Selasa, 22 Mac 2016

Alangkah Indahnya Hidup Ini

Lirik Lagu Alangkah Indahnya Hidup Ini ~ Raihan ~

Bismillah... berikut Lirik Lagu Alangkah Indahnya Hidup Ini ~ Raihan ~:

Ha... ha... ha...

*)
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu
Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu

**)
Ya Rasulullah... ya Habiballah...
Tak pernah kutatap wajahmu
Ya Rasulullah... ya Habiballah...
Kami rindu padamu

***)
Allahummu sholli 'ala muhammad
Ya robbi sholli 'alaihi wasallim

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudakap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya Tuhan yang saja yang tahu

Back to **) 

Kutahu cintamu kepada ummat
Ummati... ummati...
Kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafaatkan kami

Back to *) - **)

Ya Rasulullah... ya Habiballah...
Terimalah kami sebagai umatmu
Ya Rasulullah... ya Habiballah...
Kurniakanlah syafaatmu

Back to ***)

Lirik Nasyid Indah Hidup Bersama Ilahi – Hijjaz


Lirik Nasyid
Indah Hidup Bersama Ilahi – Hijjaz

Alangkah indah hidup ini
Hidup bersama Ilahi
Kehendak Allah difahami
Pandai menerima darinya

Bijak mengunakan nikmatNya
Ia dianggap ibadah
Semua diberi pahala
Tarbiah Allah berhikmah

Sabar dengan ujian
Tanpa hisab akan diganjari
Nikmat yang diberi
Memudahkan untuk berbakti
Merasai pemberianNya
Itulah tanda bersyukur
Akan ditambah lagi
Nikmat yang diberi

Tersiksa bermujahadah
Kerana ingin menempuh jalan
Untuk menuju Allah
Tarbiahnya Allah tunjukkan

( korus )
Tawakal kepada Ilahi
Terutama mengenai rezeki
Tanpa ragu-ragu walaupun sedikit
Ada jaminan pembelaan dari-Nya
Bila taqwa pakaian kita
Urusan kita dimudahkan
Kerana kita sudah menjadi ahlillah
Begitu indah hidup bersama Tuhan

Korban harta kerana Allah
Agar berdaulat kalimatullah
Setiap satu kebajikan
Semuanya digandakan

Sabtu, 19 Mac 2016

"SEBERAPA KAU BER AKHLAQ & BERADAB SAMA GURUMU SEBANYAK ITU KAU AKAN MENDAPATKAN AL FUTUH " BAGAIMANA ENGKAU MEMANDANG GURUMU?

"SEBERAPA KAU BER AKHLAQ & BERADAB SAMA GURUMU SEBANYAK ITU KAU AKAN MENDAPATKAN AL FUTUH "
  BAGAIMANA ENGKAU MEMANDANG GURUMU?
Al Imam Ali bin Hasan al Aththas mngatakan :
ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺤﺼﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻔﺘﺢ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻋﻨﻲ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻟﻠﺤﺠﺐ، ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺍﻻﺩﺏ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﻋﻨﺪﻙ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻚ ﺫﺍﻟﻚ ﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻚ
" Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu ".(al Manhaj as Sawiy : 217)
Imam Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, " Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku ". (Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah : 155)
Beliau pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya :
ﻋﻘﻮﻕ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﺗﻤﺤﻮﻩ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﻋﻘﻮﻕ ﺍﻻﺳﺘﺎﺫﻳﻦ ﻻ ﻳﻤﺤﻮﻩ ﺷﻲﺀ ﺍﻟﺒﺘﺔ
" Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya ".
Habib Abdullah al Haddad mengatakan " Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali ". (Adaab Suluk al Murid : 54)
Seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba2 Nabi Khidir mendatanginya. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara nabi Khudhir. Maka nabi Khidhir berkata, " Tidakkah kau mengenalku ?. Murid itu menjawab, " ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir ".
Nabi Khidhir, " kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku ?".
Murid itu menjawab, " Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu ". (Kalam al Habib Idrus al Habsyi : 78)
Al Habib Abdullah al Haddad berkata, " Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, " perintahkan aku ini, berikan aku ini !", karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya ". (Ghoyah al Qashd wa al Murad : 2/177)
Para ulama ahli hikmah mengatakan, " Barangsiapa yang mengatakan " kenapa ?" Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya ". (Al Fataawa al Hadiitsiyyah : 56)
Para ulama hakikat mengatakan, " 70% ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan ( batin,adab dan baik sangka )antara murid dengan gurunya ".
Semoga kita semua termasuk murid yang baik dan mendapat berkah dari guru kita
اللهم آمين

RASULULLAH

بِسْم الله والحمد لله والصلاة والسلام علي رسول الله وعلي آله وصحبه ومن تبع هداه الي يوم القيامة .

Satu satunya nabi dan Rasul yang pernah melihat keagungan Dzat Allah Subhanahu Wa Ta'ala Yang tidak ada sesuatu seumpama-Nya dan melihat-Nya ketika Beliau di alam dunia sebelum akhirat dan dengan mata kepala sekaligus mendengar Kalam Allah yang tidak ada huruf dan suara hanyalah Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam. Adapun Nabi yang lain diberi anugrah sebatas mendengar Kalam Allah, Yaitu Hanya Nabi Musa 'Alaihissalam. Berarti Ma'rifat Nabi kita yang melihat Allah dan selalu memandang Allah adalah seagung Agung Ma'rifat (Pengenalan) yang tentunya tidak bisa dibandingkan dengan Ma'rifat siapapun para Nabi yang tidak pernah melihat Allah. Karenanya, para Auliya berpesan, "Tidak sempurna Ma'rifatnya seseorang kepada Allah kecuali sudah berkumpul Dg Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam di waktu jaga. Dan yang Ingin tahu atau kenal lebih banyak tentang Kemulian Rasulullah bacalah AlQur'an dan baca Tafsir serta Sebab sebab turun ayat atau baca terjemahan AlQur'an dan tadabburi ayat2nya. 114 Surah begitu ayat-ayatnya mulai ayat Iqra sampai AlYauma Akmaltu lakun diinakum diturunkan kepada Rasulullah dan di dalam AlQur'an ada ayat yang muncul darinya kelebihan berShalawat kepada Rasulullah shallallahu 'alami Wa Aalihi Wasallam yaitu ayat 56 Surah AL-Ahzab. Allah berfirman ;

(إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
        (((Surat Al-Ahzab 56)))
Dari ayat ini sekian banyak kitab yang membicarakan keutamaan membaca Shalawat . Apabila Allah bershalawat kepada hambaNya yang bershalawat kepada kekasihNya Muhammad, maka satu kali saja Shalawat Allah  kepada seorang hamba-Nya tidak bisa disamakan Dg pahala apajua daripada kebaikan yg di rutinkan.  Imam AlGazali menjelaskan bahwa AlQur'an adalah "Lautan Yang Tidak Bertepi" ini dari segi luasnya, belum lagi dalamnya.
Disamping AlQur'an bacalah Hadits nabi beserta AsbabulWurud Hadits tersebut juga baca Sejarah hidup Nabi. Allah bila Dia hendak berfirman bebas saja Surah atau ayat apa saja yang Dia Kehendaki, Seumpama memulai menurunkan Surah Yg Paling Agung yaitu AlFatihah lebih dahulu kemudian Surah atau ayat2 yang lainnya. Akan tetapi ayat yg pertama diturunkan adalah ayat Iqra bismiRabbikalladzi Khalaq (Baca olehmu dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu) namun Allah memulai AlQur'an Dg diturunkan ayat "perintah membaca" kepada Nabinya yang tidak pernah belajar membaca dan menulis. Masya Allah ternyata bersumber dari Ayat Iqra dan Rasul Mulia yang tidak pernah belajar membaca bermunculan sekian juta bahkan sekian Milyar ulama, cendekiawan  Muslim. Dan puluhan ribu judul kitab yg mereka tulis. Dengan Sebab sering Membaca AlQur'an 124000 wali wali Allah setiap masa yang Membaca ayat ayat yang tersurat Dan Tersirat. Non Muslim Saja yang suka membaca mereka sekarang mempelajari AlQur'an Dan mereka dapat petunjuk. Kita yang Muslim harus Lebih utama Untuk Membaca AlQur'an sekalipun Hanya satu lembar dg Tadabbur (Memperhatikan) . AL-Qur'an adalah Surat Allah Untuk Hamba-Nya yg dicintai-Nya.
Insya Allah mulai Hari ini saya Akan memulai Membaca Dan Membaca.

KH Ansori Attijani

Jumaat, 18 Mac 2016

BOLEHKAH WANITA MENGHANTAR JENAZAH SUAMINYA KE KUBUR?

BOLEHKAH WANITA MENGHANTAR JENAZAH SUAMINYA KE KUBUR?

🌿Nota: Rakaman ini dibuat di kelas Dhuha Muslimat bersama Habib Ali Zaenal Abidin Bin Abu Bakar Al-Hamid di Masjid Darul Ehsan, Tmn Tun Abdul Razak, Ampang. Habib membahaskan tafsir ayat surah Al-Baqarah ayat 234-237. Ayat 234 ada kaitan dgn soalan yg ditanyakan, dan disebabkan byk berlaku kesilapan dlm hal ini akhir zaman ini.

■Jawapan:
TIDAK BOLEH, !!
khususnya bagi isteri yg suaminya yg meninggal, kerana iddahnya telah bermula, dan isteri tidak blh keluar meninggalkan rumah suami kecuali darurat.

↔Darurat ini bukan mengikut persepsi kita, tapi mengikut apa yg ditetapkan oleh syarak. Antara sebab yg dibenarkan utk meninggalkan rumah suami adalah jika keselamatannya terancam. Sebab2 seperti ingin menziarahi kubur, atau menghadiri majlis ilmu tidaklah termasuk sebab yg darurat.

↪Ibadah mesti mengikut cara yg diatur oleh Allah, bukannya mengikut hawa nafsu. Jadi, kalau ingin suami yg meninggal mendpt redha Allah Ta'ala, isteri tidak boleh keluar drpd rumah suaminya selama 4 bulan 10 hari. Yg beri suami dan yg tak izinkan keluar ialah Allah SWT, jadi kita kena patuhi arahan Allah dan bukan dgr apa masyarakat kata.

■Ambil iktibar drpd kisah Ummu Salamah yg pd asalnya ingin menunjukkan cara ratapan luar biasa ketika suaminya meninggal. Tetapi setelah dilarang oleh Nabi SAW, dia akur dan menurut apa yg diajar Rasulullah ﷺ, dan akhirnya diganjar Allah dgn dia akhirnya diperisterikan oleh lelaki terbaik, iaitu baginda RasuluLlah ﷺ sendiri. Iktibarnya – bilamana mendahulukan Allah, pasti ada ganjaran tak kira sama ada akan diberikan ketika di dunia ataupun disimpan utk akhirat.

■Isteri tidak perlu merasa bersalah dgn anggapan masyarakat yg mungkin mengatakan –“Isterinya tak hantar suaminya ke kuburlah.” Dan isteri juga tak perlu rasa bersalah dan membuat helah seperti isteri ikut tapi duduk dlm kereta saja, atau duduk jauh sikit drpd tmpt dikebumikan. Perasaan bersalah itu perlu diambil kira berdasarkan hukum Allah, dan bukan hukum budaya masyarakat. Jgn takut apa org cakap.

■Pada zaman RasuluLlah ﷺ sudah ada golongan wanita yg nak ikut ke kubur, lalu Nabi ﷺ bertanya kpd mereka, “Kamu nak pergi kubur, adakah kamu pikul jenazah itu? Jawab mereka, “Tidak.” Baginda RasuluLlah ﷺ bertanya lagi, “Adakah kamu akan masuk ke dlm kubur utk menguburkan jenazah?” Jawab mereka, “Tidak.” Lalu Rasulullah ﷺ berkata, “Kamu balik kamu dpt ganjaran, lebih baik drpd kamu ikut dan kamu dapat dosa.”

↔Ini bukan menunjukkan yg agama ini tiada perasaan kpd kaum wanita. Hari ini org akan mengatakan seorg isteri tak penuhi hak suami jika isteri tak hantar jenazah ke kubur. Lama-kelamaan org akan kata tak penuhi hak suami jika tak semua ahli keluarga hadir di kubur. Generasi akan datang pula akan kata tak penuhi hak suami jika tak masuk dlm kubur. Perubahan demi perubahan akan berlaku jika ianya dicipta mengikut akal fikiran manusia atau budaya tempatan yg sumbernya tak tetap. Tapi jika ikut hukum Allah, ia sama saja tak kira di mana berada – Malaysia, Indonesia atau Yaman dll.

■Jika ada yg kata, “Eh awak tak penuhi hak suami awaklah.
Jawab padanya, “Eh, ALlah yg suruh saya tak ikut.” Oleh itu, pastikan apa yg kita buat itu adalah sesuai mengikut apa yg ALlah Ta'ala suruh.

■Jika ikut cakap org kita dpt dosa, tapi ikut cakap Nabi ﷺ, yg tak pernah bercakap kecuali ianya wahyu drpd ALlah Ta'ala, kita akan dpt pahala. Maka, rugi jika seseorg itu ikut cakap org !
Di akhirat nanti bukan kwn itu yg akan membela kita di hadapan ALlah, bahkan dia akan menjauh drpd kita.

■Jika isteri ingin melihat suami buat kali terakhir atau ingin solatkan, bawa jenazah pulang ke rumah seblm dikebumikan. Siapa kata jenazah tak boleh dibawa pulang ke rumah jika telah dimandi (dan disolatkan) di masjid?

■Jika ingin solatkan, baca Quran atau apa saja – buat di rumah agar isteri tak perlu keluar. Kalau boleh mandikan di rumah lebih baik, tapi kalau tak boleh, bawa ke masjid, dan kemudian bawa balik ke rumah. Nak buat tahlil di masjid boleh, tapi isteri buat di rumah saja.

■Isteri tak boleh keluar menunggu suami dimandikan di masjid atau seumpamanya, kerana iddah bermula setelah suami meninggal.

■Perempuan, kalau nak pergi ke kubur, pergi pada hari selain drpd hari pengkembumian. Kecuali, jika satu Kg. itu tiada lelaki, semuanya perempuan. Maka, dlm hal ini – perempuan yg bawa jenazah, yg gali kubur, yg kebumikan, yg uruskan semuanya.

■Perempuan bukan dilarang pergi ke kubur, tapi risau berlaku perkara yg tidak sesuai dgn syarak jika ikut bersama lelaki yg menguruskan jenazah.
Kita pun lihat sendiri byk berlaku, perempuan ahli keluarga duduk di hadapan kubur, dan sekelilingnya semuanya lelaki. Batasan antara lelaki dan perempuan tak lagi diperhatikan. Tambahan pula kalau perempuannya tidak menjaga cara berpakaian yg sopan dan menurut syarak.

■Biarkan org lelaki siap menguruskan. Esok pagi2, baru anak dan ahli keluarga pergi utk bacakan Yasin ke… dan akan dpt baca dlm keadaan tenang dan tak bercampur dgn lelaki.

■Ambil iktibar drpd kisah anak perempuan Nabi Syuaib, yg ketika ingin mengambil air drpd perigi. Walaupun memerlukan, mereka tidak beratur bersama lelaki, tetapi mereka tunggu jauh drpd perigi sehingga lelaki selesai, baru mereka akan ambil air. Sama juga kalau nak ziarah kubur, tunggu org lelaki selesai dulu, pergi keesokan harinya.

■Terdpt byk perbahasan ulama dlm kes isteri yg kematian suami dan perlu keluar bekerja, kerana memang sukar mendapatkan cuti selama 4 bulan 10 hari. Dlm keadaan darurat, seseorg dibenarkan melakukan sesuatu yg haram sekalipun. Dlm hal ini, kalau isteri bekerja, perlu dilihat adakah pekerjaan itu keperluan darurat atau tidak. Kalau dgn dia tidak bekerja, tapi keperluan asasnya dpt dipenuhi, maka itu bukan darurat yg membolehkan dia utk keluar bekerja. Tapi, kalau dgn dia tak bekerja, dia tak blh makan, atau anak2nya tiada yg menanggung, atau keluarga suaminya tidak mampu menanggungnya, walhasil, dia ada sebab yg menyebabkan dia tidak boleh berhenti kerja, tapi sebab dan daruratnya itu perlu diambil kira oleh syarak dan bukan oleh diri sendiri. Jadi, dlm hal ini, dia boleh keluar bekerja tetapi tetap tidak blh meninggalkan tuntutan lain seperti berhias, dan melakukan hanya yg diperlukan sahaja dan keluar dari rumah pergi kerja, dan kemudian pulang ke rumah, dan tidak pula singgah di tmpt2 yg tak berkaitan. Kalau nak pergi kedai, cuma utk keperluan beli makanan dan minuman sahaja.

Wallahu'alam bissawab.
Semoga bermanfaat.

Via Sidna Bakri

KEWAJIPAN BERSUHBAH

اللَّهُــــــــــــــمَّ صَلِّ عَلَى سيِّــــــــدِنَا محمدٍ الفاتِـــــــــحِ لِمَا أُغْلِــــــــــــــقَ والخَـاتِــــــــــــــــمِ لِمَا سَبَــــــــــقَ، نَاصِـــــــــرِ الحَقِّ بالحـــــــــــــــــقِّ، والهـــــــــــــــــادِي إلى صِرَاطِـــــــــكَ الْمُسْتَقِيـــــــــــــــــــمِ، وَعَلَى آلِهِ حـــــــــقَّ قَدْرِهِ ومِقْــــــــــــدَارِهِ العَظِيــــــــــــــمِ.

........
#Kewajipan bersuhbah dengan murabbi
#izin khas

Bahawasanya seorang salik tidak akan sampai ke hadrah Allah SAW hadrah sifatNya dan hadrah asma’Nya melainkan melalui izin khas dari ahlinya…
walaupun  terhimpun pada diri seorang salik itu segala ilmu ilmu orang terdahulu dan orang terkemudian..
sesungguhnya para sahabat dinamakan sahabat kerana mereka itu bersuhbah dengan Rasulullah SAW :
sebab itulah dinamakan para sahabat  Rasulullah SAW dengan nama sahabat,dan tidak dipernamakan dengan mujahidin,ahli zikir, kaki solat..dan lainnya….
tidaklah mereka memperolehi sesuatu yang berharga melainkan dengan sabab mereka ini bersahabat dengan Rasulullah SAW
telah bertanya salah seorang daripada kalangan sahabat Rasulullah kepada Baginda  ,yaitu tatkala Baginda SAW hampir wafat :

" مَنْ نَصْحَب مِنْ بَعْدِكَ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تُذَكِّرُكُمْ فِي اللهِ رُؤْيَتُهُ وَيَزِيدُ فِي عِلْمِكُمْ مَنْطِقُهُ وَيُرَغِّبُكُمْ إِلَى الآخِرَةِ عَمَلُهُ "

ertinya:
setelah kewafatan kamu..,kami akan bersahabat dengan siapa wahai Rasulullah   …!!
Lalu Baginda menjawab:
“ bersahabatlah kamu dengan orang yang mengingatkan kamu kepada Allah Y apabila kamu melihatnya,
…dan menambahkan  ilmu kepada kamu,nisbah tutur kata kebaikan,
… juga ia dapat memberi rangsangan kepada kamu dalam melakukan amalan  untuk akhirat….”
Lihatlah……!!!... Wahai  hamba hamba Allah…….!! 
Sebaik baik hamba Allah Y di atas muka bumi, setelah para nabi nabi adalah para sahabat…
Mengapakah mereka ini adalah  sebaik-baik manusia setelah para Nabi…???
kerana mereka telah bersahabat dengan penghulu nabi nabi,dan pemimipin orang orang  pilihan …,Mereka ini…, berterusan bertanya  kepentingan bersuhbah  kepada Rasulullah  ,
kerana itulah, antara perkara yang terakhir yang diminta oleh Rasulullah   kepada para sahabatnya,iaitu dalam wasiatnya kepada para sahabat, adalah dengan wasiat : bersahabat dengan Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar  …
sabda Rasulullah :
" إِقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ "
Ertinya :
Ikutlah kamu dengan kedua-dua orang ..selepasku ,iaitu  Abu Bakar  dan Umar….
Petunjuk dan  isyarat yang kita dapat dari perkataan yang lalu ialah , bahawa agama islam itu itu tidak boleh diperolehi secara hakikat yang sebenar melainkan melalui persahabatan yang  khususi daripada ahlinya..
Sabda Rasulullah :

" أَلاَ إِنَّ القُلُوبَ تَتَلاَقَحُ كَمَا يَتَلاَقَحُ الذَّكَرُ وَالأُنْثَى "
“Ertinya:
adakah kamu tidak tahu? Bahawasanya  hati hati itu saling bercampur aduk seperti bercampur aduknya lelaki dan perempuan..”
Sabda Rasulullah SAW :

" الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ "

Ertinya:
“ seorang lelaki itu ,mengikut agama kawannya, lihatlah  salah seorang daripada kamu ,siapakah yang ia hendak jadikannya  kawan….
Berkata lmam Assaahili RA di dalam kitab Bughyatus salik :

" أنَّ مَنْ رَامَ الوُصولَ إلى حضرةِ الله بِنفسِهِ مِنْ غيرِ إسْتِصْحَابِ شيخٍ مُرشِدٍ وارثٍ كاملٍ قدْ رَامَ المُحالَ ولوْ جَمَعَ جميعَ العُلومِ وصَحِبَ جميع الطَّوائفِ "

Ertinya :
Barang siapa yang  bercita-cita untuk sampai ke dalam hadrah AllahY dengan sendirinya,tanpa bersuhbah dengan mana-mana syeikh –syeikh yang mursyid,yang waris lagi  kaamil…
Sesungguhnya ia bercita-cita kepada sesuatu yang mustahil untuk di perolehi akannya…,dan jikalau ia menghimpunkan pada dirinya segala ilmu-ilmu danjuga  jikalau ia bersuhbah dengan semua kumpulan yang ada…

..........
jenis wali 4 :
syuhudul mumasalah:
Yaitu menyaksikan diri auliya itu ada persamaan dengan dirinya..
Itulah halangan yang sangat besar bagi seorang hamba terhadap wali wali Allah
seperti mana terhalangnya orang orang terdahulu daripada mengenali Nabi-Nabi terdahulu..
Seperti mana  yang disebut dalam Alquran:

" مَا هَذَا إِلاَّ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ "
Ertinya:
Tidaklah ia(diri Rasulullah ) melainkan manusia biasa seperti kamu,ia makan seperti mana kamu makan,dan ia minum seperti mana kamu minum, dan jikalau kamu mentaati seseorang yang seperti kamu,nescaya kamu termasuk daripada kalangan orang-orang yang  rugi…
Dan firman Allah SWT :

" وَقَالُوا مَا لِهَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الأَسْوَاقِ "

Ertinya:
Mereka itu(orang2 kafir) berkata:  
"apakah  keistimewaan yang ada bagi Rasul ini? Memakan makanan,dan berjalan di pasar-pasar…."
Dengan sebab inilah orang kafir mempernamakan sayyidul wujud dengan nama “yatim Abi Tolib”  , 
..dan dengan panggilan “Ibnu Abi Kabsyah(seorang lelaki yang tinggal berseorangan ,jauh daripada kalangan arab Quraisy(kafir2),
menjauhkan diri daripada mereka dan penyembahan mereka)
dan juga ibnu Abi zu’aib..(nama kepada bapa Sayyidah Halimah Sa’diyah,ibu susu Rasulullah SAW  )
Disebut dalam kitab hikam Atoi’illah assakandari:

" إذا أرادَ اللهُ أنْ يُعرِّفَكَ بِوَلِيٍّ مِنْ أوليائِه طوَى عنْك بَشَرِيَّتَهُ وأشْهدَكَ وُجودَ خُصُوصِيَّتِهِ "

Ertinya :
“apabila Allah SAW hendak memperkenalkan kepada kamu seorang wali daripada kalangan auliyanya,maka ia akan memejamkan mata engkau daripada melihat sifat kemanusian yang ada pada diri seorang wali itu, dan memperlihatkan  keistimewaan khusus yang wujud  pada diri wali itu…”

Sidna Bakri

..........
Dan Awliyalillah itu tetap akan wujud pada setiap zaman kerana merekalah penerima warasah kenabian yg akan meneruskan memikul amanah dan tanggungjawab kerja2 kenabian. Berharaplah dan berdoalah utk menjadi org2 yg diberi nikmat utk berdamping dgn Awliyalillah, kerana sesungguhnya inilah sebesar besar nikmat bagi orang orang yg beruntung.

MUKJIZAT RASULULLAH

MUKJIZAT NABI MUHAMMAD SAW .

“Isnin 12 dari bulan Rabi’ul Awwal.20 April 571 Masehi.Hari yang padanya aku dilahirkan, padanya aku dibangkitkan menajdi Rasul dan padanya Al-Quran diturunkan kepadaku."

Disini dikisahkan beberapa dari sekian banyak mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT kepada Mabi muhammad saw.

Dipotongnya Rambut Nabi SAW
Ketika Nabi Muhammad saw sedang membaca Al Qur’an pada malam Isnin di rumahnya, datanglah Malaikat Jibril menemuinya.
Jibril segera berbicara kepada Rasulullah saw, "Aku membawa perintah dari Tuhan Yang Mahasuci, bahwa rambut Anda harus dipotong, dan jangan khawatir."
Nabi saw berkata, "Hai Jibril, siapakah yang akan menghadapiku nanti. Dan siapa yang mencukurnya. Dari mana pakaiannya yang akan kupakai nanti."

Malaikat Jibril menyampaikan pertanyaan tersebut kepada Allah SWT. Katanya, "Ya Tuhanku, aku datang akan mengabarkan bahwa kekasihmu benar-benar telah rela atas perintah keharusan dipotong rambut. Tetapi sekarang ini, ya Tuhan, ada permohonannya, bahwa siapa yang mendapat izin menyaksikan ketika kekasihmu dipotong. Siapa yang memotongnya, dan juga dari mana Allah akan memberi pakaiannya."
Allah berfirman kepada Jibril bahwa yang akan memotongnya adalah Jibril, yang berdiri di hadapannya adalah cahaya Sang Pencipta langit dan bumi sedangkan pakaiannya diambil dari sorga, selembar daun pohon Tuba yang berwarna hijau dengan cahayanya yang bening. Anugerah Allah kepada Nabi Muhammad saw melebihi atas semua nabi dan rasul.

Jibril segera mengambil kain dari selembar daun pohon Tuba yang suci. Yang bercahaya begitu terang bagaikan sinar sang surya. Yang akan diberikannya kepada Rasul saw sebagai penutup badannya saat bercukur. Difirmankan dari Allah SWT bahwa daun Tuba itu sebagai anugerah dari Allah atas kenabian Muhammad saw.

Setelah tiba di hadapan Rasulullah saw, beliau kembali menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang pernah diajukan sebelumnya. Malaikat Jibril pun menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Jibril mulai memotong rambut Rasulullah saw pada hari isnin tanggal 19 Ramadhan di hadapan para sahabatnya. Sesuatu yang menakjubkan bahwa helaian rambut beliau tidak ada yang jatuh ke tanah.
Nabi saw pun menanyakan hal itu, "Hikmah apa yang terkandung bahwa rambutku tidak ada yang jatuh satu helai pun ke atas tanah?"
Jibril menjawab, "Demi banyaknya rambut ini, jumlah rambutmu yang berada di kepalamu aku telah menghitungnya 126.666. Sementara itu, Bidadari-bidadari turun dari sorga untuk meminta rambutmu atas perintah Yang Agung."

Allah berfirman kepada para bidadari, "Kalian seluruh Bidadari, cepatlah turun ke dunia, Nabi-Ku sedang dipotong rambut. Kalian semua masing-masing mintalah rambut satu lembar. Hormatilah olehmu rambut Rasulullah. Ikatkan dengan baik rambut itu sebagai azimat agar diampuni dosamu,"
Bidadari-bidadari itu segera turun ke bumi untuk mengambil rambut Rasulullah saw. Kemudian mereka mengikatkannya ke jari kelingking kanannya masing-masing.

Nabi Muhamad Saw Menyusuri Langit Bersama Jibril, Rasulullah saw mikraj menemui Allah SWT melalui tangga emas yang dihiasi mutiara dan permata yang berasal dari sorga. Perjalanan akan melalui langit yang tujuh lapis. Namun pada setiap anak tangga, mereka berdua telah menjumpai pemandangan-pemandangan yang menakjubkan bagi Rasulullah saw. Pada anak tangga pertama, Rasulullah saw melihat tujuh ribu barisan malaikat yang seluruhnya mengenakan mahkota emas seraya mengucapkan: ‘Subhanallah Wabihamdihi’.

Di anak tangga yang kedua dilihatnya pula barisan malaikat bermahkotakan emas, namun ada perbezaannya dengan malaikat-malaikat tadi, yaitu di dahinya tertulis ‘Subhanallahi Wabihamdihi, Subhanallahi Malikul Quddusi’.

Selanjutnya di anak tangga yang ketiga, mereka menjumpai malaikat yang berjumlah 300.000 berpakaian penuh ragamnya dan bermahkotakan emas pula. Dari mulutnya terpancar cahaya. Nabi Muhammad saw bertanya kepada Jibril mengenai mereka.
Dijawab oleh Jibril ‘alaihissalam, "Siapa saja umatmu yang membaca seperti yang dibaca oleh para malaikat itu yang berbunyi ‘Astaghfirullaah’, apabila mereka menguap, maka begitu pula cahaya yang akan keluar dari mulutnya”.

Pada anak tangga yang keempat, dijumpai malaikat-malaikat yang begitu banyak jumlahnya, yang hanya Allah saja mengetahui berapa banyak jumlahnya. Mereka senantiasa mengucapkan ‘La Ilaha lila Huwal Mubin’. Bacaaan itu, menurut malaikat Jibril, berfaedah menjadikan orang yang membacanya diampuni dosa-dosanya.

Di anak tangga kelima, mereka melihat para malaikat yang raut wajahnya bagaikan bulan purnama. Masing masing mengucapkan ‘Asyhadu An Laa llaha lllallaah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullaah’. Dan juga senantiasa mengucapkan tahmid (Alhamdulillah). Di sini, Rasulullah saw juga melihat dua cahaya yang berdampingan bagaikan dian yang tak kunjung padam. Gemerlapnya begitu dahsyat.
Rasul saw pun menanyakan mengenai hal itu, "Wahai Jibril, cahaya apakah gerangan yang kulihat itu. Dua berdampingan."
Jibril a.s. menjawab, "Wahai Muhammad, itulah tempatnya nyawa. Pada bagian sebelah timur, itulah yang disebut Baitul Mukmuran, yaitu tempat bersemayamnya nyawa yang tidak digunakan di dunia, adapun nyawa yang sudah digunakan, itulah yang dinamakan Jabatul Hannanu, yaitu tempat nyawa-nyawa yang sudah digunakan di dunia Kemudian tinggal tergantung di ‘Arsy."

Dalam sekejap mata seperti juga yang terjadi pada perjalanan sebelumnya mereka berdua telah sampai di anak tangga keenam. Lalu pada yang ketujuh. Anak tangga ini berjumlah tidak kurang dari 50 buah hingga langit ketujuh.

Kini, sampailah Rasulullah saw di langit yang pertama. Setelah meminta izin terlebih dahulu kepada malaikat penjaganya, mereka berdua masuk ke langit ini. Para malaikat mengaturkan sujud penghormatan bagi makhluk mulia, Nabi Muhammad saw. Di sini, Jibril mengajak Rasulullah saw berjalan-jalan melihat keadaan sekitar. Di tempat ini, terlihat bintang-bintang yang gemerlapan di angkasa luas. Kemudian Jibril mengumandangkan azan untuk melaksanakan salat. Dengan diimami oleh Rasul saw, para malaikat bermakmum salat sunat dua rakaat. Di langit pertama ini juga dilihat bulan oleh Rasulullah saw.
Kemudian perjalanan dilanjutkan ke langit kedua. Di langit ini, para malaikat mengucapkan salawat ketika mengetahui kedatangan makhluk utama, Nabi Muhammad saw. Di langit kedua ini juga dilaksanakan salat sunat.

Pada lapisan langit yang ketiga, Rasul SAW menjumpai seorang lelaki yang tengah duduk di atas kursi cahaya dengan dikelilingi oleh para malaikat yang bermahkotakan emas.
Nabi SAW pun mengucapkan salam kepada lelaki itu. Namun, ia tidak langsung menjawabnya, melainkan bertanya terlebih dahulu kepada Jibril, "Siapa yang memberiku salam?"
Jibril menjawab, "Tidakkah kamu mengetahui Muhammad, orang pilihan Allah Ta’ala serta diberi keselamatan."
Orang itu adalah Nabi Adam. Beliau sangat gembira mengetahui siapa yang memberi salam tadi. Segera Rasul saw dihampiri dan diciumnya. Rasulullah SAW belum mengetahui siapa orang yang tengah dihadapinya, dan ditanyakanlah kepada Jibril.

Nabi Adam a s. itu akan menangis ketika duduk kemudian menengok ke sebelah kiri, karena menyaksikan anak cucunya yang berada di dalam neraka. Dan akan tertawa, apabila melihat ke sebelah kanan, karena dilihatnya anak cucunya berada di sorga. Di tempat ini, Rasul SAW juga melaksanakan salat sunat bersama para malaikat dan Nabi Adam a.s.
Kini perjalanan dilanjutkan kembali menuju langit keempat. Di langit ini mereka menjumpai seekor ayam berbulu putih. Mulut, mata, dan kakinya berwarna kuning. Di lidahnya dihiasi dengan permata yang berasal dari sorga. Di matanya dihiasi intan. Potoknya berwarna emas murni.
"Ayam apa gerangan itu, wahai Jibril," tanya Nabi saw.
Jibril menjawab, "Itulah ayamnya ‘Arsy. Kalau berkokok di sepertiga terakhir malam, akan mengikuti pula ayam-ayam yang ada di bumi. Kokoknya mengatakan, Wahai segenap yang tidur, bangunlah kalian semua. Lalu sampaikan puji-pujian kepada Allah Ta’ala, agar kamu semuanya diberi rahmat Allah Ta’ala di akhirat’."
“Adapun bunyi kokoknya di siang hari ialah, ‘Sadarlah kalian seluruhnya atas keesaan Allah Ta’ala’ Mudah-mudahan kamu semua tidak dimasukkan-Nya ke dalam neraka."

Di tempat lain, mereka menjumpai malaikat yang tengah duduk di atas kursi yang bercahaya api, dalam keadaan yang sangat marah seraya memegang sabuk yang berasal dari api neraka. Pada setiap sabuknya ada delapan puluh orang yang mendapat hukuman. Apabila sabuk itu disimpan di atas bumi, akan hancurlah bumi ini.
Nabi Muhammad saw menyampaikan salam kepada malaikat tersebut. Namun, ia tidak menanggapinya. Maka Allah Ta’ala pun mengingatkannya, "Wahai malaikat si penjaga neraka. Kenapa engkau tidak sudi menyahuti salam orang yang Kurahmati. Sesungguhnya Aku tidak menciptakan engkau bersama dengan neraka dan sorga beserta seluruh isinya, kalau bukan karena Muhammad. Maka dialah yang kuinginkan mendapat kebesaran dan kemuliaannya."
Bergetarlah malaikat penjaga neraka menerima teguran dari Allah Ta’ala tersebut. Berkata Malaikat Jibril a.s., "Wahai Malaikat, tidakkah engkau mengenal orang yang dirahmati Allah Ta’ala di dua dunia."
Malaikat Penjaga Neraka itu berkata, "Wahai Muhammad, mohon kiranya dengan sangat engkau memaafkanku. Sebab saya ditakdirkan oleh Allah Ta’ala berwajah pemarah yang kutunggu ialah umatmu yang tidak mengikuti kelakuanmu. Akan Kuambil seluruh perlakuan buruknya yang sudah dilakukannya di dunia." Kemudian Nabi saw meminta untuk dibukakanya pintu neraka.

Malaikat Penjaga Neraka itu berkata, "Wahai Muhammad, tidak akan kubiarkan pintu neraka dibuka sebelum dunia kiamat."
Namun tiba-tiba terdengar suara yang berbunyi, "Bukakanlah pintu neraka, sebab tidaklah kuciptakan dunia itu bersama isinya kalau bukan karena Muhammad."
Akhirnya pintu neraka itu pun dibukakan untuk Nabi Muhammad saw. Seandainya neraka bocor sebesar lubang jarum saja, maka akan gelaplah langit dan bumi.

Rasul saw dan Jibril a.s. masuk ke dalamnya. Pertama yang dijumpainya adalah seorang laki-laki yang tengah disiksa dengan cara direbus di dalam dulang api neraka lalu dikait dengan besi. Lidahnya terjulur hingga ke tanah. Ketika Rasul saw menanyakan kepada Jibril perihal orang itu, maka dijawabnya, "Itulah umatmu yang menganiaya sesamanya, dan ia tidak bertobat sampai meninggalnya."
Kemudian dilihat ada sebuah rumah di dalam neraka. Di dalamnya terdapat tujuh puluh orang yang tengah disiksa. Ada lagi seorang laki-laki yang tengah dirantai kakinya. Rantainya membara karena terbuat dan api neraka. Kedua matanya ditusuk dengan besi. Mulutnya dituangi dengan timah panas yang meleleh. Tulang-belulangnya terkelupas terbakar api dan seraya terpangganglah ia di atas api neraka. Nabi saw bertanya, "Siapa gerangan yang disiksa sedemikian itu?"
Jawab Jibril bahwa itu adalah umat Nabi saw yang selalu bertikai dan saling konflik di antara mereka.
Terlihat pula sekelompok orang yang tengah disiksa dengan cara kepalanya berada di bawah, wajahnya terbalik menghadap ke belakang. Mukanya diserupakan dengan wajah babi. Sementara kedua tangannya terpotong. Tiba-tiba ia terlontar ke dalam api neraka yang tengah menyala-nyala. Jelas Jibril bahwa itu adalah umat Nabi saw yang sering mangambil hak milik sesama, serta busuk hatinya terhadap sesamanya juga.

Di tempat lain, Nabi SAW menyaksikan seorang penghuni neraka yang meraung-raung yang suaranya terdengar hingga ke langit ke tujuh, la adalah orang muda yang mati tidak bertobat.
Ada juga orang yang disiksa mulutnya dikait dengan besi yang lidahnya menjulur ke tanah, la adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya hingga matinya.
Disaksikan pula seorang wanita yang berada di tengah api neraka. Wajahnya menghadap ke belakang. Lidahnya dituangi dengan cairan timah yang yang sedang mendidih. Mulutnya ditusuk dengan besi yang membara. "Itulah umatmu yang berkunjung ke tetangganya (pergi ke luar) tanpa mengenakan kerudung (jilbab)," jelas Jibril.
Dilihatnya juga seorang wanita yang tengah berada di atas, sedangkan kemaluannya ditusuk dengan besi dan menembus hingga ke mulutnya. Sementara itu kedua tangannya memegang erat bara api. la disiksa demikian karena sering pergi ke luar rumah tanpa seizin suaminya.
Peninjauan di dalam neraka dirasa sudah cukup. Mereka berdua pun keluar.

Selanjutnya didirikanlah salat sunat bersama para malaikat.
Kini mereka pergi menuju ke langit kelima. Di langit ini mereka menjumpai seorang laki-laki berada di tempat yang terbuat dari besi bersama para malaikat yang bermahkotakan emas "Siapakah itu wahai Jibril," tanya Nabi saw.
"Itulah Nabi Isa alaihiasalam," ujar Jibril a.s.
Nabi saw pun menghampiri untuk menyalaminya. Namun, Nabi Isa belum menanggapinya, dan bertanya kepada Jibril mengenai siapa orang yang menghampirinya itu. Ketika mengetahui siapa yang tengah berada di hadapannya, Nabi Isa segera mencium Nabi Muhammad saw. Lalu mereka melaksanakan salat sunat.

Kini, perjalanan mikraj sudah berada di langit keenam. Di sini mereka menjumpai seorang laki-laki yang duduk di atas kursi cahaya. Dikelilingi oleh para malaikat. Ia adalah Nabi Musa ‘alaihiasalaam.
Nabi Musa menanyakan orang yang ada di hadapannya tersebut "Itulah orang yang dirahmati oleh Allah Ta’ala. la hendak naik ke langit menjumpai Tuhannya," ucap Jibril.
Dihampirilah Nabi Muhammad saw oleh Nabi Musa a s. seraya berpesan bahwa apabila telah kembali dari ‘Arsy, hendaklah singgah terlebih dahulu di tempatnya. Agar diketahui mengenai apa-apa yang disaksikan dan diberikan oleh Allah Ta’ala kepada Rasul saw.
Kemudian Jibril mengumandangkan azan tanda akan didirikannya shalat bersama Nabi Musa dan para malaikat.

Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Menyeberangi lautan-lautan yang begitu luas dan daerah-daerah yang penuh cahaya terang benderang. Melewati pula daerah-daerah yang gelap. Tiap macamnya dipisahkan oleh jarak 500 tahun perjalanan, la melewati tabir-tabir keindahan, kesempurnaan, rahasia keagungan. Di balik itu, terdapat 70.000 kelompok malaikat yang tengah bersujud. Mereka akan sujud dan tidak meninggalkan tempat, hingga hari akhir kelak.

Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril kini berada di langit ketujuh Mereka menjumpai sebuah pohon yang sangat besar. Selembar daunnya saja masih lebih lebar dari planet bumi ini. Rasul saw meminta buah pohon tersebut kepada Malaikat penjaganya, namun ia menolaknya karena takut kepada Allah yang menugaskan menjaga pohon tersebut.
Jibril menegur Malaikat penjaga itu, "Wahai Malaikat, kenapa engkau enggan memberikan buah pohon Katubi itu. Tidakkah engkau mengenal orang yang dirahmati Allah Ta’ala ini."
Jibril pun mengambil buah pohon tersebut. Ternyata, di dalam buah itu terdapat.seorang anak bidadari. Seorang wanita yang mengenakan pakaian yang beragam coraknya. Bidadari itu akan dianugerahkan juga oleh Allah Ta’ala kepada umat Nabi Muhammad saw yang mengikuti akhlak beliau.
Setelah diperintahkan oleh Rasul saw, bidadari itu pun masuk kembali ke buahnya. Setelah itu mereka berdua melanjutkan perjalanannya kembali. Di suatu tempat, dijumpai banyak malaikat yang berada di sekitar sebuah pohon.

"Pohon apakah itu, wahai Jibril," tanya Nabi saw.
"Itulah yang dinamakan pohon Sidratul Muntaha," kata Jibril.
Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada sorga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (Q.S. 53:13-16)

Pada daun-daunnya ditulis mengenai umur setiap yang bernyawa. Nabi saw menghampiri seorang malaikat yang menjaga pohon tersebut, dan memberinya salam. Namun malaikat tersebut tidak menyahutnya. Jibril segera menegur malaikat tersebut. Mengetahui mengenai keberadaan Nabi saw malaikat itu pun segera a menjawab salamnya.
"Wahai Malaikat, apakah engkau yang menjaga (pohon) Sidratul Muntaha?" tanya Nabi saw.
"Sayalah Malaikat Maut," ujar sang Malaikat.
"Betapa banyak orang yang meninggal dunia dalam sehari semalam. Engkaukah yang mengambil nyawa mereka seluruhnya," tanya Nabi saw.
"Wahai Muhammad, itulah sebabnya ada sebanyak 700.000 pimpinan laskar malaikat pencabut nyawa. Sedangkan tiap-tiap pimpinan itu memimpin 700.000 malaikat. Saya hanya tinggal memperhatikan dedaunan itu. Jika tulisannya tanggal, Aku perintahkan malaikat pergi menjemput nyawanya si fulan di negeri anu," kata Malaikat Maut. "Jika saya ingin melihat seluruh isi dunia, hanya bagaikan sebuah cangkir yang kulihat di hadapanku. Tidak satu pun isi dunia yang luput dari penglihatanku."

Mereka berdua menjumpai pula sekelompok malaikat. Malaikat-malaikat tersebut disapa oleh Nabi saw, namun mereka tidak menjawabnya. Kemudian Allah menegur mereka. Teguran itu menghentakkan hati para malaikat tersebut. Pintanya kepada Nabi Muhammad saw. "Mohon dengan sangat, sudikah engkau memaafkan diriku. Sebab saya sudah ditakdirkan untuk tidak berkata-kata sebelum dunia kiamat."
Ada lagi kelompok malaikat yang berjumlah tujuh ribu orang. Setelah diperhatikan oleh Nabi saw, mereka terdiri atas empat jenis wajah. Ada yang berwajah mirip kerbau, ayam, manusia, dan macan.
Malaikat berwajah mirip kerbau adalah kelompok malaikat yang bertugas untuk menyebarkan rezeki bagi setiap ternak yang dimakan dagingnya. Kelompok malaikat yang berwajah mirip manusia bertugas untuk menyebarkan rezeki bagi setiap manusia. Malaikat yang berwajah mirip ayam bertugas untuk menyebarkan rezeki bagi setiap haiwan unggas. Sedangkan malaikat yang berwajah mirip macan menyebarkan rezeki bagi semua binatang buas.

Di tempat lain, Nabi saw melihat malaikat yang kepalanya berjumlah tujuh ribu. Setiap kepala memiliki tujuh ribu rupa. Setiap rupa memiliki tujuh ribu mulut Setiap mulutnya memiliki tujuh ribu lidah. Di dalam satu lidahnya memiliki tujuh ribu bahasa yang dikuasainya, seluruhnya senantiasa memuji Allah Ta’ala. Malaikat ini selalu mendoakan keselamatan bagi orang yang berangkat menunaikan salat, orang yang tengah menuntut ilmu, dan mereka yang berpuasa di bulan Ramadhan.

Kini perjalanan sudah sampai pada tujuannya. Bumi dan langit menjadi terlihat satu, dan hampir tidak dapat dilihat. Berada di depan hadirat Allah Ta’ala. Jibril membawakan usungan dari sorga untuk membawa Nabi saw. Tidak memiliki tiang dan tidak ada gantungannya. Dindingnya terpasang sutera. Beralaskan ambal. Kemudian Rasul saw menaikinya untuk pergi ke ‘Arsy tempat bersemayamnya kekuasaan kebesaran Allah SWT.
Beliau harus melalui delapan puluh dinding cahaya. Ada pula beraneka ragam cahaya lainnya yang dapat disaksikan. Yang membuat Rasulullah saw terkesima. Tujuan pun telah sampai. Di sini tidak ada timur dan barat; tidak diketahui pula utara dan selatan. Merendah dirilah Sang Nabi SAW di hadapan Allah SWT.

Firman Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad SAW, "Wahai Muhammad, Aku sudah berada di hadapanmu. Tidak ada sesuatu yang mengantarai kita. Sama halnya dekatnya padi pada batangnya”.
Rasa takut mulai menyelimuti diri Rasul SAW, karena dirinya kini telah ada di hadapan Raja Segala Raja Alam Semesta. Beliau memuji Allah,
"Attaahiyaatul Mubaarakaatuh Asshalawaatu Lillaah."
Allah Ta’ala berfirman, "Assalaamu ‘Alaika Ayyuhannabiyyu Warahmatullaahi Wa Barakaatuh”.
"Wa alaa Ibaadillaahis-Shaalihiina. AsyhaduAn Laa llaaha Ilallaah," ujar Nabi saw.
"WaAsyhadu Anna Muhammadan Rasuusullaahi. Kuberikan kepadamu salat delapan puluh waktu sehari semalam. Bersama Qul Huwallaahu Ahad, QulA’uudzu, kedua-duanya, bawakanlah kepada umatmu”.
"Kujadikan alam beserta isinya hanya karena engkau, wahai Muhammad. Banyak sekali nabi yang Kuciptakan. Engkaulah yang paling Kukasihi. Engkau pulalah pengganti-Ku. Adapun Jibril, hanya Kujadikan utusan. Sedangkan engkau, wahai Muhammad, Engkaulah yang mewujudkan kemuliaan-Ku serta Kebesaran-Ku," firman Allah Ta’ala.
Pertemuan Tuhan dengan Makhluk-Nya itu pun berakhir. Beliau keluar dari lingkungan ‘Arsy. Usungan tadi membawa kembali dengan sendirinya kehadapan Jibril.

Nabi Muhammad saw mempersiapkan kembali perjalanannya untuk pulang ke bumi.
Dalam perjalanan pulang itu, Nabi saw menjumpai sebuah kota. Beliau mencoba melihat-lihat keadaan di dalamnya. Di sana dilihat ada sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari emas dengan berhiaskan permata yang beraneka ragam. Tiangnya terbuat dari mutiara, dan Rasul saw mencoba melihat rumah tersebut dari atasnya. Ada sebuah gelas yang unik. Gelas itu tidak ada penyangganya, sedangkan di dalamnya terdapat seorang perempuan yang cantik jelita. Badannya bercahaya lebih terang daripada sinar matahari, apalagi bulan.
Setelah dijelaskan oleh sang perempuan itu, diketahuilah bahwa ia adalah bidadari yang dipersiapkan untuk para syuhada.

Dari tempat ini, Nabi Muhammad saw beranjak ke suatu tempat yang di dalamnya terdapat sebuah rumah besar. Dindingnya terbuat dari cermin yang beralaskan batu permata merah. Dan bubungannya terbuat dari permata zamrud. Kemudian ditemuinya pula empat buah sungai. Sungai madu,sungai susu, sungai tuak, dan sungai air bening. Di pinggir-pinggir sepanjang sungai tersebut berhamburan permata. Tidak lama kemudian ada seorang malaikat yang mengambil secangkir dari setiap air sungai itu. Kemudian dibawakan ke hadapan Rasulullah saw untuk dipilih sebagai minumannya.

Rasulullah saw pun memilih secangkir susu. Lalu diminumnya hingga tersisa setengah cangkir. Kemudian didengarlah ada suara yang mengatakan, "Wahai Muhammad, seandainya engkau meminum susu itu sampai habis, maka seluruh umatmu (akan menjadi) penghuni sorga."
Segera setelah mendengar suara itu, Rasulullah saw akan meminumnya kembali. Namun kata malaikat tadi, "Wahai Muhammad, sungguh sudah tidak diridhai Allah Ta’ala."
Suara tak berwujud itu terdengar lagi, "Sekiranya tuak itu yang engkau minum, maka umatmu berada dalam genggaman syaitan Wahai Muhammad, sekiranya madu itu yang engkau minum lebih dulu, maka umatmu akan lebih besar perhatiannya kepada dunia daripada akhiratnya."

Dari tempat itu, mereka berdua berjalan lagi dan menjumpai lagi komplek perumahan yang sangat banyak jumlahnya. Dinding-dindingnya terbuat dari cermin Di dalam setiap rumah itu terdapat empat puluh kamar. Setiap kamarnya ada empat puluh anak bidadari yang tengah menari-nari. Menurut Jibril, itu semua diperuntukkan bagi umat Nabi Muhammad SAW yang memiliki iman yang tebal. Yang senantiasa memuliakan alim ulama. Serta berakhlak mulia terhadap sesama muslim dan manusia lain.
Selanjutnya Nabi SAW dan Jibril menyaksikan jenis tumbuh-tumbuhan yang memiliki empat puluh rupa. Setiap rupanya berbuah empat puluh butir. Setiap buahnya memiliki empat puluh rasa.
Rasul saw penasaran mencoba menanyakannya kepada Jibril, "Rumah apa namanya itu, sedemikian banyak tanamannya."
"Itulah nantinya yang bakal dijanjikan untuk menjamu mereka vang mencintai agamanya. Serta senantiasa melaksanakan saum di bulan Ramadhan. Serta murah hatinya terhadap sesama makhluk ciptaan Allah," jawab Jibril.
"Ceritakanlah kepada kaummu, sepanjang yang engkau lihat."
"Niscaya tidak akan percaya orang-orang Arab itu," ujar Rasul saw.
Menyahutlah Jibril, "Walaupun orang-orang Arab tidak akan mempercayaimu, dan biarkanlah pula kaum Nasrani itu mendustakanmu.”

Akhirnya mereka berdua turun ke langit berikutnya. Di tengah perjalanan, mereka bertemu kembali dengan Nabi Musa a.s Beliau bertanya, "Apa saja yang diberikan Tuhan kepadamu”.
Nabi saw menjawab “Salat delapan puluh kali sehari semalam, bersama Quran sebanyak tiga puluh Juz dan (termasuk) Al Fatihah."
"Hai Muhammad, umatmu tidak akan mampu menunaikan salat delapan puluh kali sehari semalam," sahut Nabi Musa as.. "Mintalah yang ringan dalam salat."
Mendengar saran dari Nabi Musa itu, Rasul saw menyetujuinya dan kembali lagi ke hadirat Allah untuk mengajukan permohonan keringanan, Allah SWT berkenan untuk mengurangi jumlah rakaat salat menjadi lima puluh rakaat.
Dalam perjalanan turun kembali, mereka berdua bertemu lagi dengan Nabi Musa a.s., dan ia menanyakan mengenai hasilnya. Setelah diberitahu, Nabi Musa as. menyarankan lagi kepada Rasul saw, agar diberi keringan lagi, karena umatnya masih akan tetap belum sanggup. Rasul saw lagi-lagi menerima usulan tersebut. Dan naiklah kembali ke ‘Arsy.

Di ‘Arsy, Allah SWT kembali menerima tuntutan keringanan jumlah rakaat shalat yang diajukan oleh Nabi saw. Saat itu rakaat salat menjadi 45 rakaat. Namun ada tambahan perintah, yaitu puasa di bulan Ramadhan, puasa sunat enam hari di bulan Syawal, dan beribadah haji.
Setelah itu, Rasul saw kembali turun hendak meneruskan perjalanannya ke bumi. Namun, ketika berjumpa dengan Nabi Musa a.s., dan mengetahui jumlah rakaat yang telah diterima oleh Rasulullah saw, beliau menyarankan lagi agar minta keringanan kembali. Akan tetapi Nabi saw merasa malu untuk kembali meminta keringanan.
Kemudian terdengar suara, "Wahai hamba-Ku, sudah layaklah ditunaikan oleh umatmu salat lima waktu dalam sehari semalam."
Dalam perjalanan pulang, mereka bertemu lagi dengan Nabi Adam a.s. dan Nabi Isa a.s. Para Nabi itu meminta kepada Nabi Muhammad saw agar menceritakan apa-apa yang telah dialaminya itu.

Allahumma salli `ala muhammadin wa’ali muhammad, kama sallayta `ala ali ibrahim, innaka hamidun majid, Allahumma barik `ala muhammadin wa’ali muhammad, kama barakta `ala ali ibrahim, innaka hamidun majid