS dan katanya :
Telah berfirman Allah SWT:
" وعزتي و جلالي و جودي و كرمي"
"demi sifat kemegahan, kegagahan, kemurahan dan karim Allah SWT. ."

من قرأ بسم الله الرحمن الرحيم متصلة بفاتحة الكتاب مرة واحدة فاشهدوا عليَّ أني قد غفرت له و قبلت منه الحسنات و تجاوزت له عن السيئات و لا أحرق لسانه بالنار و أجيره من عذاب القبر و عذاب النار و عذاب يوم القيامة و الفزع الأكبر
"Barangsiapa yang membaca bismillah bersambung dengan fatihah sekali gus, maka persaksikan atasku bahawa aku telah mengampuni akannya, dan aku menerima semua amalan kebajikannya, dan aku melepaskan (ampun) segala kejahatannya
Dan aku tidak akan membakar lidahnya dgn api neraka
Aku menyelamatkan drpd azab kubur,  azab neraka,azab pd hari kiamat kelak dan juga azab pd hari kejutan yang besar ...

Rabu, 4 Mei 2016

Pengajaran isra dan mikraj

Pengajaran yang boleh diambil daripada peristiwa Israk dan Mikraj 
ialah:

1. Kuasa Allah S.W.T. adalah tidak terbatas dan Dia boleh melakukan 
apa sahaja yang dikehendaki oleh-Nya, seperti membawa Rasulullah 
S.A.W. Dari kota Mekah ke Baitul Maqdis dan dibawa mengadap ke hadrat-
Nya di Sidratul Muntaha di dalam jangkamasa yang begitu singkat, 
iaitu satu malam.

Ini kerana apabila Rasulullah S.A.W. menceritakan 
tentang peristiwa ini kepada masayarakat umum di Mekah, mereka 
mentertawakan Rasulullah. Hanya Saidina Abu Bakar As-Siddiq 
mempercayai kata-kata Rasulullah, dan beliau diberi gelaran "As-
Siddiq" yang bermaksud "orang yang benar".

2. Sebelum Rasulullah di"israkkan, baginda telah menjalani suatu 
"pembedahan" untuk membersihkan hati, dan dimasukkan unsur rohani, 
iman dan hikmat.

Ini menunjukkan kepada kita bahawa di dalam peringkat pertama untuk bertemu Allah S.W.T., kita perlu membersihkan 
diri dan jiwa kita daripada pelbagai sifat mazmummah yang tidak baik 
dan menanamkan sifat mahmudah yang baik.

Dengan jiwa yang tenang, penuh keimanan dan ketakwaan akan dibawa bertemu dan mengadap Allah 
S.W.T.

3. Pelbagai peristiwa yang dilihat dan dialami oleh Rasulullah S.A.W. 
semasa di dalam Israk bersama malaikat Jibrail memberikan gambaran 
menyeluruh perihal umatnya di bumi ini dalam menjalani kehidupan 
sebagai khalifah Allah.

Ada yang melakukan kebajikan, ada yang  melakukan kemaksiatan dan mereka menerima balasan yang setimpal 
dengan apa yang telah mereka kerjakan daripada Allah S.W.T.

4. Allah S.W.T juga telah menunjukkan kepada Rasulullah dan umatnya 
bahawa iman dan akidah yang teguh merupakan asas kepada sifat 
keislaman yang sejati dan akan diberi balasan baik oleh-Nya.

Ini berlaku kepada tukang sikat Firaun, Mashitah sekeluarga. Walaupun 
diugut dan dibunuh oleh mereka yang kufur, Allah S.W.T. menganggap 
pengorbanan itu sebagai suatu syuhada atau jihad kerana 
mempertahankan agama Allah.

5. Orang yang beramal soleh dan berjihad di jalan Allah akan diberi 
balasan berlipat ganda seperti satu kaum yang menanam dan menuai 
hasil tanaman mereka yang keluar berulang-ulang kali.

6. Rasulullah telah memilih minuman untuk baginda iaitu susu berbanding arak yang ditawarkan oleh Jibrail A.S. Ini jelas 
menunjukkan bahawa susu merupakan minuman yang berkhasiat dan arak 
pula minuman yang tidak disukai oleh baginda dan juga Allah S.W.T. 
kerana ia memabukkan dan akan menyesatkan umat Islam daripada 
mengingati Allah S.W.T.

7. Beberapa tempat yang telah disinggahi oleh Rasulullah untuk mengerjakan solat seperti Madinah, Bukit Tursina dan Masjidil Aqsa adalah tempat yang terpilih dan mulia. Maka jika kita berkesempatan  untuk berkunjung ke sana, adalah sunat untuk mengerjakan solat di 
tempat-tempat tersebut.

8. Allah S.W.T adalah Maha Pengampun lagi Maha Mendengar. Bermula 
daripada perintah agar umat Islam diwajibkan mengerjakan solat 50 
kali sehari semalam, atas permohonan Rasulullah S.A.W. sebagai 
kekasih-Nya berulang kali (sebanyak 9 kali), Allah S.W.T telah  mengurangkannya kepada 5 kali sahaja sehari semalam seperti yang kita  kerjakan sehingga hari ini.

9. Surah Al-Fatihah dan Ayat Kursi merupakan ayat-ayat suci Al-Quran 
yang banyak keberkatannya sekiranya dibaca dan diamalkan di dalam 
kehidupan seharian. Ini kerana surah ini dinyatakan dengan jelas oleh  Allah S.W.T. kepada Rasulullah S.A.W. semasa mengadap-Nya.
 
http://roslimn.tripod.com/israkmikraj.html

Didik anak

Saidina Ali bin Abi Talib RA merumuskan cara-cara untuk melayan anak:-

1. Kelompok pertama 7 tahun (umur 0-7 tahun), melayan anak sebagai raja.

2. Kelompok kedua 7 tahun (umur 8-14 tahun), melayan anak sebagai tawanan.

3. Kelompok ketiga 7 tahun (umur 15-21 tahun), melayan anak sebagai sahabat.

.

► ANAK SEBAGAI RAJA (umur 0-7 tahun)

Melayan anak di bawah umur 7 tahun dengan sepenuh hati dan ikhlas adalah perkara yang terbaik yang boleh kita lakukan. Banyak perkara-perkara kecil yang kita lakukan setiap hari akan berubah mempunyai kesan positif kepada pembangunan tingkah laku anak tersebut, sebagai contoh:-

Jika kita segera menyahut dan mendekati dia ketika dia memanggil kita walaupun ketika kita sibuk, maka dia juga akan segera bertindak balas dan terus pergi kepada kita sewaktu kita memanggilnya.

Di saat kita tidak jemu menggosok belakang badannya sehingga dia tidur, dan tidak mustahil apabila dia mengurut atau mengusap punggung apabila kita letih atau sakit.

Di saat kita berusaha keras menahan emosi pada masa dia telah membuat kesilapan yang besar dalam apa jua bentuk, kita dapat lihat pada masa akan datang dia juga akan bersabar apabila adik-beradik atau rakan-rakannya membuat kesilapan kepadanya.

Oleh itu, apabila kita sentiasa berusaha sepenuh hati untuk menggembirakan anak-anak yang belum berusia tujuh tahun, Insya-Allah, dia akan membesar menjadi seorang yang menyeronokkan, penyayang dan bertanggungjawab kerana jika kita suka dan melayan mereka sebagai raja, maka dia akan suka dan melayan kita sebagai raja dan ratu.

► ANAK SEBAGAI TAWANAN (umur 8-14 tahun)

Kedudukan tawanan perang dalam Islam adalah sangatlah dihormati. Dia akan mendapat hak dengan kadar tertentu, tetapi  juga dikenakan berbagai larangan dan tanggungjawab. Usia 8-14 tahun adalah umur yang sesuai untuk anak-anak diberikan hak, tanggungjawab dan kewajipan tertentu.

Rasulullah SAW mula mengajar anak untuk solat wajib pada usia 7 tahun dan membolehkan kita untuk memukul anak itu (atau mengukum dengan hukuman yang sepatutnya) apabila anak itu berusia 10 tahun jika anak itu tetap meninggalkan solat. Oleh kerana itu, umur 8-14 tahun adalah waktu yang sesuai dan tepat untuk anak-anak diperkenalkan dan diajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan hukum hakam agama, sama ada yang diwajibkan atau dilarang, seperti :-

1. Menunaikan solat wajib lima kali sehari.
2. Memakai pakaian yang bersih, kemas dan menutup aurat.
3. Menjaga pergaulan dengan berlawanan jenis.
4. Membaca Al-Quran.
5. Membantu kerja-kerja rumah yang mudah dilakukan praktikal dengan usia anak.
6. Menerapkan disiplin dalam aktiviti harian. Penghargaan dan Hukuman (hadiah/ganjaran/pujian dan hukuman/teguran) yang sesuai diberikan pada usia 7 tahun kedua ini kerana anak-anak sudah dapat dapat memahami erti tanggungjawab dan sesuatu perbuatan.

Walau bagaimanapun, layanan terhadap setiap anak mestilah berbeza kerana setiap kanak-kanak mempunyai ciri-ciri yang berbeza (kerana setiap anak mempunyai keunikan tersendiri).

► ANAK SEBAGAI SAHABAT (umur 15-21 tahun)

Umur 15 tahun adalah usia umum untuk anak-anak melangkah memasuki usia akil baligh. Sebagai ibu bapa kita harus meletakkan diri kita sebagai sahabat dan memberi contoh yang baik seperti yang diajar oleh Saidina Ali bin Abi Thalib.

Ini adalah masa yang baik untuk bercakap dari hati ke hati dengan dia, menjelaskan bahawa dia adalah seorang remaja yang sudah meningkat dewasa.

Perlu diberitahu tentang perubahan fizikal. Selain itu dia juga akan mengalami perubahan mental, rohani, sosial, budaya dan alam sekitar,sehingga mungkin akan ada banyak masalah yang akan dihadapi. Paling penting untuk kita para ibu bapa bahawa kita harus membina kesedaran dalam diri anak-anak kita bahawa umur selepas akil baligh baligh ini dia sudah mempunyai buku amalannyanya sendiri yang mana dia sendiri yang akan dihadapkan dan dipertanggungjawabkan oleh Allah SWT di hari akhirat kelak.

Anak-anak selepas akil baligh seharusnya diberi lebih ruang supaya mereka tidak merasa terkekang namun masih tetap di dalam pengawasan ibu bapa.

Pengawasan perlu dilakukan tanpa paksaan dan sudah tentu disertakan dengan doa untuk kebaikan dan keselamatan mereka. Oleh itu anak-anak akan berasa dihargai, dihormati, disayangi, dan sangat penting di dalam keluarga. Tambahan pula, mereka akan merasa yakin dan mempunyai personaliti yang kuat untuk sentiasa cenderung untuk melakukan kebaikan dan menjauhkan diri daripada tingkah laku yang tidak baik.

Memberikan kepercayaan kepada anak-anak dengan tanggungjawab yang lebih berat. Sewaktu usia 15- 21 tahun ini adalah sangat penting bagi kita ibu bapa untuk memberikan tanggungjawab yang lebih berat dan lebih besar supaya masa depan anak-anak boleh menjadi lincah, bebas, bertanggungjawab dan boleh dipercayai.

Contoh tanggungjawab yang harus diberikan pada usia ini adalah seperti meminta beliau untuk membimbing adik-beradik, memberikan kerja-kerja yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa atau menyediakan jadual aktiviti serta menguruskan kewangan sendiri.

Semoga Allah SWT memberikan kita anak-anak yang soleh dan berbakti kepada ibu bapa dan masyarakat.

.

"Ya Rabbku, beri­lah kepadaku dari sisi Engkau keturunan yang baik. Sesungguhnya engkau adalah Maha Mendengar Doa." (Al-Quran, Ali Imran: 38).

**************************************
#Semoga bermanafaat#

Israk dan Mikraj

Tazkirah : Peristiwa Israk dan Mikraj

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W, keluarga dan para sahabat serta pengikut yang istiqomah menuruti baginda Rasulullah hingga ke hari kiamat.

Setiap tahun apabila tiba tarikh 27 Rejab, umat Islam di seluruh dunia akan mengadakan majlis sambutan peristiwa Israk dan Mikraj. Israk dan Mikraj berlaku pada 27 Rejab, setahun sebelum Hijrah Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah.

Apabila bercerita tentang peristiwa Israk dan Mikraj ini, kita secara spontan akan terbayang kisah perjalanan Rasulullah saw bersama Malaikat Jibril dan Mikail yang boleh dibahagikan kepada dua fasa.

01. Israk –  perjalanan Nabi Muhammad S.A.W dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Baitulmaqdis, Palestin.

02. Mikraj –  perjalanan Nabi Muhammad S.A.W dari Masjidil Aqsa di Baitulmaqdis, Palestin ke Sidratul Muntaha di langit yang ketujuh.

Perjalanan Rasulullah S.A.W ini telah diabadikan oleh Allah S.W.T di dalam Al-Quran, Surah Al-Isra’ ayat 1 yang bermaksud;

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Menariknya, keseluruhan perjalanan Rasulullah S.A.W hanya berlaku pada satu malam sahaja.

Para ulama hadis, ulama feqah dan ulama tafsir secara umum menegaskan bahawa perisitiwa Israk dan Mikraj di mana kedua-duanya berlaku dalam satu malam dan dalam keadaan baginda SAW sedar. Ia berlaku pada jasad atau tubuh dan roh Nabi S.A.W dan bukannya roh sahaja. Sebagaimana difahami daripada firman Allah dalam ayat tadi di mana Allah menegaskan “asra bi ‘abdihi lailan” yang bermaksudmemperjalankan hamba-Nya pada waktu malam. Perkataan hamba yang dimaksudkan di sini iaitu Nabi Muhammad S.A.W yang mana meliputi  tubuh badan dan rohnya bersama-sama dan bukannya rohnya sahaja. Jika ia berlaku pada rohnya sahaja maka sudah tentu firman Allah itu berbunyi “asra bi rohi ‘abdihi lailan”yang bermaksud memperjalankan roh hamba-Nya pada waktu malam tetapi yang berlaku sebaliknya di mana Allah secara jelas menyatakan bahawa Dia telah memperjalankan hamba-Nya iaitu Nabi SAW dalam keadaan tubuh dan rohnya serentak.

Peristiwa ini pada pandangan orang yang tidak beriman atau mereka yang tipis imannya, mereka menyatakan bahawa peristiwa ini tidak mungkin akan berlaku atau pun mereka berbelah-bahagi samada mahu mempercayainya ataupun sebaliknya. Tetapi bagi orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan rasul-Nya maka mereka tetap percaya dengan penuh keimanan kepada peristiwa ini.

Setelah baginda S.A.W menceritakan apa yang telah terjadi padanya kepada masyarakat umum, maka orang-orang kafir bertambah kuat mengejek dan mendustakan baginda S.A.W. Fitnah terhadap baginda S.A.W bertambah kuat malah ada juga di kalangan mereka yang sebelum ini telah memeluk Islam telah pun murtad kembali. Manakala bagi mereka yang begitu mempercayai baginda S.A.W maka iman mereka tetap utuh sebagaimana kita lihat kepada reaksi Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq apabila beliau mendengar berita daripada orang ramai tentang apa yang telah diberitahu oleh Nabi S.A.W lalu beliau dengan tegas menyatakan :

“Benar! Aku menyaksikan bahawa engkau merupakan Rasulullah. Jika baginda S.A.W mengatakan bahawa baginda telah diperjalankan lebih jauh daripada itu, maka aku tetap beriman kepadanya”. Inilah ketegasan dan keyakinan yang tidak berbelah-bahagi Sayyidina Abu Bakar dalam mempercayai Allah dan rasul-Nya sehingga beliau digelar as-Siddiq yang membawa maksud ‘orang yang membenarkan’.

Murid-murid yang dimuliakan,

Sebelum berlakunya Israk dan Mikraj, Rasulullah S.A.W mengalami pembedahan dada/perut oleh Malaikat Jibril dan Mikail. Hati Baginda S.A.W dicuci dengan air zamzam, dibuang ketul hitam (‘alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan perasaan was-wasnya. Kemudian dituangkan hikmat, ilmu dan iman ke dalam dada Rasulullah S.A.W. Setelah itu, dadanya dijahit da
n dimeterikan dengan “khatimin nubuwwah”. Selesai pembedahan, didatangkan binatang bernama Buraq untuk ditunggangi oleh Rasulullah dalam perjalanan luar biasa yang dinamakan “Israk” itu.

Semasa Israk ( Perjalanan dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsa ):

Sepanjang perjalanan (Israk) itu Rasulullah S.A.W diiringi (ditemani) oleh malaikat Jibril dan Israfil. Tiba di tempat-tempat tertentu (tempat-tempat yang mulia dan bersejarah), Rasulullah telah diarah oleh Jibril supaya berhenti dan bersembahyang sebanyak dua rakaat. Antara tempat-tempat berkenaan ialah:

01. Negeri Thaibah (Madinah), tempat di mana Rasulullah akan melakukan hijrah,

02. Bukit Tursina, iaitu tempat Nabi Musa A.S. menerima wahyu daripada Allah,

03. Baitul-Laham iaitu tempat Nabi Isa A.S. dilahirkan.

Dalam perjalanan itu juga baginda Rasulullah S.A.W menghadapi gangguan jin Ifrit dengan api dan dapat menyaksikan peristiwa-peristiwa yang amat ajaib.
Peristiwa-peristiwa tersebut adalah seperti berikut :

01. Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. Apabila dituai, hasil (buah) yang baru keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang-ulang. Rasulullah S.A.W diberitahu oleh Jibril: Itulah kaum yang berjihad “Fisabilillah” yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda, bahkan sehingga gandaan yang lebih banyak.

02. Tempat yang berbau harum. Rasulullah S.A.W diberitahu oleh Jibril : Itulah bau kubur Masitah (tukang sisir rambut anak Fir’aun) bersama suaminya dan anak-anaknya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh oleh Fir’aun kerana tetap teguh beriman kepada Allah (tak mahu mengakui Fir’aun sebagai Tuhan).

03. Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Jibrail memberitahu Rasulullah: Itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk sujud (sembahyang).

04. Sekumpulan orang yang hanya menutup kemaluan mereka (qubul dan dubur) dengan secebeis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternakan. Mereka makan bara api dan batu dari neraka Jahannam. Kata Jibrail : Itulah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.

05. Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada di sisi mereka. Kata Jibrail: Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing-masing mempunyai isteri/suami.

06. Lelaki yang berenang dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Kata Jibrail: Itulah orang yang makan riba.

07. Lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Kata Jibrail: Itulah orang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.

08. Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan penggunting besi berkali-kali. Setiap kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Kata Jibrail: Itulah orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.

09. Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Kata Jibrail: Itulah orang yang memakan daging manusia (mengumpat) dan menjatuhkan maruah (mencela, menghinakan) orang.

10. Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu. Kata Jibrail: Itulah orang yang bercakap besar (Takabbur). Kemudian menyesal, tapi sudah terlambat.

11. Seorang perempuan dengan dulang yang penuh dengan pelbagai perhiasan. Rasulullah tidak memperdulikannya. Kata Jibrail: Itulah dunia. Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya, nescaya umat Islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.

12. Seorang perempuan tua duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah berhenti. Rasulullah S.A.W tidak menghiraukannya. Kata Jibrail: Itulah orang yang mensia-siakan umurnya sampai ke tua.

13. Seorang perempuan bongkok tiga menahan Rasulullah untuk bertanyakan sesuatu. Kata Jibrail: Itulah gambaran umur dunia yang sangat tua dan menanti saat hari kiamat.

Setibanya di masjid Al-Aqsa, Rasulullah turun daripada Buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan sembahyang dua rakaat dengan segala anbia dan mursalin menjadi makmum.

Rasulullah S.A.W terasa dahaga, lalu dibawa Jibrail dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah S.A.W memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibrail: Baginda membuat pilhan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.
Semasa Mikraj ( Naik ke Hadhratul-Qudus Menemui Allah S.W.T );

Didatangkan Mikraj (tangga) yang indah dari syurga. Rasulullah S.A.W dan Jibrail naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).

Di Langit Pertama: Rasulullah S.A.W dan Jibrail masuk ke langit pertama, lalu berjumpa dengan Nabi Adam a.s. Kemudian dapat melihat orang-orang yang makan riba dan harta anak yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan kelakuan mereka sangat huduh dan buruk. Penzina lelaki bergantung pada susu penzina perempuan.

Di Langit Kedua: Nabi S.A.W dan Jibrail naik tangga langit yang kedua, lalu masuk dan bertemu dengan Nabi Isa A.S. dan Nabi Yahya A.S.

Di Langit Ketiga: Naik langit ketiga. Bertemu dengan Nabi Yusuf A.S.

Di Langit Keempat: Naik tangga langit keempat. Bertemu dengan Nabi Idris A.S.

Di Langit Kelima: Naik tangga langit kelima. Bertemu dengan Nabi Harun A.S. yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israil.

Di Langit Keenam: Naik tangga langit keenam. Bertemu dengan Nabi-Nabi. Seterusnya dengan Nabi Musa A.S. Rasulullah mengangkat kepala (disuruh oleh Jibrail) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai, termasuk 70,000 orang yang masuk syurga tanpa hisab.

Di Langit Ketujuh: Naik tangga langit ketujuh dan masuk langit ketujuh lalu bertemu dengan Nabi Ibrahim Khalilullah yang sedang bersandar di Baitul-Makmur dihadapi oleh beberapa kaumnya. Kepada Rasulullah S.A.W, Nabi Ibrahim A.S. bersabda, “Engkau akan berjumapa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dhaif, maka berdoalah untuk umatmu.

Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH Mengikut riwayat lain, Nabi Ibahim A.S. bersabda, “Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka, syurga itu baik tanahnya, tawar airnya dan tanamannya ialah lima kalimah, iaitu: SUBHANALLAH, WAL-HAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR dan WA LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHIL- ‘ALIYYIL-‘AZHIM. Bagi orang yang membaca setiap kalimah ini akan ditanamkan sepohon pokok dalam syurga”.

Setelah melihat beberpa peristiwa lain yang ajaib. Rasulullah dan Jibrail masuk ke dalam Baitul-Makmur dan bersembahyang (Baitul-Makmur ini betul-betul di atas Baitullah di Mekah).

Di Tangga Kelapan: Di sinilah disebut “al-Kursi” yang berbetulan dengan dahan pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S.A.W menyaksikan pelbagai keajaiban pada pokok itu: Sungai air yang tak berubah, sungai susu, sungai arak dan sungai madu lebah. Buah, daun-daun, batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi permata-permata yang indah. Unggas-unggas emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia. Baginda Rasulullah S.A.W dapat menyaksikan pula sungai Al-Kautsar yang terus masuk ke syurga. Seterusnya baginda masuk ke syurga dan melihat neraka berserta dengan Malik penunggunya.

Di Tangga Kesembilan: Di sini berbetulan dengan pucuk pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S.A.W masuk di dalam nur dan naik ke Mustawa dan Sharirul-Aqlam. Lalu dapat melihat seorang lelaki yang ghaib di dalam nur ‘Arasy, iaitu lelaki di dunia yang lidahnya sering basah berzikir, hatinya tertumpu penuh kepada masjid dan tidak memaki ibu bapanya.

Di Tangga Kesepuluh: Baginda Rasulullah sampai di Hadhratul-Qudus dan Hadhrat Rabbul-Arbab lalu dapat menyaksikan Allah SWT dengan mata kepalanya, lantas sujud. Kemudian berlakulah dialog antara Allah dan Muhammad, Rasul-Nya:

Allah SWT : Ya Muhammad.

Rasulullah : Labbaika.

Allah SWT : Angkatlah kepalamu dan bermohonlah, Kami perkenankan.

Rasulullah : Ya, Rabb. Engkau telah ambil Ibrahim sebagai Khalil dan Engkau berikan dia kerajaan yang besar. Engkau berkata-kata dengan Musa. Engkau berikan Dawud kerajaan yang besar dan dapat melembutkan besi. Engkau kurniakan kerajaan kepada Sulaiman yang tidak Engkau kurniakan kepada sesiapa pun dan memudahkan Sulaiman menguasai jin, manusia, syaitan dan angin. Engkau ajarkan Isa Taurat dan Injil. Dengan izin-Mu, dia dapat menyembuhkan orang buta, orang sufaq dan menghidupkan orang mati. Engkau lindungi dia dan ibunya daripada syaitan.

Allah S.W
.T : Aku ambilmu sebagai kekasih. Aku perkenankanmu sebagai penyampai berita gembira dan amaran kepada umatmu. Aku buka dadamu dan buangkan dosamu. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat. Aku beri keutamaan dan keistimewaan kepadamu pada hari kiamat. Aku kurniakan tujuh ayat (surah Al-Fatihah) yang tidak aku kurniakan kepada sesiapa sebelummu. Aku berikanmu ayat-ayat di akhir surah al-Baqarah sebagai suatu perbendaharaan di bawah ‘Arasy. Aku berikan habuan daripada kelebihan Islam, hijrah, sedekah dan amar makruf dan nahi munkar. Aku kurniakanmu panji-panji Liwa-ul-hamd, maka Adam dan semua yang lainnya di bawah panji-panjimu. Dan Aku fardukan atasmu dan umatmu lima puluh (waktu) sembahyang.

Selesai munajat, Rasulullah S.A.W di bawa menemui Nabi Ibrahim A.S. kemudian Nabi Musa A.S. yang kemudiannya menyuruh Rasulullah S.A.W merayu kepada Allah S.W.T agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu sembahyang itu. Selepas sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan lima waktu), akhirnya Allah perkenan memfardukan sembahyang lima waktu sehari semalam dengan mengekalkan nilainya sebanyak 50 waktu juga.
Selepas Mikraj:

Rasulullah S.A.W turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peristiwa Israk dan Mikraj yang amat ajaib itu (Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rejab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah). Wallahu’alam.

(Sumber : Kitab Jam’ul-Fawaa’id)

Kesimpulannya, Peristiwa Israk dan Mikraj bukan hanya sekadar sebuah kisah sejarah yang diceritakan kembali setiap kali 27 Rejab menjelang. Adalah lebih penting untuk kita menghayati pengajaran di sebalik peristiwa tersebut bagi meneladani perkara yang baik dan menjauhi perkara yang tidak baik. Peristiwa Israk dan Mikraj yang memperlihatkan pelbagai kejadian aneh yang penuh pengajaran seharusnya memberi keinsafan kepada kita agar sentiasa mengingati Allah S.W.T dan takut kepada kekuasaan-Nya.

Seandainya peristiwa dalam Israk dan Mikraj ini dipelajari dan dihayati benar-benar kemungkinan manusia mampu mengelakkan dirinya daripada melakukan berbagai-bagai kejahatan. Kejadian Israk dan Mikraj juga adalah untuk menguji umat Islam (apakah percaya atau tidak dengan peristiwa tersebut). Orang-orang kafir di zaman Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam langsung tidak mempercayai, malahan memperolok-olokkan Nabi sebaik-baik Nabi bercerita kepada mereka.

Peristiwa Israk dan Mikraj itu merupakan ujian dan mukjizat yang membuktikan kudrat atau kekuasaan Allah Subhanahu Wataala. Allah Subhanahu Wataala telah menunjukkan bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran-Nya kepada Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam.

Dengan kita mendengar dan menghayati kisah dan cerita yang berlaku di dalam peristiwa Israk dan Mikraj kita perlu ambil ikhtibar dan yakin bahawa bumi Baitulmaqdis Palestin yang menjadi tempat bermulanya Mikraj Nabi SAW adalah bumi penuh berkah dan terdapat Masjidil Aqsa (kiblat pertama umat Islam)

Baitulmaqdis dan Masjidil Aqsa adalah harta umat Islam yang telah dirampas oleh Zionis Yahudi laknatullah. Umat Islam perlu berusaha, berkorban dan berdoa semoga tempat suci umat Islam ini dapat dipulangkan kembali kepada pangkuan umat Islam. Peristiwa Israk dan Mikraj akan lebih bermakna apabila umat Islam seluruhnya dapat membantu saudara-saudara kita di Palestin dan dapat memulihkan dan menguasai Baitulmaqdis dan menghalau Yahudi la
knatullah daripada menguasai dan membunuh saudara-saudara kita di Palestin.