Rabu, 5 Januari 2022

Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani

Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani

Syeikh Ahmad bin Muhammad Al-Hasani lahir pada Hari Kamis, 13 Shafar 1150 H. di Ain Madhi atau disebut juga dengan Madhawi, di Sahara Timur Maroko. Dari keluarga besar/Kabilah Tijan. Kabilah ini banyak melahirkan ulama-ulama dan wali-wali yang shaleh.

Dari garis ayah adalah Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad Salim bin Al ‘id bin Salim bin Ahmad Al-‘Alwani bin Ahmad bin Ali bin Abdulloh bin Al-Abbas bin Abdul Jabbar bin Idris bin Ishaq bin Ali Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad An-Nafsiz Zakiyah bin Abdulloh bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan As-Sibthi bin Ali bin Abi Tholib dan Sayyidah Fatimatuzzahra binti Rasulullah Muhammad SAW.

Dari garis ibu adalah Ahmad binti Sayyidah Aisyah binti Abu Abdillah Muhammad bin As-Sanusi At-Tijani Al-Madhawi.

Keabsahan silsilah ini berdasarkan beberapa keterangan garis keturunannya secara turun temurun. Juga dinyatakan langsung oleh Rasululloh SAW: “Engkau benar-benar anakku (Anta waladi haqqan). Nasabmu melalui Hasan bin Ali adalah shahih.”

Kedua orang tuanya mengasuh dengan didikan beberapa etika sunah, rahasia syari’at dan cahaya kebenaran. Sehingga masa kecilnya sangat terjaga. Beliau pun tumbuh dalam kebesaran akhlak muhammadiyah. Pada umur 7 tahun telah hafal Alqur’an dalam qira’at Imam Nafi’ dengan baik di bawah bimbingan gurunya, Sayid Muhammad bin Hamawi At-Tijani. Seorang guru yang alim dan terkenal keshalehan serta kewaliannya. Al-Hamawi terkenal sebagai pendidik anak-anak di Ain Madhi. Diceritakan bahwa Sayid Muhammad bin Hamawi mimpi bertemu Alloh SWT dan membaca Alqur’an dalam Qira’at Imam Warasy sehingga khatam. Alloh SWT berfirman kepadanya: “Demikianlah Alqur’an diturunkan.” Beliau meninggal pada tahun 1162 H.

Pendidikannya dilanjutkan dengan mempelajari beberapa ilmu yang bermanfaat. Seperti: Ilmu Usul, Furu’ dan Adab. Orang tua Syeikh Ahmad sangat mempercayakan pendidikan masa kecil Syeikh kepada Al-Hamawi. Syeikh banyak mempelajari cabang ilmu dari Al-Hamawi. Dengan kecerdasannya Beliau cepat menguasai beberapa ilmu dengansempurna.

Di samping Al-Hamawi, Syeikh Ahmad menyelesaikan Al-Mukhtasor karya Imam Kholil, Ar-Risalah karya Ibnu Rusyd dan Al-Muqaddimah karya Imam al-Akhdhari dari gurunya yang lain, Sayid Al-Mabruk bin Bu Afiyah At-Tijani.

Tahun 1166 H. kedua orang tuanya meninggal pada hari yang bersamaan, karena penyakit tho-un/lepra yang mewabah. Yaitu ketika Syeikh Ahmad berumur 16 tahun.

Dalam usia yang relatif muda, Syeikh telah menunjukkan kelebihannya dan keluasan ilmunya. Dunia ilmu pendididikan terus dijalaninya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Syeikh tetap aktif dalam membaca ilmu, mengajar, menulis dan memberi fatwa.

Pada tahun 1171 Syeikh mulai memasuki dunia sufi. Dalam salah satu fatwanya Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata: “Dalam nash syara’ hanya diterangkan kewajiban tiap orang untuk memenuhi beberapa hak Alloh secara penuh, lahir dan batin. Tanpa adanya alasan apa pun. Tidak ada alasan apa pun untuknya dari hawa nafsu dan kelemahannya. Dalam syara’ hanya mewajibkan hal tersebut dan mengharamkan lainnya. Karena adanya siksa. Tidak ada kewajiban mencari guru selain guru ta’lim yang mengajarkan tata cara perkara syara’ yang dituntut untuk dilaksanakan seorang hamba. Baik berupa perintah yang harus dikerjakan dan larangan yang harus ditinggalkan. Tiap orang bodoh harus mencari guru ini. Tidak ada keluasan atau alasan meninggalkannya. Ada pun guru-guru lainnya setelah guru ta’lim tidak ada kewajiban mencarinya menurut syara’. Akan tetapi wajib mencarinya dari sisi nadhar. Seperti halnya orang yang sakit dan kehilangan kesehatannya. Apabila dia keluar untuk mencari kesembuhannya, maka mencarinya adalah wajib. Kami katakan wajib mencari dokter yang ahli dalam mendiagnosa penyakit, asalnya, obatnya, cara memperolehnya.

Jawaban Syeikh ini memberikan kejelasan dalam masalah pencarian guru. Karena sebagian ulama telah mengatakan bahwa meninggalkan pencarian terhadap guru tarbiyah dianggap maksiat.

Dari sini dapat diketahui bahwa masuknya Syeikh dalam dunia sufi tidak dikarenakan mengikuti kebanyakan manusia yang dilakukan zaman sekarang. Mereka memasuki sebuah jalan tujuan, tanpa adanya pertimbangan berdasarkan pengetahuan tentang sesuatu yang sedang mereka masuki. Mereka memasuki jalan tidak lebih karena anggapan sebagian orang yang menilainya dengan keindahan luarnya belaka. Syeikh memasuki dunia sufi berdasarkan pemikiran dan pengetahuan pada sesuatu yang dikehendakinya dan memantapkannya. Sebagai bukti seorang murid (pencari kebenaran) yang shadiq. Murid yang mengetahui keagungan Rububiyah dan hak-hak Ilahiyah. Mengetahui bagian yang ada dalam dirinya, berupa kelemahan, kemalasan, menyukai kenikmatan, dan meninggalkan amal shaleh. Di mana jika keadaan itu terus ada dalam dirinya akan menyebabkannya tidak dapat memperoleh puncak tujuan dunia-akhirat. Itu pun dilakukan setelah menguasai cabanng-cabang ilmu. Pengetahuannya membawa dirinya untuk segera kembali dengan tekad, semangat dan kemantapan; mencari seorang yang dapat membuka belenggu syahwatnya dan menunjukkannya kepada jalan untuk sampai ke hadapan Robnya.Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata: “Ini adalah ciri murid shadiq (pencari kebenaran sejati). Adapun lainnya hanya murid thalib atau pencari biasa. Terkadang dia dapat mendapatkan hasil. Terkadang tidak mendapatkan apa-apa.”

Oleh karenanya sebagian ulama mengatakan bahwa setiap orang yang awalnya kokoh, maka akhirnya akan sempurna.

Menginjak usia 21 tahun Syeikh melakukan berbagai kunjungan ke beberapa daerah di Fas. Melakukan banyak diskusi dengan beberapa ahli kebaikan, agama, rehabilitasi jiwa, dan penemu kebahagian hakiki.

Lawatan itu mengantarkannya ke Gunung Zabib dan bertemu dengan seorang wali kasyaf yang memberikan isyarat agar kembali ke negeri atau daerahnya, yaitu Ain Madhi. Wali tersebut memeberitahukan akhir kedudukan yang akan dicapainya. Tanpa harus menetap di daerah lain. Kemudian Syeikh segera kembali ke daerahya.

Orang yang paling banyak mewarnai corak kehidupan Syeikh adalah Sayid Abdul Qadir bin Muhammad. Seorang kutub yang tinggal di ‘negeri putih’ (Baladul Abyadh) Shahara Dzar. Daerah ini agaknya tidak jauh di Ain Madhi. Karena di sela-sela pengabdiannya, Syeikh sering pulang ke rumahnya. Syeikh menetap di Zawiyahnya 5 tahun untuk menuntut ilmu, mengajar dan beribadah. Selanjutnya Syeikh tetap tinggal di Ain Madhi sesuai dengan petunjuk wali kasyaf di Gunung Zabib.

Di antara beberapa guru yang ditemui Syeikh dalam perjalanan ke Fas dan sekitarnya adalah wali kutub yang terkenal, Maulana Ahmad As-Shaqali Al-Idrisiyah, salah seorang ternama dalam Thariqat Khalwatiyah di Fas. Dalam pertemuannya ini As-shaqali tidak banyak melakukan pembahasan. Syeikh pun tidak mengambil apa pun darinya.

Kemudian Syeikh bertemu dengan Sayid Muhammad bin Hasan Al-Wanjali. Salah seorang wali kasyf di sekitar Gunung Zabib. Ketika bertemu, sebelum mengucapkan apa pun, Al-Wanjali berkata kepada Syeikh Ahmad Attijani:




“Dirimu pasti akan menemukan kedudukan al-quthbul kabir Maulana Abil Hasan.”

Agaknya Al-Wanjali merupakan salah seorang tokoh dari Thariqat Syadziliyah. Karena isyarat yang diberikan olehnya menunjukkan bahwa Syeikh akan mencapai kedudukan Abil Hasan Asy-Syadzili. Menurut Al-Wanjali perjalanan yang telah ditempuh oleh Syeikh dari daerahnya (Ain Madhi) sampai ke Fas Al-Idrisiyah dan beberapa daerah Maghribi lainnya untuk mencari seseorang yang dapat mengantarkannya kepada Makrifat Billah adalah bukti kehendaknya untuk mencapai keinginan tersebut. Al-Wanjali banyak menyingkap rahasia yang tersimpan dalam diri Syeikh dan memberitahukan kedudukan yang akan diperolehnya. Meskipun tidak mengambil wirid dari Al-Wanjali, akan tetapi penyingkapan yang telah disampaikannya memiliki andil dalam memperkuat cita-cita Syeikh. Sehingga akhirnya semua itu menjadi kenyataan. Al-Wanjali meninggal sekitar tahun 1185 H.

Wali Kutub lain yang ditemui Syeikh adalah Maulana At-Thayib bin Muhammad bin Abdillah bin Ibrahim Al-Yamlahi. Sejarah hidup keluarganya sangat terkenal dan banyak ditulis oleh para pengikutnya sebagai orang besar di Fas. Legenda keluarganya secara beberapa generasi telah memperoleh kedudukan kutub. Maulana At-Thayib mewarisi kekhilafahan para pendahulunya dalam memberikan petunjuk kepada manusia di jalan Alloh dan kesempurnaan makrifatnya. Ia menjadi khalifah menggantikan saudaranya Maulana At-Tihami yang menggantikan Sayid Muhammad yang menggantikan Maulana Abdulloh. Diceritakan bahwa Maulana Abdulloh (w. th. 1089 H.), kakek At-Thayib adalah orang pertama yang menetap di Wazin. Agaknya keluarga At-Thayib secara turun-temurun memegang Thariqat Jazuliyah. Hal ini terbukti bahwa kakeknya telah berkhidmah kepadaAhmad bin Ali Ash-Sharsori, salah seorang tokoh Thariqat Jazuliyah.Ciri pokok tarekat ini adalah dengan memperbanyak shalawat. Ayah At-Thoyib, Sayid Muhammad yang juga mencapai kedudukan kutub mengatakan: “Seseorang tidak akan memperoleh derajat tertinggi, melainkan dengan banyak membaca shalawat kepada Nabi SAW.” Sayid Muhammad meninggal pada Malam Jum’at, tanggal 29 Muharam 1120 H.

Dalam pertemuannya dengan Ath-Thayib Syeikh mengambil wirid darinya. Bahkan dalam ijazahnya, At-Thayib telah memberikan izin kepada Syeikh untuk memberikan talkin pada orang yang hendak mengambil wiridnya. Akan tetapi Syeikh menolak hak talkin tersebut karena pada saat itu masih mempunyai cita-cita sendiri dan belum berminat untuk memegang salah satu jenisnya. Di sini Syeikh menunjukkan ketinggian cita-citanya berdasarkan asal fitrahnya. Di samping itu Syeikh belum mengetahui akhir kedudukannya pada waktu tersebut. At-Thayib adalah salah satu guru yang diakui oleh Syeikh pada awal perjalannya. Beliau wafat pada Hari Ahad, Bulan Rabiuts Tsani, tahun 1181 H.

Selanjutnya, Syeikh bertemu dengan Sayid Abdulloh bin Al-Arabi bin Ahmad bin Muhammad bin Abdulloh Al-Andalusi di Fas. Thariqatnya bercorak Isyrak (konsep cahaya). Pertemuan ini banyak memperbincangkan beberapa masalah. Meskipun tidak mengambil sesuatu darinya, Al-Arabi memberikan doa yang sangat berarti dalam perjalanan Syeikh selanjutnya. Al-Arabi mendoakan kebaikan dunia dan akhirat dan pada akhir perjumpaannya berkata:




“Alloh akan menuntun tanganmu (menolongmu). “Alloh akan menuntun tanganmu (menolongmu). “Alloh akan menuntun tanganmu(menolongmu).”

Al-Arabi wafat pada tahun 1188 H.

Syeikh juga pernah mengambil Thariqat Qadiriyahnya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani di Fas dari seseorang yang mempunyai izin untuk mentalkinkannya. Hanya saja kemudian ditinggalkan.

Thariqat lainnya yang pernah diambil oleh Syeikh adalah Thariqat Nashiriyah dari Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah An-Nazani. Tidak berapa lama thariqat ini pun ditinggalkan. KemudianThariqat Sayid Muhammad Al-Habib bin Muhammad, seorang kutub yang masyhur dengan Al-Ghamari As-sijlimasi Ash-Shadiqi (w. th. 1165 H.) melalui orang yang telah mendapatkan izin. Thariqat ini pun ditinggalkan.

Selanjutnya Syeikh mengambil ijazah dari Tokoh Malamatiyah, Sayid Abul Abbas Ahmad Ath-Thawas di Tazah. Ath-Thawas mengajarkan salah satu isim (nama ilahi) kepadanya dan berkata:




“Tetaplah khalwat, menyendiri dan dzikir. Sabarlah, sehingga Alloh memberikan futuh kepadamu. Sesungguhnya dirimu akan memperoleh kedudukan yang agung.”

Perkataan At-Thawas agaknya tidak ditanggapi oleh Syeikh Ahmad Tijani, sehingga ia mengulangi perkataannya:




“Tetapkanlah dzikir ini dan abadikan, tanpa harus kholwah dan meyendiri. Maka Alloh akan memberikan futuh kepadamu atas keadaan tersebut.”

Perkataan At-Thawas yang kedua ini tidak banyak dikutip. Justeru perkataan pertama yang banyak ditulis. Padahal perkataan yang kedualah yang menunjukkan pokok dasar pemikiran Syeikh At-Tijani yang kemudian menjadi ciri utama Thariqatnya. Di samping itu, Ath-Thawas juga memberikan isyarat dari kedudukan yang akan diperoleh Syeikh. Beliau melakukan dzikir tersebut tidak lama, kemudian meninggalkannya. At-Thawas meninggal pada tanggal 18 Jumadil Ula 1204 H di Tazah.

Dalam proses pencarian ini, Syeikh banyak mengetahui beberapa aliran Thariqat dan mengamalkannya. Meskipun kemudian tidak diteruskan. Karena adanya Inayah Robbaniyah untuk menolaknya dan tidak mengambilnya. Kecuali dari Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sebagai kekhasan seorang yang mempunyai cita-cita tinggi.

Sebagaimana telah diterangkan terdahulu, bahwa setelah melakukan lawatannya ke Fas, Syeikh menetap di Zawiyahnya Sayid Abdul Qadir bin Muhammad di Shahara Dzar, tidak jauh dari Ain Madhi. Sebagaimana petunjuk yang diperoleh sebelumnya. Bahwa futuhnya akan diperoleh di sana.

Syeikh memasuki Tunisia pada tahun 1180 H. Di daerah Azwawi, Al-Jazair Syeikh menemui seorang guru besar yang arif, Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Abdurrohman Al-Azhari. Syeikh mengambil Thariqat Khalwatiyah darinya. Al-Azhari meninggal pada permulaan Muharam tahun 1180 H.

Selanjutnya Syeikh menuju ke Tilmisan pada tahun 1181 dan menetap di sana. Syeikh mengabdikan dirinya dengan ibadah dan membaca ilmu. Terlebih Ilmu Hadits dan Tafsir. Syeikh terus-menerus melakukan taqarrub dengan bertawajjuh pada keagungan rububiyah dengan menyatakan ke-shidiq-an ubudiyahnya. Memberikan kemanfaatan kepada manusia dengan keluasan ilmunya. Sehingga mulai terlihat kefutuhan yang membuka beberapa hijab yang menghalangai antara seorang hamba dan Alqudus (Alloh). Syeikh menyatakaan hijab yang tersingkap adalah 165.000 hijab. Maka batinnya dipenuhi oleh cahaya Tauhid dan Irfan.

Setelah memperoleh banyak penyingkapan di Tilmisan Syeikh pergi melaksanakan haji dan ziarah kepada Nabi Muhammad SAW. Syeikh berangkat dari Tilmisan pada tahun 1186 H.

Dalam perjalanannya Syeikh berhenti di Tunisia dan menetap di Susah, selama setahun. Syeikh berjumpa dan bersahabat baik dengan seorang wali yang terkenal, Sayid Abdus Shamad Ar-Rahawi, salah seorang dari 4 murid wali kutub negeri tersebut. Wali kutub itu sendiri tidak dapat ditemui oleh siapa pun, kecuali seorang di antara 4 orang muridnya. Pertemuan tersebut hanya dilakukan pada malam hari, khususnya Malam Jum’at dan Senin. Hal itu disebabkan untuk menutupi kedudukannya. Syeikh meminta supaya Sayid Abdus Shamad berkenan mempertemukan dan mengenalkannya. Yang pada akhirnya Beliau pun dapat berjumpa dengannya.

Thariqat Tijaniyah adalah Thariqat yang dikembangkan oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad. Mengambil dari nama kabilahnya. Thariqat ini juga masyhur dengan nama Thariqat Al-Muhammadiyah. Thariqat ini diterima langsung dari Rasululloh SAW dalam keadaan jaga. Bukan dalam keadaan tidur.

Memang sebelum mendapatkan ijazah langsung dari Rasululloh SAW, Syeikh Ahmad pernah mengambil beberapa jalur Thariqat dari beberapa Syeikh lain. Seperti Thariqat Khalwatiyah dari Abi Abdillah bin Abdur Rahman Al-Azhari.

Pada usia 46 tahun (tahun 1196 H.), Beliau dianugerahi berjumpa dengan Rasululloh SAW dalam keadaan Yaqdhah (terjaga). Dan sejak saat itu Rasululloh SAW selalu mendampinginya dan tidak pernah hilang dari pandangannya. Keadaan inilah yang disebut dengan Al-Fathul Akbar (terbukanya tirai yang menghalangi antara seseorang dan Rasululloh). Rasululloh SAW selalu membimbing Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani dan memerintahkan kepada Syeikh untuk meninggalkan sandaran kepada guru-gurunya. Karena gurunya sekarang adalah Rasululloh SAW secara langsung. Sehingga Beliau selalu berkata dengan menyandarkannya kepada Rasululloh SAW.

Ketika itu, Rasululloh SAW mentalkin (mengajarkan) dzikir/wirid berupa Istighfar dan Shalawat. Masing-masing dibaca 100 kali. Pengajaran dzikir ini disempurnakan oleh Rasululloh SAW pada tahun 1200 H. dengan tambahan Hailalah 100 kali. Dzikir inilah yang diperintahkan oleh Rasululloh SAW untuk disebarluaskan dan diajarkan kepada seluruh umat manusia dan jin.

Ketika Syeikh Ahmad bin Muhammad berusia 50 tahun. Pada Bulan Muharam, tahun 1214 H Syeikh Ahmad bin Muhammad telah sampai pada martabat Al-Quthub AL-Kamil, Al-Quthbul Al-Jami’ dan Al-Quthbul Udzhma. Pengukuhan ini dilakukan di Padang Arafah, Makah Al-Mukaramah.

Pada tahun yang sama, hari ke-18 Bulan Shafar, Beliau dianugerahi sebagai Al-Khatmu Al-Auliya Al-Maktum (Penutup para wali yang tersembunyi). Hari inilah yang kemudian diperingati oleh Jamaah, Ikhwan, dan para muhibbin Thariqat Tijaniyah sebagai Idul Khatmi. Beliau meninggal di Faz, Maroko, tahun 1230 H.

Jawahirul Ma’ani, Sayyid Ali Harazim bin Arabi. Keterangan lain dari Sayyid Zubair, cucu kelima Syekh Ahmad.

Mizaburrhmah, Sayyid Ubaidah bin Muhammad As-Shighir, Hal.: 7, As-Syubiyah, Beirut, Lebanon.

Bughyatul Mustafid, Sayid Muhammad Al-Arobi, Hal.: 107, Maktabah Al-Hajj Abdus Salam bin Muhammad bin Syakron, Maroko.

Ibid, Hal.: 108.

Jawahirul Ma’ani, Sayid Ali Harazim, I: 29, Khodim Thorikotut Tijaniyah, Th. 1405 H. / 1984.

Bughyatul Mustafid, Sayid Muhammad Al-Arobi, Hal.: 112, Maktabah Al-Hajj Abdus Salam bin Muhammad bin Syakron, Maroko.

Ibid.

Ibid, Hal.: 111.

Ibid.

Jawahirul Ma’ani, Sayid Ali Harazim, I: 29, Khodim Thorikotut Tijaniyah, Th. 1405 H. / 1984.

Yang dimaksud Shahra adalah negerinya Syekh At-Tijani. Sebagimana keterangan dalam Bughyatul Mustafid, Hal.: 118.

Bughyatul Mustafid, Hal.: 120.

Ibid.

Bughyatul Mustafid, Sayid Muhammad Al-Arobi, Hal.: 114, Maktabah Al-Hajj Abdus Salam bin Muhammad bin Syakran, Maroko

Ibid, Hal.: 117.

Ibid.

Jawahirul Ma’ani, Sayid Ali Harazim, I: 29, Khodim Thorikotut Tijaniyah, Th. 1405 H. / 1984.

Bughyatul Mustafid, Sayid Muhammad Al-Arobi, Hal.: 115-116, Maktabah Al-Hajj Abdus Salam bin Muhammad bin Syakran, Maroko.

Ibid, hal.: 116.

Ibid, Hal.: 115. Jawahirul Ma’ani lebih memperjelas kewafatannya pada hari-hari terakhir Rabiuts Tsani. Sehingga memungkinkan bahwa Maulana At-Thayib wafat pada hari Ahad terakhir bulan dan tahun tersebut.

Jawahirul Ma’ani, Sayid Ali Harazim, I: 38, Khadim Thariqatut Tijaniyah, Th. 1405 H. / 1984.

Ibid, I: 38.

Ibid. keterangan yang sama dapat dilihat di Bughyatul Mustafid, Hal.: 118.

Bughyatul Mustafid, Hal.: 117-118.

Jawhirul Ma’ani, I: 38.

Ibid.

Sayyidul Auliya Syekh Ahmad At-Tijani, H. A. Fauzan fathulloh, Hal.: 60-64, Manuskrip.

Mizaburrahmah, Sayyid Ubaidah bin Muhammad As-Shighir, Hal.: 7, As-Syubiyah, Beirut, Lebanon.



Ya Allah, sampaikan rahmat penghormatanku kepada tuan kami Nabi Muhammad.

Pembuka pintu yang terkunci, penutup sesuatu yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran dan petunjuk kearah jalan-Mu yang yang lurus.

Dan sampaikan pula rahmat kepada keluarganya sesuai derajat kemuliaan mereka yang agung.




Selasa, 28 Disember 2021

SELAWAT FATIH DI ALAM MELAYU

Sabda Nabi ﷺ kepada Syeikh Tijani Radiallahuanhu:

ما صلى علي احد بأفضل من صلاة الفاتح او كما قال رَضِيَ الله عَنْهُ 
 
“ Tidaklah seseorang itu berselawat dengan selawat yang terlebih afdhal daripada Selawat Al Fatih”

يقول سيدي احمد التجاني رضي الله عنه في رسائله: (واعلـم أنّ كُلَّ ما تذكره من الأذكار والصلوات على النبيّ صلّى الله عليه وسلـم والأدعية، لو توجّهتَ بجميعها مائة ألف عام، كلّ يوم تذكرها مائة ألف مرّة، وجميع ثواب ذلك كلّه ما بلغ ثواب مرّة واحدة من صلاة الفاتح لـما أغلق الخ. فإنْ كنتَ تريد نفْع نفسك للآخرة فاشتغل بها على قدر جهدك فإنها كنز الله الأعظم لـمن ذكرها، وكلّ ما تزيده من الأذكار فوق الورد فزده منها زائداً على الورد، فقد نصحتك لله.

“ Ketahuilah setiap apa yang kamu sebutkan akannya daripada zikir-zikir dan selawat-selawat keatas Baginda Nabi saw dan doa-doa, jikalau kamu tawajuhkan diri kamu dengan doa-doa,selawat-selawat ziikir-zikir selama seratus tahun pada setiap hari kamu mengamalkannya sebanyak seratus ribu kali dihimpunkan keseluruhan pahala yang disebutkan tadi semua itu tidaklah sampai kepada pahala yang dibaca sekali daripada selawat faith lima ughliq, jikalau kamu mengkehendaki akan manfaat terhadap diri kamu sendiri untuk akhirat kamu beramalah dan sibukkanlah dengan selawat fatih itu sakadar kesungguhan kamu sesungguhnya ia adalah Kanzullah yang agung bagi orang yang membaca akannya, dan setiap apa yang kamu hendak daripada zikir-zikir selain daripada lazim maka kamu tambahlah zikir lain daripada yang lazim itu. Maka sesungguhnya aku telah menasihat kamu kerana Allah” 

● Orang yang berselawat dengan Selawat Fatih seperti orang yang mengetuk pintu Hakikat Nabi ﷺ 

( PENYEBARAN SELAWAT FATIH )

Selawat Fatih datang di alam Melayu atas tangan Tiga orang Ulama Melayu :-

 1. Syeikh Daud Al Fatani
 2. Syeikh Abdul Somad Al Falimbani
 3. Syeikh Arsyad Al Banjari

1) Syeikh Daud Fatani menyebarkan Selawat Fatih di :
-Fatani
-Yala hingga 
-Kelantan
-Terengganu
-Pahang

2) Syeikh Abdul Somad Falimbani :
-Kedah hingga Perak

3) Syeikh Arsyad Banjari:
-Kalimantan
-Banjarmasin
-Mindanao
-Filipin belakang
-Solo
-Sulawisi
-Bugis 

● Syeikh Abdul Somad Falimbani adalah seorang panglima perang melayu yang hebat memerangi Siam di zamannya

● Masyhur Sanad Selawat Fatih disisi tiga orang Syeikh Melayu tersebut dengan sanadnya "Muhammad Bakri" kerana guru mereka yang empunya selawat Fatih dan awal ialah Syeikh Mustafa Al Bakri As Siddiqi.

● Selepas itu tersebar Tariqah Sammaniah Khalwatiah Al Bakriah di Tanah Melayu khususnya di Utara dan Timur (mereka itu ahli Selawat Fatih).

● Alhamdulillah pengkhususan di Negeri Johor juga ada keistimewaan datang lagi Selawat Fatih melalui saluran yang lain iaitu melalui Syeikh Fadil Banten dan dirasmikn di Negeri Johor khusus Muar dan Tangkak.

● Selawat Fatih telah masuk awal di tanah Melayu melalui Syekh Daud Fatani, Syeikh Abdul Somad dan Syeikh Arsyad Banjari, setelah itu Allah Mengkhususkan Johor dan menyampaikan Selawat Fatih kepada Johor melalui Sanad Baru, Sanad yang lain dan saluran baru itu melalui Syeikh Fadil Banten yang menjadi simbol Johor, tanda Kewalian di Negeri Johor dan Beliau menjadi Guru kepada Sultan di zaman tersebut (penasihat), selepas itu datang lagi saluran baru dan sanad baru Selawat Fatih itulah yang dimaksudkan sebagai sentiasa diperbaharui atau memperbaharui limpahan dengan madad.

● Tanah ini ( MELAYU ) selalu diingati.

● Sanad kita ( Ahli Tarikat Tijani Malaysia ) 

iaitu Sanad Emas dari saluran Sayyidi Syarif Ahmad Al-Hadi Al-Maghribi At Tijani yang Segar dari Maghribi tidak putus lagi sahih seperti zaman Syeikh Ahmad Tijani tidak ada tambahan dan tidak ada campuran.

( SANAD SELAWAT FATIH )

Ijazah Selawat Fatih ada banyak Tingkatannya seperti :
-Tingkat Zahir
-Tingkat Batin
-Tingkat Batinul Batin
-Tingkat Rahsia
-Tingkat terahsia

● Bermacam talqin mengikut keikhlasan dan banyak amalan Selawat Fatih bagi seseorang itu.

( SANAD EMAS SELAWAT FATIH )

سيد الوجود سيدنا و مولانا محمد صلى الله عليه وسلم
 |
القطب المكتوم و الختم المحمدي المعلوم سيدنا و مولانا أحمد التجاني الحسني 
 |
سيدي محمد الغالي الحسني
 |
سيدي أحمد بن محمد الكنسوسي الجعفري الهاشمي
 |
سيدي الحاج الحسين اليفريني الحسني
 |
مجدد الملة و الدين سيدي الحاج الأحسن البعقيلي الحسني
 |
سيدي محمد الحبيب البعقيلي الحسني
 |
سيدي الأحسن اليفريني الحسني
|
سيدي أحمد الهادي الحسني المغربي

● Wali Qutub Selatan Maghribi Sidi Husain Al Yifrini membaca Selawat Fatih 80,000 kali sebelum azan subuh dan sebelum masuk waktu fajar.

● Menteri besar Kerajaan Alawiyah Syarif Maghribi dan Penulis sejarah pada zaman tersbut Sidi Ahmad bin Muhammad Al-Kansusi Al-Ja’fari Al-Hasyimi.

● Ketua Syarif2 di Negeri Faz iaitu punca Syarif dan Said iaitu Sidi Muhammad Al Ghali yang ditanam kembar dengan Saidatina Khadijah.

( SANAD SELAWAT FATIH YANG KEDUA )

Telah zahir Selawat Fatih sebelum Syekh Tijani melalui Sidi Muhammad Mustafa Al Bakri Siddiqi.

Syeikh Tijani ambil sanad selawat Fatih dengan sanad yang biasa dan lama melalui daripada SIDI MAHMUD ALQURDI AL MISRI Qutub A’zam tanah Mesir dan ambil daripada gurunya SIDI MUHAMMAD AL HAFNI (Syeikhul Azhar) beliau juga Qutub dan Ketua Azhar pada zamannya dan ambil daripada gurunya Sidi Muhammad Mustafa Al Bakri Siddiqi yang khalwat 17 Tahun di Kaabah untuk mengeluarkan Selawat Fatih daripada Hadrah Allah dengan mujahadah dan tawajuhnya.

سيدي محمد مصطفى البكري الصديقي
 |
سيدي محمد بن سالم بن أحمد الحفني الأزهري 
 |
سيدي محمود الكردي المصري الخلوتي
 |
القطب المكتوم و الختم المحمدي المعلوم سيدنا و مولانا أحمد التجاني الحسني 

Jadi Tiga Ulamak melayu Syeikh Daud Al Fatani, Syeikh Abdul Somad Al falimbani dan Syeikh Arsyad Al Banjari adalah anak murid kepada Syeikh Muhammad bin Abdul Karim As Samman dan beliau lah yang hantar selawat Fatih kepada tiga orang anak muridnya untuk di bawa dan di tanam ke Tanah Melayu.

● Ketahuilah Selawat Fatih sampai ke Tanah Melayu sebelum sampai ke Tanah Maghribi. 
Sidi Mustafa Al Bakri As Siddiqi ada khalifahnya di Madinah iaitu ( Syeikh Muhammad bin Abdul Karim As Samman ) Tuan kepada Tariqah Samaniah Khalwatiah dan khalifahnya di Mesir (Syeikh Muhammad Al Hafni)

● Antara Syeikh Samman dan Syekh Mustafa Bakri tidak jauh jaraknya seperti Sayyidi dengan Ust Bakri.

Selawat Fatih sampai ke Tanah Maghribi selepas Syeikh Muhammad Al Hafni iaitu anak muridnya Sidi Muhammad bin Abdi Rahman Zuwawi Al Maghribi yang membawa selawat Fatih kepada Tanah Maghribi.

● Alhamdulillah ada kaitan antara Selawat Fatih dengan Alam Melayu.

“ DALAM ALAM AZKAR @ MEDAN AZKAR TIDAK ADA AMALAN SEPERTI SELAWAT DAN DALAM MEDAN SELAWAT TIDAK ADA SELAWAT SEPERTI SELAWAT FATIH”

15/JAMADIL AWAL/1443H 
ISNIN,20/DISEMBER/2021

📌 Catatan pengajian bersama Sayyidi Syarif Ahmad Al Hadi Al-Maghribi Al-Hasani At-Tijani di Zawiyah Darul Madad Johor

📌 https://www.facebook.com/muhdaizudin.rosli

AMALAN ULAMAK MAGHRIBI UNTUK MENARIK RAHMAT ILAHI, MURAH REZEKI DAN MENGELAKKAN KEFAKIRAN

Telah menulis Sayyidi Syeikh Ahsan al Ba'qiliy al Hasani رضي الله عنه dalam kitab beliau Iroah tentang amalan menarik rahmat, rezeki dan mengelakkan kefakiran. 

Kaifiyatnya, hendaklah di baca pagi dan petang. 

1. Di mulai dengan Al Fatihah 1 kali. 

2. Selawat al Fatih dibaca 100 kali. Lafaznya :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۞ 

(Ertinya: Ya Allah limpahkanlah Selawat ke atas Penghulu kami Nabi Muhammad ﷺ, Pembuka apa yang terkunci, dan Penutup segala yang terdahulu, Penolong kebenaran dengan kebenaran, dan Pemberi hidayah ke jalan-Mu yang lurus. Dan ke atas ahli keluarganya, sebenar-benar pengagungan padanya dan kedudukannya yang agung)

3. Kemudian diteruskan dengan doa 1 kali. Lafaznya :

صَلاَةً تَفْتَحُ لَنَا بِهَا أَبْوَابَ الرِّضَى وَالتَّيْسِيرِ ، وَتُغْلِقُ بِهَا عَنَّا أَبْوَابَ الشَرِّ وَالتَّعْسِيرِ ، وَتَكُونُ لَنَا بِهَا وَلِيًّا وَنَصِيرًا ، أَنْتَ وَلِيُّنَا وَمَوْلاَنَا ، فَنِعْمَ المَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

(Ertinya: Dengan Selawat ini bukakan lah untuk kami dengannya pintu-pintu keredhaan dan kemudahan, dan ditutup dengannya  daripada kami pintu-pintu kejahatan dan kesukaran, dan jadikan dengannya untuk kami sebagai pelindung dan penolong, Engkaulah hakikat pelindung dan pembimbing kami, Maka Engkaulah sebaik-baik diserahkan segala urusan dan sebaik-baik yang memberikan pertolongan)

4. Kemudian Penutup Doa:

سُبحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ ۞ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلُمرْسَلِيْنَ ۞ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۩ 

Semoga bermanfaat untuk sahabat2.

Jumaat, 24 Disember 2021

Sunnah Menyambut Kelahiran

اللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ,🌷 وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ🌷, نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ🌷, وَاْلهَادِى إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ🌷, وَعَلَى آلِهِ  حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.🌷.

💐💐💐

🍀Sunnah Menyambut Kelahiran.🍀

✳ terus slps slmat lahir 

1/ syukur ALLAH SWT kerna baby selamat dan kerna kesempurnaan badanya ( yakni cukup organ2-cukup sifat )

2/ terus cepat azan ( kanan ) dan iqamah ( kiri ) dgn niat memliharanya dari أم الصبيان ( ummu subyan)

3/ terus tahnik ( cari tamar ajwa عجوة )

✳ hari ke 7

1/ cukur rambut pagi awal slps syuruk

2/ sapu kepala dgn minyak zaitun

3/ slps habis cukur baru sembelih kibash ( lagi afdal 2 ekor  )

👉 lagi afdhal potong sendi dan jangan patah tulang2 ( 2 kaki / 2 tangan )

4/ timbang rambut dan sedekah dgn sekadarnya dari perak(silver) 

5/ tanam rambutnya dkt satu kawasan yg elok/baik

6/ masak akikah dgn manisan ( kismis atau gula merah / lagi afdhal kismis yg hitam atau merah ) 

7/ jemput org2 makan atau hantar dkt ahlinya spti masjid atau tahfiz.🌻 🌻

Semoga Allah swt menerima ibadah kita dan sentiasa kita semua dalam rahmat ilahi 🤲💐

Rabu, 15 Disember 2021

FAKTA UNIK KELAHIRAN SAYYIDINA MUHAMMAD SAW

#SALAM MAULID#

SELAWAT FATIH 

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠﻰَ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪِ، ﺍﻟْﻔَﺎﺗِﺢِ ﻟِﻤَﺎ ﺃُﻏْﻠِﻖَ ﻭَﺍﻟْﺨَﺎﺗِﻢِ ﻟِﻤَﺎ 
ﺳَﺒَﻖَ، ﻧَﺎﺻِﺮِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ، ﻭَﺍﻟْﻬَﺎﺩِﻱ ﺇِﻟَﻰ ﺻِﺮَﺍﻃِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘِﻴْﻢِ ﻭَﻋَﻠﻰَ ﺁﻟِﻪِ ﺣَﻖَّ ﻗَﺪْﺭِﻩِ ﻭَﻣِﻘْﺪَﺍﺭِﻩِ ﺍﻟﻌَﻈِﻴْﻢ

FAKTA UNIK KELAHIRAN SAYYIDINA MUHAMMAD SAW

Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i di kitabnya An-Ni’matul Kubraa ‘Alal ‘Aalam hal. 61 telah menyebutkan ;

Bahwa sesungguhnya pada bulan kesembilan kehamilan Sayyidah Aminah (bulan Rabi’ul Awwal), saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad sudah semakin dekat, Allah SWT semakin melimpahkan berbagai macam anugerahnya kepada Sayyidah Aminah, mulai malam tanggal satu hingga malam tanggal 12 Bulan Rabi’ul Awwal malam kelahiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW;

Pada malam tanggal 1 Rabiul Awwal, Allah SWT melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa kepada Sayyidah Aminah, sehingga Beliau merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Pada malam tanggal 2 Rabiul Awwal, datang seruan berita gembira kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapati anugerah agung yang luar biasa dari Allah SWT.

Pada malam tanggal 3 Rabiul Awwal, datang seruan memanggil kepadanya…”Wahai Aminah, sudah dekat saatnya Engkau akan melahirkan Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah SWT”.

Pada malam tanggal 4 Rabiul Awwal , Sayyidah Aminah mendengar beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan sangat jelas sekali.

Pada malam tanggal 5, Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabiyyullah Ibrahim AS Khalilullah.

Pada malam tanggal 6, Sayyidah Aminah melihat cahaya Rasulullah SAW memenuhi segala penjuru alam semesta.

Pada malam tanggal 7, Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa khabar gembira, sehingga kebahagiaan dan kedamaiannya semakin memuncak.

Pada malam tanggal 8, Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut sangat jelas mengumandangkan ….”Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat saat kelahiran Nabi Agung Kekasih Allah SWT Pencipta alam semesta..”

Pada malam tanggal 9, Allah SWT semakin mengucurkan limpahan Belas Kasih Sayangnya kepada Sayyidah Aminah, sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah atau sakit dalam diri dan jiwa Sayyidah Aminah.

Pada malam tanggal 10, Sayyidah Aminah melihat tanah Khoif dan Mina ikut bergembira ria menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW .

Pada malam tanggal 11, Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

Maka, pada malam 12 Bulan Rabi’ul Awwal, langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun, saat itu Sayyid Abdul Muthalib sedang bermunajat kepada Allah SWT di sekitar Ka’bah, dan Sayyidah Aminah sendirian di rumah, tanpa ada seorangpun yang menemaninya, tiba-tiba Beliau Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah, dan perlahanan-lahan muncul empat wanita yang sangat anggun nan cantik jelita dan diliputi cahaya yang memancar berkemilauan serta semerbak harum wewangian memenuhi seluruh ruangan.

Tiba-tiba wanita pertama (Hawa Isteri Nabi Adam) datang dan berkata kepada Sayyidah Aminah; ”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung junjungan alam semesta Baginda Nabi Muhammad SAW. Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini adalah Hawwa’ Ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu" Kemudian Ibu Hawwa’ duduk di samping kanan Sayyidah Aminah.

Dan mendekat lagi wanita yang kedua (Sarah istri Nabiyyullah Ibrahim As) kepada Sayyidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira kepadanya;”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Baginda Nabi Muhammad SAW, seorang Nabi Agung yang dianugerahi Allah SWT kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi Agung yang ilmunya sebagai sumber seluruh ilmunya para Nabi dan para kekasihnya Allah SWT. Nabi Agung yang cahayanya meliputi seluruh alam. Dan ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku ini adalah Sarah istri Nabiyyullah Ibrahim As, aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu.” Kemudian Sayyidah Sarah duduk di sebelah kiri Sayyidah Aminah.

Maka, wanita ketiga (Asiyah binti Muzahim) pun kemudian mendekat dan menyampaikan berita gembira kepadanya;”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi Muhammad SAW Kekasih Allah SWT yang paling agung, dan insan sempurna yang paling utama mendapati pujian dari Allah SWT dan dari seluruh makhuk-Nya. Perlu engkau ketahui sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu”. Kemudian sayyidah Asiyah binti Muzahim tersebut duduk di belakang Sayyidah Aminah.

Sejenak Sayyidah Aminah semakin kagum, karena wanita yang ke empat (Maryam Ibunda Nabiyyullah Isa AS) adalah lebih anggun berwibawa dan memiliki kecantikan luar biasa. Kemudian mendekat kepada Sayyidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira;"Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang dianugerahi Allah SWT berbagai macam mukjizat yang sangat agung dan sangat luar biasa, Beliaulah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi, hanya untuk Beliau semata segala bentuk Selawat (Rahmat Ta’dhim) Allah SWT dan Salam Sejahtera-Nya yang sempurna. Ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam Ibunda Nabiyyullah Isa AS. Kami semua ditugaskan Allah SWT untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW." Kemudian Sayyidah Maryam Ibunda Nabiyyullah Isa AS duduk mendekatkan diri di depan Sayyidah Aminah.

Maka, keempat wanita suci mulia nan agung di sisi Allah SWT tersebut kemudian merapat dan mengelilingi diri Ibunda Rasulullah Muhammad SAW Sayyidah Aminah Binti Wahab, sehingga Ibunda Rasulullah SAW semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan dalam jiwanya. Kebahagiaan dan keindahan yang dialami oleh Ibunda Rasulullah SAW saat itu, tidak dapat terlukiskan dengan kata-kata. Dan peristiwa demi peristiwa yang sangat agung, semakin Allah SWT limpahkan demi penghormatan besar kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Keajaiban berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya saling berdatangan silih berganti memasuki ruangan Sayyidah Aminah dan mereka memanjatkan puja puji dan tasbih kepada Allah SWT dengan berbagai macam bahasa yang berbeza-beza.

Detik berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh Beliau berbagai macam bintang-bintang di angkasa raya yang sangat indah berkilauan yang saling berterbangan di langit ke segenap penjuru angkasa yang sangat cerah dipenuhi cahaya.

Selanjutnya, Allah SWT limpahkan mandat khusus kepada Malaikat Jibril AS untuk mengemban tugas agung dalam momen yang paling agung dan bersejarah bagi seluruh makhluk Allah SWT, Firman Allah SWT kepadanya;

“Hai Jibril, serukanlah kepada seluruh arwah suci para Nabi, para Rasul dan para Wali agar berkumpul berbaris rapi menyambut kedatangan Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, bentangkanlah hamparan kemuliaan dan keagungan darjat Al-Qurb dan Al-Wishal kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang memiliki Nur dan Maqam luhur di Sisi-Ku. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Malik agar menutup semua pintu neraka. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Ridhwan agar membuka seluruh pintu syurga. Hai Jibril, pakailah olehmu Hullah Ar-Ridhwan (pakaian khusus yang diliputi Keridloan-Ku) demi menyambut Kekasih-Ku Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, turunlah ke bumi dengan membawa seluruh pasukan malaikat, para Malaikat Muqarrabin, para Malaikat Karubiyyin, para Malaikat yang selalu mengelilingi ‘Arasy, suruh mereka semua turun ke bumi dan berbaris rapi demi memuliakan dan mengagungkan kedatangan Kekasih-Ku Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, kumandangkanlah seruan di seluruh penjuru langit hingga lapis ke tujuh dan di segenap penjuru bumi hingga lapisan paling dalam, beritakan kepada seluruh makhluk-Ku bahwa sesungguhnya …Sekarang telah tiba saatnya kedatangan Nabi akhir zaman, Nabi Agung kekasih Allah SWT, Baginda Nabi Muhammad SAW "

Kemudian seketika itu pula Malaikat Jibril AS secepat kilat langsung melaksanakan seluruh mandat khusus dan agung dari Allah SWT tersebut. Serentak Beliau bawa seluruh pasukan malaikat turun ke bumi hingga memenuhi seluruh gunung-gunung Makkah dan berbaris rapi meliputi seluruh tanah suci Makkah. Sayap-sayap mereka terlihat laksana mega-mega putih berkilauan memenuhi angkasa. Dan saat itu pula seluruh haiwan-haiwan yang ada di segenap penjuru di bumi, di lautan dan di angkasa bersuka cita demi menyambut kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Ibunda Rasulullah SAW Sayyidah Aminah berkata; "Saat itu pula, dengan ijin Allah SWT, bisa terlihat jelas olehku gedung-gedung yang ada di Syiria dan Palestina. Aku juga melihat tiga tiang bendera yang dibawa oleh para malaikat. Yang satu ditancapkan di jagad timur, yang satu ditancapkan di jagad barat dan yang satunya lagi di atas Ka’bah Baitullah. Dalam keadaan yang dipenuhi oleh misteri segala keajaiban yang sedemikian rupa, seketika pula datang serombongan burung-burung bercahaya yang indah memenuhi ruanganku, datang silih berganti. Paruh dan sayapnya adalah berupa mutiara zamrud dan yaqut yang indah sekali. Burung-burung tersebut menebarkan berbagai macam mutiara dan permata yang beraneka ragam indahnya di ruanganku. Setelah itu mereka serentak memanjatkan puja puji dan tasbih kepada Allah SWT. Dan aku lihat pula para malaikat datang bergerombolan dan silih berganti sambil membawa mabkharah (tempat dupa) berupa emas merah dan emas putih yang berisikan dupa-dupa wewangian syurga yang semerbak harum baunya memenuhi seluruh jagad raya, sambil bergemuruh suara mereka mengucapkan selawat dan salam kepada Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW. Seketika itu pula aku lihat bulan terbelah di atasku laksana qubah, dan bintang-bintang gemerlapan berjajar rapi di atas kepalaku laksana mata rantai emas intan permata. Dan tiba-tiba telah ada di sisiku secangkir minuman putih bening melebihi susu. Seketika aku meminumnya, dan terasa nikmat sekali, kelezatan manisnya melebihi gula dan madu, dan kesejukkannya melebihi salju (es). 

Maka seketika lepaslah segala dahagaku. Sangat terasa nikmat, segar dan lezat sekali yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seketika cahaya yang luar biasa meliputi diriku. Kemudian, datanglah burung putih berkilauan cahaya mendekati dan mengusapkan sayapnya pada diriku. Saat itulah tanda-tanda kelahiran mulai aku rasakan dan aku bersandar pada para wanita yang ada di sekelilingku. Seketika lahirlah Nabi Agung akhir zaman, Kekasih Allah SWT yang sempurna, Rasulullah Muhammad SAW, dan saya tidak melihat kecuali hanya sinar cahaya yang sangat agung. Tidak lama kemudian, aku melihat putraku (Rasulullah Muhammad SAW) telah berada di sampingku terselimuti dengan sutera putih di atas hamparan sutera hijau dalam keadaan sujud mengiba ke hadirat Allah SWT dengan mengangkat jari telunjuknya. Dan saya mendengar Beliau Rasulullah SAW mengucapkan";

ألله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا……….

”Allah Maha Besar dengan segala Keagungan-Nya, Segala Puji bagi Allah atas segala anugerah-Nya, Maha Suci Allah kekal abadi selama-lamanya………”

Pada saat itulah semakin memuncak kegembiraan seluruh penghuni alam semesta. Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari syurga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan di angkasa dan bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan Selawat Ta’dhim kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Dan bahkan Ka’bah Baitullah ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut kerana bahagia dan bangga menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdur Rahman Ad-Diba’iy hal 192 dan 193 ;

فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا

Yang artinya kurang lebih;
“Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan;

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر أستغفر الله

Yang artinya kurang lebih;
“Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT..”

Sesungguhnya dengan keagungan Beliau Baginda Rasulullah Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqarrabin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.

Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluknya Allah SWT bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia darjatnya di sisi-Nya.

Sayyidul Mursalin, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di lahirkan di tengah kabilah besar, Bani Hasyim di Mekkah pada pagi hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal 51 Sebelum Hijrah, tahun pertama tragedi pasukan gajah atau empat puluh tahun dari berlalunya kekuasaan kisra Anusyirwan. Juga bertepatan dengan Hari Isnin, tanggal 4 Mei 572 M sesuai dengan analisis seorang ‘Alim Besar, Muhammad Sulaiman al-Manshur Furi dan Astrolog (Ahli Ilmu Falak), Mahmud Basya. Rasulullah Lahir dalam keadaan yatim, Ayah beliau Abdullah meninggal dunia saat beliau masih dalam kandungan

Berikut ini adalah kejadian kejadian luar biasa saat nabi dilahirkan

Ibunda nabi Muhammad berkata “saat ia dalam kandunganku aku bermimpi melihat cahaya terang yang keluar dari diriku menyinariistana istana Bushra di negri Syam. Demi Allh selama aku hamil sama sekali tidak merasa berat, tidak ada wanita hamil yang merasaseringan dan semudah yang aku rasakan, ketika lahir ia meletakkan telapak tangannya ditanah, sedang kepalanya menengadah kelangit."

Telah terjadi irhashaat (tanda-tanda awal yang menunjukkan kenabian) ketika milad beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, diantaranya; runtuhnya empat belas balkon istana kekaisaran, padamnya api yang sekian lama disembah oleh kaum Majusi, hancurnya gereja-gereja disekitar danau Saawah setelah airnya menyusut. (Riwayat tersebut dilansir oleh ath-Thabari, al-Baihaqi)

Keberkahan yang dirasakan oleh Halimah saat mengasuh Nabi Muhammad

1. Unta milik Halimah yang sudah tua yang digunakan untuk membawa Nabi Muhammad secara mengejutkan bisa menempuh jarak yang tidak bisa ditempuh oleh unta lain yang lebih sehat dan lebih muda dari unta miliknya

“Kemudian kami pergi keluar lagi dan aku menunggangi onta betinaku dan membawa serta beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam diatasnya. Demi Allah! Onta betinaku tersebut sanggup menempuh perjalanan yang tidak sanggup dilakukan oleh onta-onta mereka, sehingga teman-teman wanitaku dengan penuh keheranan berkata kepadaku:’wahai putri Abu Zuaib! Celaka! Kasihanilah kami bukankah onta ini yang dulu pernah bersamamu?, aku menjawab:’demi Allah! Inilah onta yang dulu itu!’. Mereka berkata:’demi Allah!Sesungguhnya onta ini memiliki keistimewaan’.”

2. Kambing Milik Halimah mengeluarkan banyak Susu disaat yang lain tidak setetespun keluar air susunya

” Kemudian kami mendatangi tempat tinggal kami di perkampungan kabilah Bani Sa’ad. Sepanjang pengetahuanku tidak ada bumi Allah yang lebih tandus darinya; ketika kami datang, kambingku tampak dalam keadaan kenyang dan banyak air susunya sehingga kami dapat memerasnya dan meminumnya padahal orang-orang tidak mendapatkan setetes air susupun walaupun dari kambing yang gemuk. Kejadian ini membuat orang-orang yang hadir dari kaumku berkata kepada para pengembala mereka: celakalah kalian! Pergilah ikut kemana saja pengembala kambing putri Abu Zuaib mengembalakannya”.,.,.,.

Sumber:
Kitab Nurul Musthofa Jilid 1, Karya Habib Murtadho bin Abdullah bin Ahmad Al-Kaff,
Riwayat Kehidupan Nabi Muhammad Saw. Karya H.M.H Al-Hamid Al-Husaini
Kitab Al-Hawi Lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi
Kitab Dalailun Nubuwwah Lil Imam Al-Baihaqi
Kitab Dalailun Nubuwwah Lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy,
Kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Aalam Lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami
Kitab Sabiilul Iddikar Lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad
Kitab Al-Ghurar Lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy
Kitab Asy-Syifa’ Lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy
Kitab As-Siirah An-Nabawiyyah Lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy
Kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Aalamin Lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy.,.,.,

Oleh : HAMBA ALLAH
via fb ustaz iqbal aljauhari

Wallahu`alam

NAFAHAT RABBANIYAH SYA’BANIYAH BA’QILIYAH

-FAHAMAN ARIFIN
-MEMAHAMI KONSEP WEHDAH DAN KASROH
-PERBAHASAN ARIFIN PADA MEMBICARAKAN HAKIKAT MUHAMMADIYAH
-MEMAHAMI MAKSUD 
‎“  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ " 
DISISI PARA ARIFIN
                    
telah menulis oleh Qutubul Aqtab Maulana Sidi Ahsan 
Albaqili Ra didalam kitab iraahnya

adapun nafsu (النفس) ,
Ain(العين) ,Zat (الذات) Hakikat( الحقيقة),Maahiyah  (الماهية) dan Maaiyah (المائية)  adalah lafaz2 yg berlainan yg menunjukkan kepada Zat yg satu

apabila kamu perhatikan kepada  kedalaman (rahsia maksud drpd lafaz tersebut)
kamu akan mendapati maksud dengan ibadah adalah dikhaskan kepada martabat uluhiyyah didalam hadrah wahidiyah/Ke-Esaan Allah swt

adapun hadrah Wehdah dikhususkan akannya dengan hakikat Muhammadiyah

itulah hadrah tajalli dan penzahiran ZAT yg maha Tinggi tanpa Nama dan Sifat

hanyasanya Itulah Martabat yg menerima akan tajalli Zat Allah yg maha tinggi

Dan adapun Asma/Nama2 adalah tempat tajalli pd Martabat Wahidiyah(martabat uluhiyah)
itulah medan tajalli Asma2 dan Sifat2 Allah swt

tidaklah tajalli akan Zat pd martabat uluhiyyah
dan jikalau tidak maka Ghaiblah Martabat Uluhiyah tersebut

maka jadilah Hadrah Wehdah

Martabat Wehdah menafikan kasroh/banyak

Dan kasroh itu adalah pada martabat Wahidiyah/Uluhiyyah dan tidaklah lainnya
Dan Kasroh menafikan Martabat Wehdah 

fahamilah akannya

Dan Martabat Wahidiyah/Uluhiyyah adalah Martabat TajalliNya Allah pd Martabat Rupa Asal  Mulia bagi diri Adam 
itulah Hakikat Zat Rasulullah Saw disisi Ilmu Allah swt..

Allah SWT menjadikan  Nabi Adam AS dan anak2nya dalam rupa yg mulia (manusia)

itulah gambaran/Bentuk yg Sangat Ajaib yg tidak ada seumpamanya dalam ciptaan rupa bentuk makhluk2 Allah swt ..

Dan kamu telah mengetahui bahawasanya Allah swt telah Tajalli dengan kesempurnaan ZatNya yg maha tinggi pada hakikat Muhamadiyah

Itulah Zat yg bukanlah Ruh seperti difahami (dengan mudah pd fikiran kita )

bahkan Ruh Baginda Saw terlahir drpdnya(Hakikat Muhammadiyah)
Hakikat Muhammadiyah inilah ibunya(Asalnya)

Yang mana Allah swt telah Tajalli dengan kesempurnaan AsmaNya dan Sifat2Nya pd Rupa Adam (Muhammad Tanah/insan)

Dan meliputi Oleh Hakikat2 Muhammadiyah dengan keseluruhan Tajjali Allah swt

ltulah Hakikat yg memunculkan dan yg menzahirkan Asma2 dan Sifat2 Allah swt

Dan kemuncak yg dicapai oleh kalangan para Arifin adalah maqam Ruh Baginda Saw

dan tidak ada kemampuan bagi seorang pun drpd kalangan Arifin yg mencapai ke tahap rahsia yg lebih drpd itu

apatah lagi mereka hendak mengenal akan Hakikat Muhammadiyah (yg tersangat Tinggi rahsianya)

Firman Allah swt (yg ditujukan kalam pada Nabi Musa As)
‎ “لن تراني”

Kamu tidak dapat Melihat Akan Daku
(kerana berada pada maqam Kasroh)

Kerana Dia(Allah)pd Maqam Wehdah
dan Wehdah adalah Mazhar kpd Zat Allah yg Maha Tinggi 

Dan Wehdah menafikan akan Kasroh

Baginda Saw apabila berenang didalam Hakikat Muhammadiyahnya 
maka ghaiblah Ruh Baginda Saw dan Zatnya
kerana hilanglah Kasroh dengan sebab Wehdah

apabila Baginda Saw berenang didalam lautan Ruhnya
ghaiblah Baginda Saw dengan Sifat Allah drpd Asma2 Allah Swt
dan apabila Baginda Saw berenang didalam lautan Zatnya
maka ghaiblah Baginda Saw drpd Ruhnya

maka terTajalli Asma2 pd maqam Zatnya
dan terTajalli Sifat2 pd maqam Ruhnya

itulah uswah para Arifin
(maqam yg diperolehi oleh mereka)

barangsiapa yg berlaku tajalli Asma2 pd dirinya
maka ketahuilah bahawasanya dengan perantaraan Zat Baginda Saw
atau barangsiapa yg berlaku tajalli Sifat2 atasnya
maka ketahuilah bahawasanya dengan perantaraan Ruh Baginda Saw

apa yg disebut drpd kalangan Arifin melalui isyarat2 mereka yg menunjukkan kpd Tajalli Zat ketika menceritakan/pentahkikan akan Mahabbah Zat Allah yg maha Tinggi

semua itu adalah rumuz/petanda khas yg menunjukkan kpd hadrah Lenyap,Hancur,Berkecai 
(السحق والمحق والدق )
(YANG KEKAL HANYALAH ALLAH SWT)

Maka ia mengetahui bahawasanya Allah swt tajalli pada Zatnya dengan ZatNya pada ketika fana’ hamba tersebut
maka tiadalah wujud bagi hamba tersebut pada ketika Allah tajalli pada hamba tersebut
hamba tersebut lenyap dan pada masa yg sama hamba itu bersama Allah swt
maka tidak dapat tidak(ketika tajalli) 

mestilah melalui perantaraan Hakikat Muhammadiyah
walaupun hamba tersebut tidak menyedari akannya

aku (SIDI AHSAN ALBAQILI)
telah memberitahu kpd kamu
fahamilah akannya

dan wajiblhh kita beriktikad bahawa Zat Baginda Saw adalah ibu(asal) yg menjaga/memelihara akan aturan zat2 yg lain 
dan Ruh Baginda Saw adalah ibu(asal) yg menjaga/memelihara akan aturan ruh2 yg lain 

Bagaimana mungkin tidak berselawat oleh alam
ini atas Baginda Saw yg memelihara akan aturan alam ini secara zahir dan batin 

Bagindalah (sepertimana disebut dalam alquran)

‎وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً 

telah kami sempurnakan atas kamu nikmat2Nya secara zahir dan batin

Secara perbahasan Hakikatnya 
Kewujudan sebenar secara Zaati , adalah Allah swt tidaklah lainNya

dan Wujud Selain Allah adalah kewujudan Aridhi (andaian/khayalan)
ada permulaan dan penghujung baginya 

firma Allah swt 
‎كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ 

setiap jiwa akan merasai mati
dan turun ayat atasnya melalui isyarat Allah swt pd firmanNya

‎" فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ " 

ketahuilah bahawasanya Tiada Tuhan melainkan Allah 
1-
‎لا موجود إلا الله 
tiada kewujudan melainkan Allah swt
-demikian itu adalah ketika berlaku Tajalli Sifat2 
2-
‎لا محبوب إلا الله 
tiada yang dikasihi melainkan kepada Allah
demikian itu adalah ketika berlaku Tajalli Asma2

3-
‎لا فاعل ومالك إلا الله 
Tiada pembuat/pencipta dan pemilik melainkan Allah swt
-demikian itu adalah ketika berlaku Tajalli Afa’l 

4-
dan ketika tajalli Zat
maka tiada lafaz , isyarat dan percakapan
itulah hadrah alHums الهمس (seakan bisikan,sebenarnya tidaklah boleh diterjemahkan maksud sebenar)

5-
apabila ditujukan khitob/percakapan kepada orang musyrikin dengan kalimah
‎“  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ " 
bermaksud :
tidaklah terkaya setiap makhluk dan melainkan berhajat setiap sesuatu kepadaNya

6-
apabila ditujukan khitob/percakapan kalimah
‎“  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ "
kepada orang muslimin pada medan2 lslam :

‎لا معبود بحق إلا الله
tiada Sembahan yg sebenar melainkan Allah swt

7-
apabila ditujukan khitob/percakapan kalimah 
‎“  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ "
 kepada orang muslimin pada /kedudukan/medan2 Iman bermaksud :

‎لا معبود أصلاً إلا الله 

Tiada Sembahan secara asal/mutlak melainkan Allah 

              
-maqam الطمأنينة adalah tempat tajalli sifat  Afa’l

-maqam المراقبة adalah tempat tajalli ASMA2

maqam المشاهدة adalah tempat tajalli Sifat2

-maqam المعرفة adalah tempat tajalli  ZAT RABBANIYAH SYA’BANIYAH BA’QILIYAH
-FAHAMAN ARIFIN
-MEMAHAMI KONSEP WEHDAH DAN KASROH
-PERBAHASAN ARIFIN PADA MEMBICARAKAN HAKIKAT MUHAMMADIYAH
-MEMAHAMI MAKSUD 
‎“ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ " 
DISISI PARA ARIFIN
                    
telah menulis oleh Qutubul Aqtab Maulana Sidi Ahsan 
Albaqili Ra didalam kitab iraahnya

adapun nafsu (النفس) ,
Ain(العين) ,Zat (الذات) Hakikat( الحقيقة),Maahiyah (الماهية) dan Maaiyah (المائية) adalah lafaz2 yg berlainan yg menunjukkan kepada Zat yg satu

apabila kamu perhatikan kepada kedalaman (rahsia maksud drpd lafaz tersebut)
kamu akan mendapati maksud dengan ibadah adalah dikhaskan kepada martabat uluhiyyah didalam hadrah wahidiyah/Ke-Esaan Allah swt

adapun hadrah Wehdah dikhususkan akannya dengan hakikat Muhammadiyah

itulah hadrah tajalli dan penzahiran ZAT yg maha Tinggi tanpa Nama dan Sifat

hanyasanya Itulah Martabat yg menerima akan tajalli Zat Allah yg maha tinggi

Dan adapun Asma/Nama2 adalah tempat tajalli pd Martabat Wahidiyah(martabat uluhiyah)
itulah medan tajalli Asma2 dan Sifat2 Allah swt

tidaklah tajalli akan Zat pd martabat uluhiyyah
dan jikalau tidak maka Ghaiblah Martabat Uluhiyah tersebut

maka jadilah Hadrah Wehdah

Martabat Wehdah menafikan kasroh/banyak

Dan kasroh itu adalah pada martabat Wahidiyah/Uluhiyyah dan tidaklah lainnya
Dan Kasroh menafikan Martabat Wehdah 

fahamilah akannya

Dan Martabat Wahidiyah/Uluhiyyah adalah Martabat TajalliNya Allah pd Martabat Rupa Asal Mulia bagi diri Adam 
itulah Hakikat Zat Rasulullah Saw disisi Ilmu Allah swt..

Allah SWT menjadikan Nabi Adam AS dan anak2nya dalam rupa yg mulia (manusia)

itulah gambaran/Bentuk yg Sangat Ajaib yg tidak ada seumpamanya dalam ciptaan rupa bentuk makhluk2 Allah swt ..

Dan kamu telah mengetahui bahawasanya Allah swt telah Tajalli dengan kesempurnaan ZatNya yg maha tinggi pada hakikat Muhamadiyah

Itulah Zat yg bukanlah Ruh seperti difahami (dengan mudah pd fikiran kita )

bahkan Ruh Baginda Saw terlahir drpdnya(Hakikat Muhammadiyah)
Hakikat Muhammadiyah inilah ibunya(Asalnya)

Yang mana Allah swt telah Tajalli dengan kesempurnaan AsmaNya dan Sifat2Nya pd Rupa Adam (Muhammad Tanah/insan)

Dan meliputi Oleh Hakikat2 Muhammadiyah dengan keseluruhan Tajjali Allah swt

ltulah Hakikat yg memunculkan dan yg menzahirkan Asma2 dan Sifat2 Allah swt

Dan kemuncak yg dicapai oleh kalangan para Arifin adalah maqam Ruh Baginda Saw

dan tidak ada kemampuan bagi seorang pun drpd kalangan Arifin yg mencapai ke tahap rahsia yg lebih drpd itu

apatah lagi mereka hendak mengenal akan Hakikat Muhammadiyah (yg tersangat Tinggi rahsianya)

Firman Allah swt (yg ditujukan kalam pada Nabi Musa As)
‎ “لن تراني”

Kamu tidak dapat Melihat Akan Daku
(kerana berada pada maqam Kasroh)

Kerana Dia(Allah)pd Maqam Wehdah
dan Wehdah adalah Mazhar kpd Zat Allah yg Maha Tinggi 

Dan Wehdah menafikan akan Kasroh

Baginda Saw apabila berenang didalam Hakikat Muhammadiyahnya 
maka ghaiblah Ruh Baginda Saw dan Zatnya
kerana hilanglah Kasroh dengan sebab Wehdah

apabila Baginda Saw berenang didalam lautan Ruhnya
ghaiblah Baginda Saw dengan Sifat Allah drpd Asma2 Allah Swt
dan apabila Baginda Saw berenang didalam lautan Zatnya
maka ghaiblah Baginda Saw drpd Ruhnya

maka terTajalli Asma2 pd maqam Zatnya
dan terTajalli Sifat2 pd maqam Ruhnya

itulah uswah para Arifin
(maqam yg diperolehi oleh mereka)

barangsiapa yg berlaku tajalli Asma2 pd dirinya
maka ketahuilah bahawasanya dengan perantaraan Zat Baginda Saw
atau barangsiapa yg berlaku tajalli Sifat2 atasnya
maka ketahuilah bahawasanya dengan perantaraan Ruh Baginda Saw

apa yg disebut drpd kalangan Arifin melalui isyarat2 mereka yg menunjukkan kpd Tajalli Zat ketika menceritakan/pentahkikan akan Mahabbah Zat Allah yg maha Tinggi

semua itu adalah rumuz/petanda khas yg menunjukkan kpd hadrah Lenyap,Hancur,Berkecai 
(السحق والمحق والدق )
(YANG KEKAL HANYALAH ALLAH SWT)

Maka ia mengetahui bahawasanya Allah swt tajalli pada Zatnya dengan ZatNya pada ketika fana’ hamba tersebut
maka tiadalah wujud bagi hamba tersebut pada ketika Allah tajalli pada hamba tersebut
hamba tersebut lenyap dan pada masa yg sama hamba itu bersama Allah swt
maka tidak dapat tidak(ketika tajalli) 

mestilah melalui perantaraan Hakikat Muhammadiyah
walaupun hamba tersebut tidak menyedari akannya

aku (SIDI AHSAN ALBAQILI)
telah memberitahu kpd kamu
fahamilah akannya

dan wajiblhh kita beriktikad bahawa Zat Baginda Saw adalah ibu(asal) yg menjaga/memelihara akan aturan zat2 yg lain 
dan Ruh Baginda Saw adalah ibu(asal) yg menjaga/memelihara akan aturan ruh2 yg lain 

Bagaimana mungkin tidak berselawat oleh alam
ini atas Baginda Saw yg memelihara akan aturan alam ini secara zahir dan batin 

Bagindalah (sepertimana disebut dalam alquran)

‎وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً 

telah kami sempurnakan atas kamu nikmat2Nya secara zahir dan batin

Secara perbahasan Hakikatnya 
Kewujudan sebenar secara Zaati , adalah Allah swt tidaklah lainNya

dan Wujud Selain Allah adalah kewujudan Aridhi (andaian/khayalan)
ada permulaan dan penghujung baginya 

firma Allah swt 
‎كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ 

setiap jiwa akan merasai mati
dan turun ayat atasnya melalui isyarat Allah swt pd firmanNya

‎" فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ " 

ketahuilah bahawasanya Tiada Tuhan melainkan Allah 
1-
‎لا موجود إلا الله 
tiada kewujudan melainkan Allah swt
-demikian itu adalah ketika berlaku Tajalli Sifat2 
2-
‎لا محبوب إلا الله 
tiada yang dikasihi melainkan kepada Allah
demikian itu adalah ketika berlaku Tajalli Asma2

3-
‎لا فاعل ومالك إلا الله 
Tiada pembuat/pencipta dan pemilik melainkan Allah swt
-demikian itu adalah ketika berlaku Tajalli Afa’l 

4-
dan ketika tajalli Zat
maka tiada lafaz , isyarat dan percakapan
itulah hadrah alHums الهمس (seakan bisikan,sebenarnya tidaklah boleh diterjemahkan maksud sebenar)

5-
apabila ditujukan khitob/percakapan kepada orang musyrikin dengan kalimah
‎“ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ " 
bermaksud :
tidaklah terkaya setiap makhluk dan melainkan berhajat setiap sesuatu kepadaNya

6-
apabila ditujukan khitob/percakapan kalimah
‎“ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ "
kepada orang muslimin pada medan2 lslam :

‎لا معبود بحق إلا الله
tiada Sembahan yg sebenar melainkan Allah swt

7-
apabila ditujukan khitob/percakapan kalimah 
‎“ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ "
 kepada orang muslimin pada /kedudukan/medan2 Iman bermaksud :

‎لا معبود أصلاً إلا الله 

Tiada Sembahan secara asal/mutlak melainkan Allah 

              
-maqam الطمأنينة adalah tempat tajalli sifat Afa’l

-maqam المراقبة adalah tempat tajalli ASMA2

maqam المشاهدة adalah tempat tajalli Sifat2

-maqam المعرفة adalah tempat tajalli ZAT

Isnin, 6 Disember 2021

Wasitatul Uzma ‎(واسطة العظمى)


Baginda Saw adalah perantara antara hadrah uluhiyah dan hadrah Makhluk

Hakikat Ahmadiyah Baginda Saw itulah ketunggalan Hakikat Baginda yg meng-arah kepada hadrah uluhiyah
Itulah Rahsia nama Ahmad احمد

Dan hakikat Muhammadiyah Baginda Saw adalah hakikat yg meng-arah kepada Makhluk
Itulah Rahsia nama Muhammad محمد
Semua makhluk berada di dalam bulatan Mim Muhammad (bekas Muhammadi)

Peristiwa Isra dan Mikraj adalah petunjuk jelas kepada yg kemulian diri hakikat Baginda SAW ...