Rabu, 12 Oktober 2016

Jalan kehambaan

Ciri2 jalan kehambaan

1. Membuang sifat keakuan
2. Hanya tuan di hatinya
3. Tidak menunggu balasan dr tuannya
3. Menyedari dirinya adalah milik mutlak tuannya
4. Tidak menisbahkan sesuatu pun kpd dirinya hatta dirinya. Semua milik tuannya
5. Tidak mengharapkan selain tuannya
6. Sentiasa rasa kurang khidmat kpd tuannya dan berusaha utk berkhidmat lebih mengikut arahan tuannya
7. Tidak memandang khidmatnya itu dr dirinya bahkan dr kemurahan tuannya
8. Bukanlah jalan perlu yg byk ilmu atau amalan, akan ttp byk penyerahan
9. Tidak menunggu pembukaan dr tuannya
10. Tidak bergantung kpd ilmu dan amalan utk menuju Allah, ttp sifat kehambaan itu yg membawanya menuju Allah
11.

Isnin, 10 Oktober 2016

Peristiwa 10 Muharram-

Peristiwa 10 Muharram-

1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah
2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama 6 bulan
4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud
5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa
6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara
7. Penglihatan Nabi Yaakob yang kabur dipulihkkan Allah
8. Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritainya
9. Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam
10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun
11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah
12. Nabi Sulaiman dikurniakan Allah kerajaan yang besar
13. Hari pertama Allah menciptakan alam
14. Hari Pertama Alllah menurunkan rahmat
15. Hari pertama Allah menurnkan hujan
16. Allah menjadikan ‘Arasy
17. Allah menjadikan Luh Mahfuz
18. Allah menjadikan alam
19. Allah menjadikan Malaikat Jibril
20. Nabi Isa diangkat ke langit

Ahad, 9 Oktober 2016

Syeikh Tijani (1150-1230H / 1737-1815)

Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani

Syeikh Ahmad bin Muhammad Al-Hasani lahir pada Hari Kamis, 13 Shafar 1150 H. di Ain Madhi atau disebut juga dengan Madhawi, di Sahara Timur Maroko. Dari keluarga besar/Kabilah Tijan. Kabilah ini banyak melahirkan ulama-ulama dan wali-wali yang shaleh.

Dari garis ayah adalah Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad Salim bin Al ‘id bin Salim bin Ahmad Al-‘Alwani bin Ahmad bin Ali bin Abdulloh bin Al-Abbas bin Abdul Jabbar bin Idris bin Ishaq bin Ali Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad An-Nafsiz Zakiyah bin Abdulloh bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan As-Sibthi bin Ali bin Abi Tholib dan Sayyidah Fatimatuzzahra binti Rasulullah Muhammad SAW.

Dari garis ibu adalah Ahmad binti Sayyidah Aisyah binti Abu Abdillah Muhammad bin As-Sanusi At-Tijani Al-Madhawi.

Keabsahan silsilah ini berdasarkan beberapa keterangan garis keturunannya secara turun temurun. Juga dinyatakan langsung oleh Rasululloh SAW: “Engkau benar-benar anakku (Anta waladi haqqan). Nasabmu melalui Hasan bin Ali adalah shahih.”

Kedua orang tuanya mengasuh dengan didikan beberapa etika sunah, rahasia syari’at dan cahaya kebenaran. Sehingga masa kecilnya sangat terjaga. Beliau pun tumbuh dalam kebesaran akhlak muhammadiyah. Pada umur 7 tahun telah hafal Alqur’an dalam qira’at Imam Nafi’ dengan baik di bawah bimbingan gurunya, Sayid Muhammad bin Hamawi At-Tijani. Seorang guru yang alim dan terkenal keshalehan serta kewaliannya. Al-Hamawi terkenal sebagai pendidik anak-anak di Ain Madhi. Diceritakan bahwa Sayid Muhammad bin Hamawi mimpi bertemu Alloh SWT dan membaca Alqur’an dalam Qira’at Imam Warasy sehingga khatam. Alloh SWT berfirman kepadanya: “Demikianlah Alqur’an diturunkan.”Beliau meninggal pada tahun 1162 H.

Pendidikannya dilanjutkan dengan mempelajari beberapa ilmu yang bermanfaat. Seperti: Ilmu Usul, Furu’ dan Adab. Orang tua Syeikh Ahmad sangat mempercayakan pendidikan masa kecil Syeikh kepada Al-Hamawi. Syeikh banyak mempelajari cabang ilmu dari Al-Hamawi. Dengan kecerdasannya Beliau cepat menguasai beberapa ilmu dengansempurna.

Di samping Al-Hamawi, Syeikh Ahmad menyelesaikan Al-Mukhtasor karya Imam Kholil, Ar-Risalah karya Ibnu Rusyd dan Al-Muqaddimah karya Imam al-Akhdhari dari gurunya yang lain, Sayid Al-Mabruk bin Bu Afiyah At-Tijani.

Tahun 1166 H. kedua orang tuanya meninggal pada hari yang bersamaan,karena penyakit tho-un/lepra yang mewabah. Yaitu ketika Syeikh Ahmadberumur 16 tahun.

Dalam usia yang relatif muda, Syeikh telah menunjukkan kelebihannya dan keluasan ilmunya. Dunia ilmu pendididikan terus dijalaninya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Syeikh tetap aktif dalam membaca ilmu, mengajar, menulis dan memberi fatwa.

Pada tahun 1171 Syeikh mulai memasuki dunia sufi. Dalam salah satu fatwanya Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata: “Dalam nash syara’ hanya diterangkan kewajiban tiap orang untuk memenuhi beberapa hak Alloh secara penuh, lahir dan batin. Tanpa adanya alasan apa pun. Tidak ada alasan apa pun untuknya dari hawa nafsu dan kelemahannya. Dalam syara’ hanya mewajibkan hal tersebut dan mengharamkan lainnya. Karena adanya siksa. Tidak ada kewajiban mencari guru selain guru ta’lim yang mengajarkan tata cara perkara syara’ yang dituntut untuk dilaksanakan seorang hamba. Baik berupa perintah yang harus dikerjakan dan larangan yang harus ditinggalkan. Tiap orang bodoh harus mencari guru ini. Tidak ada keluasan atau alasan meninggalkannya. Ada pun guru-guru lainnya setelah guru ta’lim tidak ada kewajiban mencarinya menurut syara’. Akan tetapi wajib mencarinya dari sisi nadhar. Seperti halnya orang yang sakit dan kehilangan kesehatannya. Apabila dia keluar untuk mencari kesembuhannya, maka mencarinya adalah wajib. Kami katakan wajib mencari dokter yang ahli dalam mendiagnosa penyakit, asalnya, obatnya, cara memperolehnya.

Jawaban Syeikh ini memberikan kejelasan dalam masalah pencarian guru. Karena sebagian ulama telah mengatakan bahwa meninggalkan pencarian terhadap guru tarbiyah dianggap maksiat.

Dari sini dapat diketahui bahwa masuknya Syeikh dalam dunia sufi tidak dikarenakan mengikuti kebanyakan manusia yang dilakukan zaman sekarang. Mereka memasuki sebuah jalan tujuan, tanpa adanya pertimbangan berdasarkan pengetahuan tentang sesuatu yang sedang mereka masuki. Mereka memasuki jalan tidak lebih karena anggapan sebagian orang yang menilainya dengan keindahan luarnya belaka. Syeikh memasuki dunia sufi berdasarkan pemikiran dan pengetahuan pada sesuatu yang dikehendakinya dan memantapkannya. Sebagai bukti seorang murid (pencari kebenaran) yang shadiq. Murid yang mengetahui keagungan Rububiyah dan hak-hak Ilahiyah. Mengetahui bagian yang ada dalam dirinya, berupa kelemahan, kemalasan, menyukai kenikmatan, dan meninggalkan amal shaleh. Di mana jika keadaan itu terus ada dalam dirinya akan menyebabkannya tidak dapat memperoleh puncak tujuan dunia-akhirat. Itu pun dilakukan setelah menguasai cabanng-cabang ilmu. Pengetahuannya membawa dirinya untuk segera kembali dengan tekad, semangat dan kemantapan; mencari seorang yang dapat membuka belenggu syahwatnya dan menunjukkannya kepada jalan untuk sampai ke hadapan Robnya.Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata: “Ini adalah ciri murid shadiq (pencari kebenaran sejati). Adapun lainnya hanya murid thalib atau pencari biasa. Terkadang dia dapat mendapatkan hasil. Terkadang tidak mendapatkan apa-apa.”

Oleh karenanya sebagian ulama mengatakan bahwa setiap orang yang awalnya kokoh, maka akhirnya akan sempurna.

Menginjak usia 21 tahun Syeikh melakukan berbagai kunjungan ke beberapa daerah di Fas. Melakukan banyak diskusi dengan beberapa ahli kebaikan, agama, rehabilitasi jiwa, dan penemu kebahagian hakiki.

Lawatan itu mengantarkannya ke Gunung Zabib dan bertemu dengan seorang wali kasyaf yang memberikan isyarat agar kembali ke negeri atau daerahnya, yaitu Ain Madhi. Wali tersebut memeberitahukan akhir kedudukan yang akan dicapainya. Tanpa harus menetap di daerah lain. Kemudian Syeikh segera kembali ke daerahya.

Orang yang paling banyak mewarnai corak kehidupan Syeikh adalah Sayid Abdul Qadir bin Muhammad. Seorang kutub yang tinggal di ‘negeri putih’ (Baladul Abyadh) Shahara Dzar. Daerah ini agaknya tidak jauh di Ain Madhi. Karena di sela-sela pengabdiannya, Syeikh sering pulang ke rumahnya. Syeikh menetap di Zawiyahnya 5 tahun untuk menuntut ilmu, mengajar dan beribadah. Selanjutnya Syeikh tetap tinggal di Ain Madhi sesuai dengan petunjuk wali kasyaf di Gunung Zabib.

Di antara beberapa guru yang ditemui Syeikh dalam perjalanan ke Fas dan sekitarnya adalah wali kutub yang terkenal, Maulana Ahmad As-Shaqali Al-Idrisiyah, salah seorang ternama dalam Thariqat Khalwatiyah di Fas. Dalam pertemuannya ini As-shaqali tidak banyak melakukan pembahasan. Syeikh pun tidak mengambil apa pun darinya.

Kemudian Syeikh bertemu dengan Sayid Muhammad bin Hasan Al-Wanjali. Salah seorang wali kasyf di sekitar Gunung Zabib. Ketika bertemu, sebelum mengucapkan apa pun, Al-Wanjali berkata kepada Syeikh Ahmad Attijani:

“Dirimu pasti akan menemukan kedudukan al-quthbul kabir Maulana Abil Hasan.”

Agaknya Al-Wanjali merupakan salah seorang tokoh dari Thariqat Syadziliyah. Karena isyarat yang diberikan olehnya menunjukkan bahwa Syeikh akan mencapai kedudukan Abil Hasan Asy-Syadzili. Menurut Al-Wanjali perjalanan yang telah ditempuh oleh Syeikh dari daerahnya (Ain Madhi) sampai ke Fas Al-Idrisiyah dan beberapa daerah Maghribi lainnya untuk mencari seseorang yang dapat mengantarkannya kepada Makrifat Billah adalah bukti kehendaknya untuk mencapai keinginan tersebut. Al-Wanjali banyak menyingkap rahasia yang tersimpan dalam diri Syeikh dan memberitahukan kedudukan yang akan diperolehnya. Meskipun tidak mengambil wirid dari Al-Wanjali, akan tetapi penyingkapan yang telah disampaikannya memiliki andil dalam memperkuat cita-cita Syeikh. Sehingga akhirnya semua itu menjadi kenyataan. Al-Wanjali meninggal sekitar tahun 1185 H.

Wali Kutub lain yang ditemui Syeikh adalah Maulana At-Thayib bin Muhammad bin Abdillah bin Ibrahim Al-Yamlahi. Sejarah hidup keluarganya sangat terkenal dan banyak ditulis oleh para pengikutnya sebagai orang besar di Fas. Legenda keluarganya secara beberapa generasi telah memperoleh kedudukan kutub. Maulana At-Thayib mewarisi kekhilafahan para pendahulunya dalam memberikan petunjuk kepada manusia di jalan Alloh dan kesempurnaan makrifatnya. Ia menjadi khalifah menggantikan saudaranya Maulana At-Tihami yang menggantikan Sayid Muhammad yang menggantikan Maulana Abdulloh. Diceritakan bahwa Maulana Abdulloh (w. th. 1089 H.), kakek At-Thayib adalah orang pertama yang menetap di Wazin. Agaknya keluarga At-Thayib secara turun-temurun memegang Thariqat Jazuliyah. Hal ini terbukti bahwa kakeknya telah berkhidmah kepadaAhmad bin Ali Ash-Sharsori, salah seorang tokoh Thariqat Jazuliyah.Ciri pokok tarekat ini adalah dengan memperbanyak shalawat. Ayah At-Thoyib, Sayid Muhammad yang juga mencapai kedudukan kutub mengatakan: “Seseorang tidak akan memperoleh derajat tertinggi, melainkan dengan banyak membaca shalawat kepada Nabi SAW.” Sayid Muhammad meninggal pada Malam Jum’at, tanggal 29 Muharam 1120 H.

Dalam pertemuannya dengan Ath-Thayib Syeikh mengambil wirid darinya. Bahkan dalam ijazahnya, At-Thayib telah memberikan izin kepada Syeikh untuk memberikan talkin pada orang yang hendak mengambil wiridnya. Akan tetapi Syeikh menolak hak talkin tersebut karena pada saat itu masih mempunyai cita-cita sendiri dan belum berminat untuk memegang salah satu jenisnya. Di sini Syeikh menunjukkan ketinggian cita-citanya berdasarkan asal fitrahnya. Di samping itu Syeikh belum mengetahui akhir kedudukannya pada waktu tersebut. At-Thayib adalah salah satu guru yang diakui oleh Syeikh pada awal perjalannya. Beliau wafat pada Hari Ahad, Bulan Rabiuts Tsani, tahun 1181 H.

Selanjutnya, Syeikh bertemu dengan Sayid Abdulloh bin Al-Arabi bin Ahmad bin Muhammad bin Abdulloh Al-Andalusi di Fas. Thariqatnya bercorak Isyrak (konsep cahaya). Pertemuan ini banyak memperbincangkan beberapa masalah. Meskipun tidak mengambil sesuatu darinya, Al-Arabi memberikan doa yang sangat berarti dalam perjalanan Syeikh selanjutnya. Al-Arabi mendoakan kebaikan dunia dan akhirat dan pada akhir perjumpaannya berkata:

“Alloh akan menuntun tanganmu (menolongmu). “Alloh akan menuntun tanganmu (menolongmu). “Alloh akan menuntun tanganmu(menolongmu).”

Al-Arabi wafat pada tahun 1188 H.

Syeikh juga pernah mengambil Thariqat Qadiriyahnya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani di Fas dari seseorang yang mempunyai izin untuk mentalkinkannya. Hanya saja kemudian ditinggalkan.

Thariqat lainnya yang pernah diambil oleh Syeikh adalah Thariqat Nashiriyah dari Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah An-Nazani. Tidak berapa lama thariqat ini pun ditinggalkan. KemudianThariqat Sayid Muhammad Al-Habib bin Muhammad, seorang kutub yang masyhur dengan Al-Ghamari As-sijlimasi Ash-Shadiqi (w. th. 1165 H.) melalui orang yang telah mendapatkan izin. Thariqat ini pun ditinggalkan.

Selanjutnya Syeikh mengambil ijazah dari Tokoh Malamatiyah, Sayid Abul Abbas Ahmad Ath-Thawas di Tazah. Ath-Thawas mengajarkan salah satu isim (nama ilahi) kepadanya dan berkata:

“Tetaplah khalwat, menyendiri dan dzikir. Sabarlah, sehingga Alloh memberikan futuh kepadamu. Sesungguhnya dirimu akan memperoleh kedudukan yang agung.”

Perkataan At-Thawas agaknya tidak ditanggapi oleh Syeikh Ahmad Tijani, sehingga ia mengulangi perkataannya:

“Tetapkanlah dzikir ini dan abadikan, tanpa harus kholwah dan meyendiri. Maka Alloh akan memberikan futuh kepadamu atas keadaan tersebut.”

Perkataan At-Thawas yang kedua ini tidak banyak dikutip. Justeru perkataan pertama yang banyak ditulis. Padahal perkataan yang kedualah yang menunjukkan pokok dasar pemikiran Syeikh At-Tijani yang kemudian menjadi ciri utama Thariqatnya. Di samping itu, Ath-Thawas juga memberikan isyarat dari kedudukan yang akan diperoleh Syeikh. Beliau melakukan dzikir tersebut tidak lama, kemudian meninggalkannya. At-Thawas meninggal pada tanggal 18 Jumadil Ula 1204 H di Tazah.

Dalam proses pencarian ini, Syeikh banyak mengetahui beberapa aliran Thariqat dan mengamalkannya. Meskipun kemudian tidak diteruskan. Karena adanya Inayah Robbaniyah untuk menolaknya dan tidak mengambilnya. Kecuali dari Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sebagai kekhasan seorang yang mempunyai cita-cita tinggi.

Sebagaimana telah diterangkan terdahulu, bahwa setelah melakukan lawatannya ke Fas, Syeikh menetap di Zawiyahnya Sayid Abdul Qadir bin Muhammad di Shahara Dzar, tidak jauh dari Ain Madhi. Sebagaimana petunjuk yang diperoleh sebelumnya. Bahwa futuhnya akan diperoleh di sana.

Syeikh memasuki Tunisia pada tahun 1180 H. Di daerah Azwawi, Al-Jazair Syeikh menemui seorang guru besar yang arif, Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Abdurrohman Al-Azhari. Syeikh mengambil Thariqat Khalwatiyah darinya. Al-Azhari meninggal pada permulaan Muharam tahun 1180 H.

Selanjutnya Syeikh menuju ke Tilmisan pada tahun 1181 dan menetap di sana. Syeikh mengabdikan dirinya dengan ibadah dan membaca ilmu. Terlebih Ilmu Hadits dan Tafsir. Syeikh terus-menerus melakukan taqarrub dengan bertawajjuh pada keagungan rububiyah dengan menyatakan ke-shidiq-an ubudiyahnya. Memberikan kemanfaatan kepada manusia dengan keluasan ilmunya. Sehingga mulai terlihat kefutuhan yang membuka beberapa hijab yang menghalangai antara seorang hamba dan Alqudus (Alloh). Syeikh menyatakaan hijab yang tersingkap adalah 165.000 hijab. Maka batinnya dipenuhi oleh cahaya Tauhid dan Irfan.

Setelah memperoleh banyak penyingkapan di Tilmisan Syeikh pergi melaksanakan haji dan ziarah kepada Nabi Muhammad SAW. Syeikh berangkat dari Tilmisan pada tahun 1186 H.

Dalam perjalanannya Syeikh berhenti di Tunisia dan menetap di Susah, selama setahun. Syeikh berjumpa dan bersahabat baik dengan seorang wali yang terkenal, Sayid Abdus Shamad Ar-Rahawi, salah seorang dari 4 murid wali kutub negeri tersebut. Wali kutub itu sendiri tidak dapat ditemui oleh siapa pun, kecuali seorang di antara 4 orang muridnya. Pertemuan tersebut hanya dilakukan pada malam hari, khususnya Malam Jum’at dan Senin. Hal itu disebabkan untuk menutupi kedudukannya. Syeikh meminta supaya Sayid Abdus Shamad berkenan mempertemukan dan mengenalkannya.Yang pada akhirnya Beliau pun dapat berjumpa dengannya.

Thariqat Tijaniyah adalah Thariqat yang dikembangkan oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad. Mengambil dari nama kabilahnya. Thariqat ini juga masyhur dengan nama Thariqat Al-Muhammadiyah. Thariqat ini diterima langsung dari Rasululloh SAW dalam keadaan jaga. Bukan dalam keadaan tidur.

Memang sebelum mendapatkan ijazah langsung dari Rasululloh SAW, Syeikh Ahmad pernah mengambil beberapa jalur Thariqat dari beberapa Syeikh lain. Seperti Thariqat Khalwatiyah dari Abi Abdillah bin Abdur Rahman Al-Azhari.

Pada usia 46 tahun (tahun 1196 H.), Beliau dianugerahi berjumpa dengan Rasululloh SAW dalam keadaan Yaqdhah (terjaga). Dan sejak saat itu Rasululloh SAW selalu mendampinginya dan tidak pernah hilang dari pandangannya. Keadaan inilah yang disebut dengan Al-Fathul Akbar(terbukanya tirai yang menghalangi antara seseorang dan Rasululloh). Rasululloh SAW selalu membimbing Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani dan memerintahkan kepada Syeikh untuk meninggalkan sandaran kepada guru-gurunya. Karena gurunya sekarang adalah Rasululloh SAW secara langsung. Sehingga Beliau selalu berkata dengan menyandarkannya kepada Rasululloh SAW.

Ketika itu, Rasululloh SAW mentalkin (mengajarkan) dzikir/wirid berupa Istighfar dan Shalawat. Masing-masing dibaca 100 kali. Pengajaran dzikir ini disempurnakan oleh Rasululloh SAW pada tahun 1200 H. dengan tambahan Hailalah 100 kali. Dzikir inilah yang diperintahkan oleh Rasululloh SAW untuk disebarluaskan dan diajarkan kepada seluruh umat manusia dan jin.

Ketika Syeikh Ahmad bin Muhammad berusia 50 tahun. Pada Bulan Muharam, tahun 1214 H Syeikh Ahmad bin Muhammad telah sampai pada martabat Al-Quthub AL-Kamil, Al-Quthbul Al-Jami’ dan Al-Quthbul Udzhma. Pengukuhan ini dilakukan di Padang Arafah, Makah Al-Mukaramah.

Pada tahun yang sama, hari ke-18 Bulan Shafar, Beliau dianugerahi sebagai Al-Khatmu Al-Auliya Al-Maktum (Penutup para wali yang tersembunyi). Hari inilah yang kemudian diperingati oleh Jamaah, Ikhwan, dan para muhibbin Thariqat Tijaniyah sebagai Idul Khatmi. Beliau meninggal di Faz, Maroko, tahun 1230 H.

Isnin, 3 Oktober 2016

Kenyataan PERTAMA

*Kenyataan daripada PERTAMA bersangkut paut dengan Tarekat Tijani*

Pertubuhan Tarekat Muktabar Malaysia (PERTAMA) terpanggil untuk mengeluarkan kenyataan ini sebagai respon pihak-pihak tertentu yang memburuk-burukkan tarekat secara amnya dan Tarekat Tijani khasnya.

1. Adalah diingatkan wujud perbezaan antara pengamal dan ajaran seperti wujud perbezaan akan kelakuan seorang islam dengan islam itu sendiri. Adalah satu kesalahan besar untuk menghukum mana-mana tarekat hanya kerana perbuatan sekumpulan pengamal.

2. Semua hal-hal agama adalah bidang kuasa Duli-duli Tuanku dan adab mengatakan jika mana-mana ilmuan tidak setuju dengan apa jua keputusan atau pegangan mana-mana majlis ia sepatutnya berbincang terus dengan negeri berkenaan. Tarekat Tijani setahu kami hanya difatwakan sesat di Kelantan atas sebab pengamalan satu kumpulan di Kelantan. Sukacita diutarakan ajaran yang paling banyak mempunyai fatwa kesesatan di Malaysia adalah ajaran Wahabiyah.

3. Tarekat Tijani adalah satu tarekat yang muktabar dan disahkan muktabar oleh Ijma Ulama Tasawuf Tarekat seluruh dunia. Seperti biasa kumpulan yang melihat kecacatan dan penyelewengan dalam tarekat ini dan banyak tarekat-tarekat lain terdiri daripada mereka-mereka yang berfahaman Salafi Wahabiyah. Harus diingatkan golongan Salafi Wahabiyah adalah golongan minority (kira-kira 4% daripada populasi Islam sedunia) dan bukan pendapat kebanyakan ulama.

4. Pertubuhan Tarekat Muktabar Malaysia menyeru pada semua supaya menjaga adab ilmu, mereka-mereka yang tidak mempunyai ilmu dalam satu-satu bidang adalah dinasihati untuk berdiam diri. Di Malaysia kita mempunyai pakar-pakar dalam bidang tarekat tasawuf dan mereka sentiasa mengawasi keadaan dan jika ada mana-mana yang menyeleweng jabatan-jabatan agama akan dimaklumkan.

Datuk Haji As'ari Bin Ibrahim
Yang Dipertua Pertubuhan Tarekat Muktabar Malaysia (PERTAMA)
4 Oktober 2016

Zikir meningkatkan imun

*Zikir meningkatkan sistem imun badan*

_Siti Nur Asiyah, Program Pengajian Psikologi, IAIN Sunan Ampel, Surabaya_
_Suharto Taat Putra, Jabatan Anatomik Patologi, Airlangga University, Surabaya_
_Kuntoro, Jabatan Biostatik dan Populasi, Airlangga University, Surabaya_

Penyertaan orang awam dalam majlis zikir boleh menghasilkan sistem imun menjadi lebih baik. Namun begitu, perkara yang menyebabkan sistem imunisasi meningkat masih belum dapat dikenal pasti. Pendekatan agama dalam proses rawatan harus diberi perhatian selain dari terapi lain. Perjanjian WHO (1984) telah menambah elemen rohani di dalamnya sewaktu penambahbaikan. Oleh itu, sihat bukan hanya dari segi fizikal, psikologi dan sosial tetapi juga dari segi rohani. Oleh itu, untuk mewujudkan masyarakat yang sihat, ahli profesional sahaja tidak mencukupi. Peranan ulama tidak boleh diabaikan, terutamanya dalam pembentukan masyarakat yang sihat dari segi rohani.

Beberapa kajian telah dijalankan dan hasil dari eksperimen tersebut menunjukkan bahawa individu yang kuat agama lebih baik dalam menahan sakit dan mempunyai proses penyembuhan yang lebih cepat. Satu kajian telah dijalankan ke atas wanita  kacukan Afrika-Amerika yang menghidap HIV dan mendapati bahawa terdapat hubungan yang ketara antara keagamaan dengan emosi dan sistem imun (Wood,1999). Sholeh (2003) juga turut menyatakan bahawa solat tahjjud secara berterusan dan dilakukan dengan khusyu’ dapat membantu meningkatkan sistem imun. Terdapat banyak kajian yang sama telah diterbitkan dalam jurnal perubatan, hasilnya mendapati bahawa terdapat korelasi antara aktiviti kerohanian atau aktiviti keagamaan dengan sistem imunisasi.

Jika dilihat dari perspektif kesihatan mental, solat dan zikir mempunyai kekuatan psikoterapuetik yang tinggi. Terapi psychoreligious dengan solat dan zikir mempunyai kekuatan rohani yang meningkatkan rasa optimis dan keyakinan diri. Kedua-dua syarat psikologi ini sangat penting dalam penyembuhan penyakit di samping  ubat-ubatan dan prosedur-prosedur lain (Hawari, 2005). Selain itu, solat dan zikir juga membantu untuk mencegah kejutan mental dan gangguan psikiatrik. Ia membantu dalam proses pembangunan dan penambahbaikkan kehidupan. Kesimpulannya, zikir dan solat mempunyai funsi kuratif, pencegahan dan pembangunan kesihatan (Purwanto, 2007).

Mekanisme daya tahan badan dapat dilihat dengan lebih jelas dan terperinci melalui pendekatan psikoneuroimunologi yang menerangkan interaksi antara faktor psikologikal dan faktor fizikal (Ward, 2007). Psikoneuroimunologi menerangkan hubungan antara faktor psikososial, sistem saraf dan sistem imunisasi. Tekanan dari psikososial akan menyerang lima deria pancaindera dan deria sistem saraf. Ianya akan menyerang saraf dalam otak dan sistem limbik melalui neurotransmitter. Tambahan pula, rangsangan psikososial yang bertindak melalui sistem saraf autonomi  dan akan terus ke kelenjar hormon (endokrin) yang berkaitan dengan sistem imun (Hawari, 2005).

Konsep psikoneuroimunologi bukanlah penyatuan dari ketiga-tiga perkataan psikologi, neuro dan imunisasi, tetapi ia adalah tiga disiplin yang saling melengkapi lalu  menjadikan pusat sistem saraf sebagai pusat serangan. Berdasarkan perkara tersebut, rangsangan dari pusat sistem saraf yang akan merembeskan neurohormon akan menyebabkan perubahan aktiviti sel-sel di dalam badan. Baru-baru ini, terdapat kajian yang mendedahkan bahawa terdapat protein tertentu yang berfungsi sebagai pengukur tekanan bagi fizikal dan juga psikologi yang dikenali sebagai protein kejutan haba (HSP 72). HSP 72 terdapat di dalam peredaran darah dan boleh menyumbang kepada pembentukan tindak balas imunisasi.

Vilyanur Ramachandran menerangkan bahawa terdapat bahagian dari otak yang akan bertindak balas dengan kerohanian manusia serta perkara-perkara mistik. Ia dipanggil God Spot dan terletak di cuping temporal. Solat dan zikir ini perlu dibaca dengan khusyu’ untuk mencapai tumpuan yang sempurna dalam keadaan santai, fokus dan penuh tumpuan (Purwanto, 2007).

Proses pembelajaran menjadikan fikiran yang terbiar untuk mencerna semua informasi yang datang melalui deria.  Keadaan ini boleh dikategorikan sebagai tekanan psikologi yang menjadi bukti peningkatan kadar eHSP 72 yang ketara dalam kesemua tiga pemerhatian yang mana, peserta masih belum mencapai tahap rehat dan ketenangan yang sempurna dek kerana peserta masih dalam proses pembelajaran.  Di dalam proses belajar ini, kemungkinan terdapat perkara-perkara yang mengganggu tumpuan, antaranya minda masih mencari siapa diri, pergolakkan emosi yang tinggi, minda teganggu kerana lemah semangat , minda mempunyai terlalu banyak masalah, masih belum dapat merasai ibadah dan hanya melakukan ibadah semata-mata kerana takutkan dosa (Hakim, 2002).

Tambahan pula, solat dan zikir dilakukan selama 90 minit untuk permulaan juga menjadi tekanan yang boleh menyebabkan tekanan psikologi. Ketegangan fizik mungkin berlaku kerana solat dan zikir yang dilakukan dalam masa yang panjang dengan peraturan yang ditetapkan oleh Majlis Zikir. Keadaan psikologi seperti ini boleh bertindak balas  dengan hipotalamus. Hipotalamus mempunyai peranan penting dalam mengawal emosi dan bertindak balas dengan tekanan, yang menjadikan hipotalamus sebagai “pusat tekanan” yang memberikan peranan tertentu dalam menggerakkan badan untuk bertindak balas terhadap tekanan. Berdasarkan kes ini, hipotalamus mengawal pituitari untuk menghasilkan beberapa hormon. Kawalan ini adalah sangat penting untuk menggerakkan satu proses fisiologi yang berusaha untuk bertindak balas untuk melawan atau terbang (Atkinson et al.,no year).

Hasil dari kajian ini mendapati terdapat peningkatan kadar darah oleh eHSP 72 selepas 24 jam dari perlaksanaan zikir. Perkara yang sama terjadi apabila ujian eHSP 72 diulang selepas 24 jam dari perlaksanaan zikir pada minggu kedua. Ini merupakan bukti secara statistikal menggunakan ukuran ulangan yang memberi angka signifikan 0.006 (p<0.05) yang bermaksud terdapat peningkatan ketara kadar eHSP 72 dalam peserta-peserta yang menghadiri Majlis Zikir (Johnson dan Fleshner 2005).

Berbalik kepada hasil penyelidikan dan perbincangan sebelum ini, dapat disimpulkan bahawa aktiviti zikir di dalam Majlis Zikir yang dilakukan secara berterusan, teratur dan mempunyai sasaran, dengan kekerapan sekali seminggu selama 120 minit setiap kali majlis, boleh meningkatkan kadar HSP 72 dalam edaran (eHSP). Oleh itu, aktiviti zikir dalam Majlis Zikir dapat diterangkan secara saintifik menggunakan pendekatan psikoneuroimmunologi melalui medula (sumsum belakang) hipotalamik-simpatetik-adrenal boleh membawa kepada peningkatan HSP 72 dan berpotensi meningkatkan sistem imunisasi. Kesimpulannya, apabila aktiviti zikir dalam Majlis Zikir dijalankan secara berterusan, teratur dan mempunyai sasaran, maka ia akan bertindak sebagai immunomodulator yang murah, mudah dan berharga.

Nyata sekali , benar sungguh yang majlis zikirullah adalah satu taman surga di dunia.

Rabu, 28 September 2016

Biografi Sayyidi

Biografi syarif Ahmad AlHadi alhasani Almaghribi attijany

Beliau dilahirkan di bumi Tunisia, pada tarikh 4 Muharram 1395 hijrah bersamaan 16 januari 1975 masihi..

Nasab keturunan beliau daripada kabilah Sibaiah Az-Zahabiah, daripada keturunan besar Maulai Idris yang masyhur di bumi maghrib(morocco) dan beliau adalah  berketurunan daripada Sayidina  Alhasan.
Beliau telah mendapat  pujian daripada kebanyakan daripada beberapa wali Qutub dan wali-wali …

-pujian-pujian tersebut terarah kepada kesahihan nasab beliau dan pertambatan hubungannya(sanad toriqah dan pengajiannya) dengan hadrah kenabian, sama ada pada zahir atau pada batin

-dan pertemuan itu berlaku ketika mana beliau dalam pengembaraan.. (mencari ilmu daripada rijaal/wali Allah)…

-beliau menghabiskan permulaan kehidupannya seperti kehidupan kebanyakan masyarakat setempat..,sehinggalah datang secara tiba-tiba ahwal llahi dan jazbah rabbani yang  membawanya kepada perjalanan AhliLLah,dan bukanlah dengan usahanya.., (ketika itu umur beliau dalam lingkungan dua puluhan) 

-beliau dijemput  (secara barzakhi ) oleh Qutubul-Maktum, Khotmul-Auliya Al-Muhammadi  dalam menjalani perjalanan AhliLLah ,dan diserapkan dengan hadrah-hadrahnya yang suci dan ilmu-ilmu hakikat….

-Pada permulaannya, beliau menerima toriqah Tijaniah al-Aliyah daripada Asy-Syarif  Al-Wasil Sayidi Habib bin Hamid At-Tunisi..
-dan beliau juga menerima pelbagai sanad toriqah Tijani …

kemudian beliau terus mengembara jauh berpandukan kepada gerak hatinya  berserta tawakkal kepada Allah SWT ….

-Pada pertemuan beliau dengan wali-wali qutub dan lainnya, beliau telah di beritahu dengan  perkara-perkara  yang amat menyenangkan serta menyatakan secara kasyaf keadaan diri beliau ,dan perkara tersebut, sukar untuk ditutur dengan kata-kata..

-Tetapi,sentiasalah diri beliau jadi tumpuan adalah kerana  ter-arah kepada sanad toriqahnya yang muktabar,yaitu sanad toriqah yang menjadi pegangan tetap beliau, sama ada dari segi feqah toriqah atau dari segi Zauqi,

-yaitu sanad Al-Ba’qili,sanad yang melalui susur jalur kepada Mujaddid millah wa-ddin,Qutbaniayatul-Uzma, Sayidii Ahsan Al-Ba’qili Al-Hasani Al-Maghribi,
-sanad yang dipernamakan disisi ahli sanad,dengan sanad Az-ZAHABIAH (emas) secara umumnya,
-dan juga dipernamakan dengan sanad-QUTBANIAH (sanad wali-wali qutub) secara khususnya…

beliau juga menerima ijazah secara mutlak daripada Sayidi Abdul Aziz Al-Ba’qili,anak kepada Sayidi Ahsan  AlBa’qili,beliau adalah seorang Qutub Al-kamil Al-Mulamati ,pewaris sir-sir ayah dan abang beliau(Sayidi Muhammad Al-Habib)…

dalam majlis peng-ijazahan toriqah,beliau (Sayidi Abdul-Aziz Al-Ba’qili), telah menuturkan katanya kepada pengarang,dengan katanya :

“Aku  telah memberi izin kepada kamu sepertimana Rasulullah SAW  ,Syeikh Tijani RA  dan abangku  memberi izin padaku…,
-dan aku juga memberi izin kepada kamu dalam mentashihkan Toriqah Tijani daripada segala kesalahan….”

-Di dalam pengembaraan, beliau telah bertemu dengan Qutub Sayidi Mukhtar Asy-Syinqiti di padang sahara maghrib,Qutub tersebut dikenali akannya dengan nama Sayid Dahah (دَهَاهْ) masyhur dikalangan orang arab dan lainnya dan Qutub tersebut telah berkata kepadanya (dengan lisan izin llahi):

“ Pergilah ke tempat mana yang engkau suka,sesungguhnya engkau akan dibantu,dikasihi dan diterima ”

Dan di dalam pengembaraan beliau,beliau telah bertemu dengan seorang lelaki yang berumur,yaitu  Qutub Maulai Tuhami(مَوْلاَيَ التُّهَامِيُّ)Al-Wazzani Al-Idrisi di maqam Sayidi Arabi As-Saaihi,Qutub tersebut berumur sekitar 130-136 tahun ..

Pengarang tersebut telah menyatakan kepada kami bahawa Qutub tersebut telah menyambut kedatangannya di maqam tersebut adalah dengan melalui arahan daripada Rasulullah SAW  dan Syeikh Tijani RA   (berlaku secara jaga).

Kemudian setelah beliau mengembara dari  sudan (barat) ke bumi Maghribi dan setelah menziarahi Maqam Syeikh Tijani  RA  yang mulia di bumi Fes,datang pula isyarat kepadanya dan juga arahan supaya menjejakkan  kakinya ke bumi jawa(Malaysia) untuk mengembangkan  toriqah Tijani di kalangan masyarakatnya….

Sebahagian daripada kelebihan diri beliau :

-Beliau mempunyai zauqi yang khas dalam toriqah Tijani,dan beliau juga mempunyai keperibadian yang disukai , berperwatakan tenang, akhlak dan sifat semulajadi  yang baik

Barangsiapa yang melihat keterampilan dirinya,nescaya akan mengingatkan beliau kepada orang-orang terdahulu yang disenangi oleh masyarakat mereka

-beliau amat menyayangi umat Nabi Muhammad SAW,dengan ketiadaan membezakan mana-mana kumpulan,kerana mewarisi daripada sifat gurunya dan guru besar beliau yaitu Sayidi Ahsan Al-Ba’qili

-dan keadaan dirinya juga dikuasai oleh semangat ahwal Al-Mulamati,dan berpengetahuan dalam bidang Khotmiah dan Katmiah,dan setiap orang besar toriqah yang  bertemu dengannya, akan  merasa hairan dengan sesuatu yang ada pada dirinya dan keadaannya… 

-barangsiapa yang mendengar penjelasan irfaniah,keterangan2 zauqi daripada lautan Hakikat Muhammadiah dan Ahmadiah  yang dihuraikannya nescaya akan merasa kagum dengan huraian demi huraian yang di pertuturkan oleh lisannya seperti :

1-kunhil-Haahuti (كُنْهُ الهَاهُوتِيُّ )

2-hadratul-a’ma’ ( حضْرة العمَاءِ  )

3-tanaazul A’ma Al-Haahuti (التَنَزُّلِ العَمَائِيِّ الهاهُوتِيِّ)dan sehingga ke martabat Uluhiyah

4-ismul-A’zom Zohir

5- ismul-A’zom batin

6-tajalliyat-kunhi dalam cermin Hakikat Muhammadiah

7- rahsia antara huruf Ha’ Alhuwiyah dan wau Al-wujud(هَاءِ الهُوِيَّةِ وَوَاوِ الوُجودِ)

8-tanaazul yang empat

9-jauhar fird(الجَوهَرِ الفَرْدِ)

10-wehdah syuhud

11-martabat Tanaazul Ahmadiah

12-aliif-Ahmadiah

13-Mim-Muhammadiah

14-hakikat-Tiiniyah(tanah)

15-hakikat Iblisiah

16-syajarah-Muhammadiah(pokok Muhammad)

17-lautan nafsu yang tujuh

18-Nafsu Kamilah

19-nafsu Mukammilah

20-rahsia nafsu Mukammilah

Masalah Khotmiah(khotmul Auliya’ Al-Muhammadi)

21-masalah katmiah Ahmadiah

22-hakikat maaiyah Al-Muhammadi(air Zam-zam)

23-hakikat Ahmadiah makkiyah

24-hakikat Muhammad Al-madaniyah

25-hakikat Al-Mahmiyat Al-Muhammadi

26-akal-Kulli

27-Ruh-Kulli

28-Nafsu-Kulli

29-Insan-Kaamil

30-Maddatul-Wujud

Dan lain2…

….Dan sebagai makluman untuk saudara sekalian ,pada masa ini, kebanyakan orang sudah tidak mampu untuk mengusai ilmu-ilmu hakikat dan makrifat seperti mana yang diperolehi beliau ,itulah kelebihan diri beliau…

Dengar dan perhatikan sendiri kepada ibarat,isyarat, dan istilah yang dituturkannya pada zaman kita ini….selalunya kita terdengar akan perkataan :

“telah berkata ahli-ahli hakikat ” atau “telah berkata orang A’rif ”

Barangsiapa yang sentiasa bersamanya,nescaya ia mengetahui dengan yakin sekali dengan kelebihan dan limpahan faidh  yang ada pada dirinya..

Dan juga akan kedengaran : “ daripada manakah dia belajar ? atau  “ ini sesuatu yang baru  ”

Sesungguhnya limpahan-limpahan yang sampai padanya adalah melalui Syeikh beliau, yaitu Syeikh TIJANI RA 

Sekarang ini ,kita sungguh bertuah kerana dia berada di kalangan masyarakat kita ,di Malaysia ini

kita pohon doa kepada Allah SWT,dan  moga-moga dengan berkat Syeikh Tijani RA, kita semua diberkati oleh Allah SWT melalui beliau ,dan ditambahkan lagi limpahan Syeikh Tijani RA  atas diri beliau..

Moga-moga dia dapat memberi manfaat kepada sekelian muslimin,  dan moga-moga Allah SWT tidak menjauhkan kita daripada dapat berjumpa dengan beliau untuk mendengar kemanisan ungkapan demi ungkapan dan perbahasan demi perbahasan  ditutur olehnya..Amiin ….

Dengan berkat Sayidina Al-Hasan dan Al-Husain….moga Allah SWT menutup keaiban diri beliau di dunia dan di akhirat,

وصلّى الله وعظَّم ومجَّد وشرَّف وبارك على سَيِّد الوُجُود وعَلَمِ الشُّهُودِ سيِّدنا ومولانا محمّدٍ بَحْرِ الكَرَمِ والجُودِ وعلى آله وصحْبه وسلَّم تسليما
والحمد لله ربِّ العالَمين

HAKIKAT TARIKAT TIJANI

HAKIKAT TARIKAT TIJANI :

Oleh: al imam al allamah syeikh ibrahim salleh , mufti nigeria
Terjemahan oleh: lajnah dakwah dan penerangan tarikat tijani malaysia.

"حقيقة الطريقة التجانية"
Hakikat Tarekat Tijani

       إن الطريقة التجانية؛ طريقة مولانا الشيخ أحمد بن محمد التجاني، رضى الله عنه، طريقة علم، ومعرفة، وعمل، وإخلاص، وكل المتمسكين بها من أجلة العلماء الذين هم المرجع فى الإسلام وعلومه لمسلمي بلادهم . Sesungguhnya Tarekat Tijani yang merupakan tarekat guru kami Al-Syeikh Ahmad Bin Muhammad Al-Tijaniyy r.a. adalah tarekat ilmu, pengetahuan, amal, keikhlasan. Dan kesemua pengamal tarekat ini adalah dari kalangan ulamak agung yang menjadi rujukan dalam agama Islam dan ilmu-ilmunya bagi masyarakat Islam di negara masing-masing.

    وهذه الطريقة عبارة عن الوردين، والوظيفة، وذكر الجمعة، وما عدا هذا مما اشتملت عليه كتبها فهو من التصوف، وليس بداخل فى مسمى الطريقة. وهذا منقول عن جميع أئمة هذه الطريقة الشريفة بلا إستثناء .
Tarekat ini terdiri daripada dua wirid, satu tugasan, dan zikir pada hari Jumaat. Apa-apa yang lain dari itu, iaitu apa yang terkandung di dalam buku-buku tarekat ini, maka ianya adalah daripada tasauf, dan tidak termasuk dalam ertikata tarekat. Hal ini dinukilkan daripada semua tokoh Tarekat Tijani, tanpa ada pengecualian pun.  

   فقد قال القطب الرباني، العارف الصمداني، مولانا الفقيه المحدث الأصولي الصوفي الجامع مولانا الشيخ أحمد بن العياشي سكيرج رضى الله عنه كلاما:" إن سيدنا رضي الله عنه قد تحقق بأنه سيقع الكذب عليه من المختلقين الشاكين فى تصديق أهل الله، المكذبين لهم والكذابين فى حق أمثاله، فتبرأ مما سينسبونه إليه من كل ما ينافي الشرع فقال:"إذا سمعتم عني شيئا فزنوه بميزان الشرع، فما وافق فخذوه وما لم يوافقه فاطرحوه "
. Seorang Qutb Rabbani, Al-‘Arif  Al-Şamadani, guru kami Al-Faqih Al-Muhaddis Al-Uṣuliyy Al-Sufiyy Al-Jami’ Al-Syeikh Ahmad Bin Al-‘Iyasyi Sukairaj r.a. berkata “Sesungguhnya ketua kami r.a. sedar akan berlaku pendustaan terhadapnya dari golongan yang suka mereka-reka cerita, ragu-ragu untuk membenarkan wali-wali Allah, mendustai mereka dan orang-orang yang seumpama mereka. Lalu beliau nafikan setiap tuduhan yang bercanggah dengan syarak yang akan mereka sandarkan kepadanya “Apabila kamu dengari dariku sesuatu perkara, maka timbangilah ia dengan neraca syarak, apa yang menepati (syariat) ambillah ia, apa yang tidak menepati  (syariat) buanglah ia”  

    وإذا تقرر لديك هذا أيها المنصف، كنت معتقداً، أو منتقداً فلا شك أنك لا تقبل الترهات المنسوبة لهذا السيد الجليل المصرح بالتبرىْ منها سواء تحقق لديك إنها متقولة عليه، أو منقولة عنه؛ نقلها عنه أحبابه، أو أعداؤه، ذكرت فى كتب المؤلفين فى طريقته، أو غيرهم، أو شاعت وذاعت بين أصحابه، أو غيرهم فهو متبرىء من جميع ذلك. ويكفي فى تبرئته سلوكه على الجادة، والتبري مما يخالف الشرع قولا، وفعلا، وحالا".  "إنتهى باختصار" .
Apabila perkara ini telah anda fahami-wahai penilai yang adil- sama ada anda percaya atau pengkritik maka tidak ragu lagi anda tidak akan menerima perkara-perkara palsu yang disandarkan kepada guru agung yang terang-terangan telah menyatakan bahawa beliau tidak terlibat dalam perkara-perkara tersebut sama ada anda pasti ianya cerita yang direka-reka ke atas beliau atau ianya kisah yang dinukilkan daripada beliau. Hal ini sama ada dinukilkan oleh orang-orang yang dekat dengan beliau atau pun musuh-musuhnya, disebut di dalam buku-buku penulis Tarekat Tijani atau pun penulis-penulis lain, sama ada perkara tersebut tersebar luas di kalangan sahabat handainya atau pun orang lain. Beliau bersih daripada semua itu. Cukuplah untuk membuktikan perkara tersebut perihal beliau melalui jalan tarekat dan perakuan beliau bahawa beliau tidak terlibat dalam perkara-perkara yang  bercanggah dengan syarak sama ada dari segi kata-kata, perbuatan atau pun keadaan. Dinukilkan dengan sedikit ringkasan. 

     ثم قال:" لو بين المقدمون فى الطريقة لإخوانهم المتمسكين بحبلها، والمريدين للدخول أن ما زاد على الذكر اللازم فيها من ورد، ووظيفة، وذكر جمعة، غير لازم للمريد ذكره، ولا إعتقاده لخفت وطأة الإنكار على طريقتهم المحمدية، ولا فرح المبغضون بما يقفون عليه مما مد لسانهم فى الانتقاد على أهلها " إنتهى.ص 5-6 " جناية المنتسب.
Kemudian beliau berkata, “Kalaulah orang-orang terdahulu di dalam tarekat menjelaskan kepada saudara-saudara mereka yang berpegang teguh dengan tali tarekat ini dan orang-orang yang ingin memasuki tarekat, bahawasanya apa-apa tambahan ke atas zikir-zikir yang biasa dalam tarekat tersebut yang terdiri daripada wirid, wazifah, dan zikir pada hari jumaat, tidak menjadi kemestian bagi orang yang ingin melalui jalan tarekat ini menyebut dan mempercayainya, maka akan kuranglah sedikit penyangkalan dan penafian terhadap tarekat mereka yang datangnya daripada Nabi Muhammad SAW ini,

          فإذا عرفت هذا، فإن كل ما يقوله فيه المعتدون أنه عقيدة للتجانيين، تارة ينسبون التجانيين إلى الباطنية، أو إلى الشيعة الإمامية، وأخرى يجهرون بكلمة الكفر فى حقهم، وعمدتهم فى جميع هذه التهم النصارى، أو المستشرقون، أو ما شاع فى الكتب المنسوبة إليها مما ليس عليه العمل، كما قال الإمام المحدث ألفا هاشم، وإليه أقول: كل ما يقوله فيه هؤلاء باطل وزور تمليه عليهم العمالة، والتبعية بالإضافة إلى فقدهم لنور الإيمان. Apabila anda telah tahu tentang perkara ini, maka sesungguhnya setiap apa jua tohmahan yang dilemparkan golongan pelampau, bahawa perkara-perkara tersebut merupakan akidah  pengamal Tarekat Tijani, terkadang golongan pelampau tersebut menuduh pengamal Tarekat Tijani ini datangnya daripada aliran Batinisme atau daripada Syiah Imamiyyah, dan terkadang mereka dengan lantang mengkafirkan pengamal tarekat ini, tulang belakang mereka dalam kesemua tohmahan dan tuduhan ini ialah Nasrani, atau orientalis, atau pandangan-pandangan yang diterbitkan di dalam buku-buku mereka, sedangkan ianya tidak realistik dari segi pengamalan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Imam Al-Muhaddis Alfa Hasyim, seterusnya saya ingin menegaskan bahawa setiap tuduhan yang mereka lemparkan itu adalah palsu dan bohong, yang didasari oleh pengkhianatan dan ikut-ikutan, di samping mereka sendiri telah kehilangan cahaya keimanan.

      قال مولانا الشيخ أحمد سكيرج أيضا: فى كتاب "طرق المنفعة" : "المقصد الثانى: فى التنبيه على أن المريد لا تلزمه متابعة الشيخ فى جميع أفعاله، وأقواله، وأحواله، إلا إذا أمره بذلك: لم يبلغنا عن شيخنا القطب التجاني رضى الله عنه، أنه أمر أصحابه والآخذين عنه أن يقتدوا به فى أقواله، وأفعاله، وسائر أحواله، أو بالخروج عن المذهب الذى تقلدوه من بين المذاهب الأربعة، والعقائد السنية بل الثابت عندنا أن الفضل المقرر فيها بفضل الله طبق ما وعده به الرسول عليه السلام، يناله كل من أذنه فى تلاوة أذكارها من ورد، ووظيفة، وذكر جمعة، بشروط ذلك لا غير. فإن هذه الطريقة مبناها على القيام بأذكارها اللازمة المذكورة بعد المحافظة التامةعلى إمتثال الأوامر، وإجتناب النواهي بقدر ما فى الإمكان فى السر والإعلان، وملاك الخير كله فى أداء الصلوات المفروضة فى غاية الإتقان، لجميع شروطها والإهتمام بها فى سائر الأحيان، ثم ما زاد فهو فضل بقدر إتباعه فى مجاهدته فى العبادة، وإخلاص النية، وتطهير الطوية، والصدق فى معاملة الحق والخلق، والتخلي عن كل مذموم والتحلي بكل محمود إلى غير ذلك مما كان يوصي به أصحابه حتى لا يكونوا من الآمنين لمكر الله. فإن التأدب مع الحق تعالى من المريد يكون على قدر إقتباس أنواره من مشكاة الاقتداء به.
Guru kami, Al-Syeikh Ahmad Sukairaj juga berkata di dalam bukunya yang berjudul  “Jalan-Jalan Manfaat” : ‘Tujuan Kedua : Memberi peringatan bahawa seseorang yang ingin menuju kepada keredaan Allah adalah tidak diwajibkan mengikuti gurunya dari semua segi ; perbuatan, kata-kata, dan keadaannya, melainkan apabila dia disuruh oleh gurunya untuk berbuat demikian, dan tidak pernah sekalipun sampai ke pengetahuan kami bahawa guru kami Al-Syeikh Al-Qutb Ahmad Al-Tijaniyy r.a. mengarahkan sahabat-sahabat dan penerima-penerima tarekat daripadanya agar mengikutinya dari semua sudut ; perbuatan, kata-kata, dan keadaannya, ataupun keluar dari salah satu mazhab yang mereka ikuti daripada mazhab-mazhab empat, atau daripada akidah-akidah sunniyyah. Bahkan yang pasti bagi kami ialah kelebihan yang ditetapkan di dalam Tarekat Tijani adalah sebagaimana kelebihan  yang ditetapkan oleh Allah, selaras dengan apa yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW. Kelebihan ini akan diperoleh oleh setiap individu yang diberikan keizinan oleh Baginda untuk membaca zikir-zikirnya yang terdiri daripada wirid, wazifah, dan zikir hari Jumaat, dengan syarat-syarat yang telah dijelaskan. Sesungguhnya tarekat ini asasnya ialah melaksanakan zikir-zikir yang lazim seperti yang tersebut, itupun sesudah sesempurna mungkin menjunjung perintah melaksanakan apa yang disuruh dan menjauhi apa yang dilarang sekadar yang mampu, dalam keadaan terang-terangan ataupun sebaliknya. Kebaikan yang utama adalah melaksanakan solat-solat fardu dengan menyempurnakan sehabis mungkin syarat-syaratnya, dan menitikberatkannya dalam kesemua keadaan. Kemudian, tambahan-tambahan lain itu merupakan kelebihan mengikut kadar ikutannya dalam kesungguhan melaksanakan ibadah, mengikhlaskan niat, menyucikan hati nurani, bersikap jujur dalam berurusan dengan Al-Haq dan makhluk, menjauhi setiap sifat yang dikeji, dan bersifat dengan sifat-sifat yang terpuji, serta perkara-perkara lain lagi yang dinasihatkan oleh Al-Syeikh kepada sahabat-sahabatnya, agar mereka tidak terasa selamat daripada terpedaya dengan ujian Allah. Sesungguhnya sikap beradab seseorang murid terhadap Al-Haq Allah Ta’ala diperoleh melalui sebanyak mana dia mengambil nur-nur Ilahi dari lantera ikutannya.

      وقد قال الشيخ سيدي علي الخواص رضي الله عنه: "من زعم إنه يتأدب مع الله تعالى، بلا واسطة شيخه، أو رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقد أساء الأدب، ثم لا يتم ذلك له، أو لا يستمر على الدوام معه بخلاف الأدب مع الله تعالى، مع شهود الوسائط فإنه يدوم". أهـ.
Sesungguhnya Al-Syeikh Ali Al-Khawwas r.a. telah berkata “Sesiapa yang menyangka dia telahpun beradab dengan Allah Ta’ala tanpa perantaraan gurunya, atau Rasulullah SAW, maka dia telah mengamalkan adab yang buruk, adab tersebut tidak akan sempurna baginya, atau tidak akan berterusan kekal bersamanya, berlainan dengan adab terhadap Allah Ta’ala di samping adanya perantara-perantara, maka sesungguhnya ia kekal”.   

وذلك مما يدل على محبة المريد لشيخه التي هى المغناطيس الجاذب لترقي المراتب، وفيه من احترام الشيخ ما يقضي عليه بإمداده بالمدد الأوفر، سيما وحرمة الشيخ من حرمات الله. قال الحاتمي قدس سره :          ما حرمة الشيخ إلا حرمة الله     فقم بها أدبا لله بالله
Ia merupakan antara perkara yang menunjukkann kasih sayang seorang murid kepada gurunya, bagaikan magnet yang menarik kenaikan martabat. Ia juga menjadi lambang penghormatan kepada gurunya ; sesuatu yang menyebabkannya membantu gurunya dengan bantuan yang terbaik, lebih-lebih lagi kehormatan  guru merupakan antara kehormatan-kehormatan Allah. Al-Hatimiyy –moga Allah menyucikan batinnya- berkata :     Tidaklah kehormatan guru melainkan ianya kehormatan Allah # Maka hormatilah guru kerana menghormati Allah  

    ولهذا يتعين القطع بما صح عن الشيخ، أو الولي على المريد ليتمكن بصدقه فى مقام التصديق ثم إنه لا ينقطع المريد عن طريقته إلا بنقض العهد الذي به يؤذن له فى أذكارها اللازمة بأخذه عليه مشافهة بالتلقي عنه، أو بواسطة المقدم الذى قدمه مقدمه بالإذن المقيد، أو المطلق فيها، ولا ينقطع عنه مددها إلا بذلك وربما طرأ ناقض في الحين مثل الردة. نسأل الله السلامة والعافية فى الدنيا والدين.
Oleh kerana faktor ini, maka mestilah berqat’ie dengan sesuatu yang pasti datangnya daripada syeikh, atau wali kepada murid, agar dia mampu berada pada maqam tasdik dengan sidiqnya. Seterusnya seseorang murid itu tidak akan terputus daripada tarekatnya, melainkan dengan membatalkan janji yang mengizinkannya untuk melaksanakan zikir-zikir lazim  yang diterimanya melalui musyafahah secara talakki, atau melalui muqaddam yang menerimanya daripada muqaddamnya (yang terdahulu) dengan izin muqayyad atau mutlak. Tidak akan terputus juga bantuan madad tarekat tersebut daripadanya melainkan dengan cara yang sama tadi. Atau mungkin juga disebabkan oleh terbatal imannya, seperti murtad. Kita pohon dari Allah  keselamatan dan kesihatan di  dunia dan akhirat.

  وهناك أمور تفضي بالمريد للإنقطاع إن صدر منه شىء منها وقد بينت فى كتب الطريقة فليراجعها من أراد الإطلاع عليها فيها، وحسبنا الله ونعم الوكيل.
Di sana terdapat beberapa perkara yang menyebabkan seseorang murid itu terputus daripada tarekat sekiranya dia melakukan salah satu daripada perkara-perkara tersebut. Ia telah dinyatakan di dalam buku-buku tarekat, maka sesiapa yang ingin mengetahuinya, rujuklah buku-buku tersebut. Cukuplah Allah sahaja bagi kami dan Dialah sebaik-baik wakil.

   قلت : وهذه الشروط التى أشار إليها الشيخ سكيرج، على أنها تقطع المريد عن الطريقة ثلاثة فقط. :- أولها : الترك بعد الأخذ تركا كليا. ثانيها : جمعها مع طريقة أخرى. ثالثها : زيارة الأولياء زيارة استمداد.
Aku berkata : Perkara-perkara yang boleh memutuskan seseorang murid daripada tarekat sebagaimana yang disebut oleh Syeikh Sikaraj ada tiga sahaja :   Pertama : Meninggalkannya secara total setelah ia diambil Kedua  : Menggabungkannya dengan tarekat lain Ketiga  : Menziarahi auliya’ lain secara istimdad (untuk dijadikan sebagai sumber)

   وهذه الشروط لا تعلق لها أبدا بما جاء فى تلك الكتب والمؤلفات باسم الطريقة، مع علمنا بأن هذه الكتب كتب علمية يستفيد منها من أراد ما شاء، وليس لأحد أن يرتب منها عقائد وينسبها إلى التجانيين، إلا إذا حمل ما فيها على الوجه الذى يحملها عليه أهل هذه الطريقة ممن عرفوها معرفة حقيقية، وإلا كان الكاتب كذابا، مدلسا، ظالما، وما يرمي به أصحابها من تكفير يرجع بلا شك عليه.
Syarat-syarat ini tiada kaitan selama-lamanya dengan apa yang terdapat di dalam kitab-kitab atau penulisan dengan nama tarekat ini di samping kita mengakui bahawa kitab-kitab tersebut adalah kitab-kitab ilmiah yang bermanfaat bagi sesiapa sahaja yang mahukan sesuatu. Mana-mana individu sesekali tidak boleh mengeluarkan beberapa kepercayaan, lalu menyandarkannya kepada ahli tarekat Tijani, melainkan sekiranya ditafsirkan isi kandungannya seperti mana yang difahami oleh ahli tarekat Tijani itu sendiri yang arif (perihal tarekat yang diamalkan). Sekiranya tidak demikian, maka penulis itu adalah pendusta, menyembunyikan fakta, zalim. Segala tuduhan kufur daripada penulis akan kembali semula kapadanya tanpa keraguan. 

فإذا عرفت حقيقة الطريقة التجانية وأنها الثلاثة الأذكار فقط، فلا عبرة بما يقوله الأدعياء الجاهلون من نسبة كل خيال، أو ضلال تسوله لهم نفوسهم المريضة بأنه من الطريقة فليس من الطريقة إلا ما يؤخذ العهد به من هذه الأوراد المعروفة التي سبقت الإشارة إليها.
Apabila anda telah mengetahui hakikat sebenar tarekat Tijani, dan ia terdiri daripada tiga zikir sahaja, maka tidak perlu lagi menghiraukan kata-kata para pendakwa yang jahil, dengan menisbahkan setiap khayalan ataupun kesesatan yang didorong oleh nafsu mereka yang sakit bahawa ianya adalah sebahagian daripada ajaran tarekat. Walhal bukanlah termasuk dalam tarekat melainkan sesuatu yang diambil secara perjanjian yang terdiri daripada wirid-wirid yang dikenali ramai sebagaimana yang telah dijelaskan.  

ولتوضيح هذا الموضوع نسوق إليك رسالة كتبها شيخ الإسلام مولانا الشيخ إبراهيم ابن الحاج عبد الله انياس ، إجابة لبعض أسئلة المنتقدين ، هى سوف تكشف حقيقة هذه الطريقة ومدى صلتها بالكتاب والسنة ، وهي كما فى كتاب (مطرب السامعين والناظرين) وهذا الكتاب ناوله شيخ الإسلام، وسعادة الأنام ، مولانا الشيخ الحاج إبراهيم بن الحاج عبد الله الكولخي، رضي الله عنه ، وكتب إجازته الكاملة الشاملة فى الطريقة والحقيقة والشريعة لهذا العبد الفقير عليه ، ومنه أنقل هذه الرسالة :-
Bagi menjelaskan permasalahan ini, kami bawakan kepada anda sebuah risalah yang ditulis oleh guru kami Syeikh Al-Islam Al-Syeikh Ibrahim Ibnu Al-Hajj Abdullah Inyas sebagai jawapan terhadap sebahagian soalan daripada para pengkritik. Risalah ini akan mendedahkan hakikat tarekat ini, dan sejauh mana hubungannya dengan Al-Quran dan Al-Sunnah sebagaimana yang terdapat di dalam buku “Pelunak bagi Para Pendengar dan Penyedap bagi Para Pemandang”.  Buku ini ditulis oleh Syeikh Al-Islam Sa’adah Al-Anam, Al-Syeikh Al-Hajj Ibrahim Ibn Al-Hajj Abdullah Al-Kulakhiyy r.a. Beliau juga mencatatkan ijazahnya dalam tarekat, hakikat dan syariat dengan lengkap dan sempurna. Daripadanya jugalah saya nukilkan risalah ini :-

لحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أفضل المرسلين، وآله وصحابته، والتابعين، وتابعيهم بإحسان إلى يوم الدين {قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ} [يوسف: 108].     وبعد: فإن طريقة الشيخ أحمد بن محمد التجاني رضى الله عنه ، التي لقنها أصحابه الميامين ، ونشروها فى العالمين ، وأيد الله بها الإسلام في أقطار عدة هي الأذكار الثلاثة : الإستغفار ، والصلاة على النبى صلى الله عليه وسلم بأى صيغة ، ولا إله إلا الله ، وقد أشبعنا الكلام فيها وفى التصوف بوجه عام في غير ما كتاب ولمن شاء أن يراجع تذييل كتابنا ( كاشف الإلباس عن فيضة الختم التجاني أبي العباس ) ففيه مباحث علمية فى الموضوع ، وهي من فضل الله علينا وعلى الناس.
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, selawat dan salam ke atas sebaik-baik rasul, ahli keluarga dan sahabatnya, tabi’in dan mereka yang mengikutinya dengan baik, sehingga ke Hari Pembalasan. Firman Allah “Katakanlah wahai Muhammad, inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan yakin. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk dari kalangan orang-orang yang musyrik”. (Surah Yusuf : 108 )   Sesungguhnya tarekat Al-Syeikh Ahmad Bin Muhammad Al-Tijaniyy  r.a. yang diajarkan oleh sahabat-sahabatnya yang beroleh keberkatan, lalu mereka sebarkannya ke seluruh dunia, kemudia Allah menegakkan Islam dengannya di beberapa negara, hanyalah terdiri daripada 3 zikir iaitu Istighfar, Selawat ke atas Nabi SAW dengan apa bentuk sekalipun, dan mengucapkan “La ilaha illallah”. Kami telah membicarakannya secara panjang lebar tentangnya dan tentang tasauf secara umumnya. Bagi sesiapa yang inginkan penjelasan, maka bolehlah merujuk lampiran buku kami yang berjudul “Penyingkap Keraguan Mengenai Faidhatul Khatam at-Tijani Abi al-‘Abbas”. Di dalamnya terdapat perbahasan-perbahasan ilmiah dalam sesuatu tajuk. Ia juga merupakan kurniaan Allah ke atas kami dan umat manusia seluruhnya.

وقد عرف بهذه الطريقة أحد أكابر رجالها، وهو شيخ الإسلام بالقطر التونسي سيدي إبراهيم بن عبد القادر الرياحي، المتوفى فى سنة 1266 هـ تعريفا موجزا فيه الغنية والكفاية ، وأنا أنقل جواهر حروفه من خط يده مباشرة من صورة شمسية لإجازة كتبها الشيخ الرياحي عام 1344هـ للشيخ أبي العباس أحمد ابن الشيخ سيدي الطاهر الطليفي، أفادني بها علامة تونس، ومفتيها فضيلة الشيخ محمد فاضل ابن عاشور، أطال الله بقاءه آمين.
Salah seorang daripada tokoh-tokoh tarekat ini telah membuat pengenalan ringkas dan padat tentang tarekat ini. Beliau adalah Syeikh Al-Islam di belah Tunisia Ibrahim Bin Abdul Qadir Al-Rayahi (w 1266H). Saya akan nukilkan tulisan tangannya secara langsung melalui imbasan fotograf ijazah yang ditulis oleh Syeikh ar-Rayahi pada tahun 1344H kepada Al-Syeikh Abi Al-Abbas Ahmad Ibn Al-Syeikh Sayyidi Al-Tohir Al-Tolifiyy. Ijazah itu disampaikan kepada saya oleh ‘Allamah dan Mufti Tunisia, Fadilah Al-Syeikh Muhammad Fadhil Ibn ‘Asyur. Moga Allah memanjangkan umurnya. Amin.

      قال الشيخ الرياحي رضى الله عنه : الحمد لله، هذه طريقة شيخنا أبي العباس التجاني رضي الله عنه، يقول بعد الاستعاذة والبسملة: أستغفر الله (مائة مرة). ثم الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم، بأي صيغة لكن بصلاة الفاتح لما أغلق أفضل وأعظم لما فيها من الثواب العظيم وهي: اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق، والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق، والهادي إلى صراطك المستقيم، وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم. (مائه مرة). ثم لاإله إلاالله، (مائه مرة ). هذا تقوله بعد صلاة الصبح، وتقول مثل ذلك بعد صلاة العصر، وذلك قوله تعالى:{بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ}[الأعراف: 205]أ هـ .
Kata Al-Syeikh Al-Rayahi r.a. “Segala puji bagi Allah, tarekat ini merupakan tarekat guru kami, Abi Al-Abbas Al-Tijaniyy r.a., beliau berkata seusai memohon perlindungan dan membaca bismillah “astaghfirullah” 100 kali, kemudian berselawat ke atas nabi SAW dengan apa bentuk sekalipun, tetapi dengan selawat “Al-Fatih lima ughliq” adalah lebih baik dan lebih mulia kerana terkandung pahala yang besar di dalamnya, selawat AlFatih adalah sepertimana berikut :
اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق، والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق، والهادي إلى صراطك المستقيم، وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم
Sebanyak 100 kali, kemudian : 
لا إله إلاالله 
Sebanyak 100 kali. 

Ini anda perlu ucapkannya selepas solat Subuh dan Asar. Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala “Di pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk dalam kalangan orang-orang yang lalai” (Surah Al-A’raf ; 205)