Sabtu, 31 Oktober 2020

KALAM IRFANIAH TENTANG HAKIKAT MUHAMMADIAH MENGIKUT QUTUBUL MAKTUM WA KHATMU MUHAMMADI SYEIKH AHMAD ATTIJANI R.A

Menurut Syekh Ahmad al-Tijani pada dasarnya ruh Sayyidina Muhammad adalah awal segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan melalui perantara ruh inilah terjadi seluruh Alam.
Pada bagian lain Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa Nur Nabi Muhammad saw., telah wujud sebelum makhluk lain ada, bahkan Nur ini merupakan sumber semua Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Selanjutnya dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Nur Nabi Muhammad saw., menurutSyekh Ahmad al-Tijani adalah al-Haqiqat al-Muhammadiyah.Selanjutnya dikatakan, bahwa pada dasarnya tidak seorangpun dalam martabat al-Haqiqat al-Muhammadiyah bisa mengetahuinya secara utuh. Pengetahuan orang shalih (Wali, Sufi) terhadap al-Haqiqat al-Muhammadiyah ini berbeda-beda sesuai dengan maqamnya masing-masing. Dalam hal ini Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan :
...طائفة غاية ادراكهم نفسه صلى الله عليه وسلم وطائفة غايةادراكهم قلبه صلى الله عليه وسلم وطائفة غاية اداكهم عقله صلى اللهعليه وسلم وطائفة وهم الاعلون بلغوا الغاية القصوى فى الادراكفادركوا مقام روحه صلى الله عليه وسلم.“
Diantara wali Allah ada yang hanya mengetahui jiwanya (al-Nafs) saja, ada juga yang sampai pada tingkat hatinya (al-Qalb), ada juga yang sampai pada tingkat akalnya (al-Aql), danmaqam yang tertinggi adalah wali yang bisa sampai mengetahui tingkat ruhnya; tingkat ini merupakan tingkat penghabisan (al-Ghayat al-Quswa).”[13]
Rumusan mengenai Ruh Muhammah, Nur Muhammad, (haqiqat al-Muhammadiyyah) ditegaskanSyekh Ahmad al-Tijani melalui dua jenis shalawat yang dikembangkan dalam ajaran thariqatnya yakni shalawat Fatih dan shalawat Jauharat al-Kamal :
• Pertama, tentang Shalawat Fatih :Berikut teks bacaan shalawat fatih:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَنَاصِرِالْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلَى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلَى اَلِهِ حَقَّ قَدْرِهِوَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.Artinya :
“Yaa Allah limpahkanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad saw., dia yang telah membukakan sesuatu yang terkunci (tertutup), dia yang menjadi penutup para Nabi dan Rasul yang terdahulu, dia yang membela agama Allah sesuai dengan petunjuk-Nya dan dia yang memberi petunjuk kepada jalan agama-Mu. Semoga rahmat-Mu dilimpahkan kepada keluarganya yaitu rahmat yang sesuai dengan kepangkatan Nabi Muhammad saw”.
Syarah kandungan shalawat Fatih, walaupun shalawatnya diakui dari Nabi Muhammad saw; mencerminkan pemikiran faham tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani serta pengaruh tasawuf filsafat terhadap pemikiran Syekh Ahmad al-Tijani.
Makna al-Fatih li ma Ughliq pada intinya adalah :
1. Nabi Muhammad adalah sebagai pembuka belenggu ketertutupan segala yang maujud di alam.
2.Nabi muhammad sebagai pembuka keterbelengguan al-Rahmah al-Ilahiyyah bagi para makhluk di alam.
3. Hadirnya Nabi Muhammad menjadi pembuka hati yang terbelenggu oleh Syirik.
Sedangkan makna al-Khatimi li ma Sabaq pada intinya adalah :
1. Nabi Muhammad sebagai penutup kenabian dan kerasulan.
2.Nabi Muhammad menjadi kunci kenabian dan kerasulan.• Tidak ada harapan kenabian dan kerasulan lagi bagi yang lainnya.[14]
Pemikiran-pemikiran (faham) tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani terkandung dalam penafsirannya tentang makna ( al-Fatih li ma Ughliq) dan (al-Khatimlima Sabaq).
Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa "al-Fatih lima Ughliq " mempunyai makna bahwa Nabi Muhammad merupakan pembuka segala ketertutupan
al-Maujud yang ada di alam. Alam pada mulanya terkunci (mughallaq) oleh ketertutupan batin (hujbaniyat al-Buthun). Wujud Muhammad menjadi “sebab” atas terbukanya seluruh belenggu ketertutupan alam dan menjadi “sebab” atas terwujudnya alam dari “tiada” menjadi “ada”. Karena wujud Muhammad alam keluar dari “tiada” menjadi “ada”, dari ketertutupan sifat-sifat batin menuju terbukanya eksistensi diri alam (nafs al-Akwan) di alam nyata (lahir).
Jika tanpa wujud Muhammad, Allah tidak akan mencipta segala sesuatu yang wujud, tidak mengeluarkan alam ini dari “tiada” menjadi “ada”.Syekh Ahmad al-Tijani juga mengatakan bahwa awal segala yang maujud (awal maujud) yang diciptakan oleh Allah dari eksistensi al-Ghaib adalah Ruh Muhammad (Nur Muhammad).
Selanjutnya dikatakan, bahwa dari ruh Muhammad ini kemudian Allah mengalirkan ruh kepada ruh-ruh alam. Ruh alam berasal dari ruh Muhammad,ruh berarti kaifiyah. Melalui kaifiyah ini terwujudlah materi kehidupan. Al-Haqiqat al-Muhammadiyyah adalah awal dari segala yang maujud yang diciptakan Allah dari ¬hadarah al-Ghaib (eksistensi keGhaiban). Di sisi Allah, tidak ada sesuatu yang maujud yang diciptakan dari makhluk Allah sebelum al-Haqiqat al-Muhammadiyyah ini tidak diketahui oleh siapapun dan apa pun.
Di samping sebagai pembuka, Nabi Muhammad juga sekaligus sebagai penutup kenabian dan risalah. Oleh karena itu, tidak ada lagi risalah bagi orang sesudah Nabi Muhammad. Nabi Muhammad juga sebagai penutup bentuk-bentuk panampakan sifat-sifat Ilahiyyah (al-Tajaliyyah al-Ilahiyyah), yang menampakan sifa-sifat Tuhan di alam nyata ini.[15]
Kandungan shalawat fatih mengenai pemikiran Syekh Ahmad Al-Tijani tentang al-Haqiqat Muhammadiyyah lebih tampak lagi dalam Shalawat Jauharat al-kamal.
• Kedua Tentang Shalawat Jauharat al-Kamal Berikut teks Shalawat Jauharat al-Kamal:
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِبِمَرْكَزِالْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِى وَنُوْرِاْلاَكْوَانِ الْمُتَكَوَّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ اْلحَقِّاْلرَّبَّانِى اْلبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوَنِ اْلأَرْبَاحِ اْلمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِوَاْلأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِه كَوْنَكَ اْلحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ اْلمَكاَنِىاَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ اْلحَقِّ الَّتِى تَتَجَلّى مِنْهَا عُرُوْشُ اْلحَقَائِقِ عَيْنِاْلمَعَارْفِ اْلأَقْوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلاَسْقَمِ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى طَلْعَةِاْلحَقِّ بِاالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِصَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ صَلاَةًتُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاه,
ُBacaan Shalawat Jauharat al-Kamal ini
, tampaknya lebih menjelaskan atau menafsirkan kalimat yang terdapat dalam shalawat fatih yakni kalimat Dan lebih tampak berkait dengan konsep al-Haqiqah al-Muhammadiyyah, sebagaimana terihat dalam penafsiran kalimat-kalimat penting dari shalawat Jauharah al-Kamal,
yaitu bermakna yang menjadi Haqiqat rahmat dari sifat-sifat Tuhan. bermakna Yaitu permata; Nabi Muhammad adalah permata dalam Nur dan Ma’rifahnya. bermakna bahwa permata rahmat Nabi Muhammad menjadi pusat pengetahuan; permata Nabi Muhammad adalah rahmat bermakna bahwa rahmat Nabi Muhammad seperti Nur bagi seluruh makhluk alam, termasuk manusia.
Bermakna sebagai al-Haqq atau al-Haqiqat yang memiliki sifat-sifat Tuhan. Bermakna sama dengan al-haqiqat al-Muhammadiyyah.Bermakna bahwa al-Haqiqah al-Muhammadiyyah mengaliri nurnya keseluruh lautan dan alam yang terbentang. Bermakna bahwa nur Muhammad menyinari (memancarkan sinarnya) ketempat seluruh alam bermakna bahwa Nabi Muhammad sebagai pemilik al-haqq (al-haqiqah) yang memancarkan Haqiqat-Haqiqat yang tinggi.Bermakna bahwa al-Haqiqat al-Muhammadiyyah memancarkan al-Haqq dari zat al-Haqq, Allah . bermakna bahwa Nabi Muhammad memiliki Haqiqat ma’rifah yang paling sempurna.Bermakna Nabi Muhammad sebagai yang paling sempurna. : Bermakna bahwa Nabi Muhammad merupakan wujud yang sempurna.
Misalnya, shalawat tersebut mengungkapkan sifat-sifat Nabi Muhammad saw., sebagai Hakekat rahmat dari sifat-sifat Tuhan, yang merupakan pusat pengetahuan. Kemudian dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw., sebagai al-Haqiqat al-Muhammadiyyah yang memiliki sifat Tuhan, yang mengalir dan menyinari keseluruh alam. Selanjutnya dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw., sebagai wujud yang paling sempurna[16].
Hal ini, menunjukan bahwa dari aspek pemikiran,Syekh Ahmad al-Tijani menganut tasawuf falsafi sedangkan konsep-konsep dasar tasawufnya : nur Muhammad, Ruh Muhammad, al-Haqiqat al-Muhammadiyyah. Dengan demikian, bahwa corak pemikiran tasawuf yang dianut oleh Syekh Ahmad al-Tijani adalah corak pemikiran tasawuf yang bersumber dari hadits nabi yang diriwayatkan oleh Jabir -sebagaimana telah disebutkan-
kemudian dikembangkan oleh ‘Abd al-Karim al-Jili dengan konsep dasar al-Insan al-Kamil, yang berasal dari Ibn Arabi dengan konsep Haqiqat al-Muhammadiyah-.Dalam memposisikan Haqiqat al-Muhammadiyyah, lebih lanjut Ibn Arabi menjelaskan bahwa semua Nabi as., semenjak Nabi Adam as., sampai Nabi Isa ibn Maryam as., semuanya mengambilal-Nubuwwah (ke-Nabian) dari tempat cahaya Khatm al-Nabiyyin yakni Nabi Muhammad saw., sekalipun wujud jasmaninya di akhir. Sebab pada Hakekatnya Khatm al-Nabiyyin telah wujud. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:
كُنْتُ نَبِيًا وَآدَمَ بَيْنَ المَاءِ وَالطِِّيْنِ.
Artinya : “Aku telah menjadi Nabi Ketika Adam as., masih berada antara air dan tanah”.[17]
Dalam memahami sabda Nabi saw., ini, Ibn Arabi menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw., telah diangkat jadi Nabi sebelum lahirnya jasad Beliau di dunia ini, dan Beliau mengetahui ke-Nabiannya, dengan demikian secara Hakekat bahwa Nabi Muhammad saw., sejak di Alam arwah telah berfungsi sebagai Rasul kepada ummat manusia sejak awal manusia melalui para nabi dan Rasul-rasul-Nya.[18]
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kenabian para nabi dan kerasulan para rasul merupakan pelaku yang dipilih Allah untuk menjalankan roda kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad saw.,Karena Nabi Muhammad saw., telah diangkat menjadi Nabi dan berfungsi sebagai Nabi sejak di alam arwah.Semua nabi sejak Nabi Adam as., sampai terakhir Nabi Isa Ibnu Mariyam as., memperoleh anugerah, martabat, ilmu dari masyrab Nabi Muhammad saw., ( Al-Masyrabunnabawi, sumber kenabian), sekalipun Beliau lahir secara jasmani di akhir.
Dalam menggambarkan posisi Nabi Muhammad,Syekh Umar Ibn Faridl yang bergelar Sulthanul ‘Usysyaq ketika fana’’ dan istighraq dalam diri Nabi (fi Dzatin Nabi saw.,) bersyair sebagai alih bahasa tentang kedudukan Nabi Muhammad saw., sebagai berikut :
وانى وان كنت ابن ادم صو رة * فلى فيه لعنى نا هو بابوتى
Artinya: “Dan aku ini sekalipun rupa
jasad anak nabi adam, namun di dalam mengandung ma’na yang menjelaskan, bahwa ’’aku adalah ayahnya’’.[19]
Peran ruhani nabi Muhammad dalam kapasitasnya sebagai Haqiqat al-Muhammadiyah tersirat dalam firman Allah swt ;
وفا ا رسلنا ك ا لا كا فة للنا س بسيرا ولكن ا كرا لنا س لا يعلمون
Artinya : Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pembawa peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (QS. Saba’/34 :84 )
Secara fisik Nabi Muhammad Saw., lahir diakhir. Oleh karena itu, secara syari’at, Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi ketika turunnya Lima Ayat dari surat al-‘Alaq di Gua Hira yakni pada hari Senin 17 Ramadhan atau tanggal 6 Agustus tahun 600 M., ketika itu Beliau berumur 40 tahun Komariyah 6 Bulan 8 Hari kemudian 3 tahun kemudian diangkat menjadi Rasul terakhir melalui turunnya Surat al-Mudatstsir.
Disinilah keunggulan Syekh Ahmad Al-Tijani, dan hal ini, lebih mengukuhkan dirinya tentang kepemilikannya terhadap maqam wali khatm sebagai mana pembahasan tadi.________________________________________[1] Sahabuddin : Menyibak Tabir Nur Muhammad (Jakarta : Renaisance, 2004) hlm.5
[2] Muhyiddin Ibn Arabi’, Fusus .op.cit. hlm. 80. Lihat juga : An-Nabhani,loc.cit.
[3] Sahabuddin, op.cit.hlm.6
[4] Ibid, hlm.9
[5] Ibid, hlm.29
[6] Ibid, hlm.10
[7] Annemarie Schimel, op.cithlm.80
[8] Sahabuddin, op.cit, hlm 19
[9] Syekh Yusuf An-Nabhani : Al-Anwar Al-Muhammadiyah.( Indonesia : Maktabah Daar Ihiya al-Kutub al-‘Arabiyah, t.th.).hlm. 13.
[10] Sahabuddin, op.cit, hlm 19
[11] Ibid,hlm.20-21Sahabuddin, op.cit, hlm 19
[12][13] Ali Harazim, op.cit. 123.
[14] Muhammad Ibn Abdillah :Fathul Rabbania (Surabaya : Maktabah Sa’id al-Ibn Nabhan,t.th.), hlm. 45.
[15] Ibin 46.
[16] Ibid.hlm.78
[17] Lihat : al-Gazali, al-Haqiqat fi Nazr al-Gazali, (Beirut : Dar al-Ma’arif , 1971), hlm.305. Lihat juga : Ibn Arabi, Fusus.hlm.49.
[18] Ibn Arabi, Fusus.hlm.49.
[19] Fauzan,op.cit.hlm.81

Satu perkongsian...kredit kpd penulis asal

Selasa, 27 Oktober 2020

KEMATIAN PENCINTA SELAWAT


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۩

Imam Jazuly rah. atau nama sebenarnya Abu Abdillah Muhammad Ibn Sulaiman Al Jazuly Al Samlaly adalah dari nasab Sayidina Hasan r.a Binti Sayidah Fatimah r.ha yang terpuji akan kemuliaannya. Beliau adalah terkenal dengan Kitab Dalail Al Khairat dan bahkan beliaulah pengarang kitab yang agung ini, yang menghimpunkan pelbagai jenis Selawat keatas Sayidina Wamaulana Muhammad ﷺ. 

Beliau merupakan salah seorang Ulama yang besar dan Waliyullah dibumi Maghrib khususnya di Kota Afrighal. Beliau juga merupakan seorang Ulama Tasawuf yang mempunyai murid yang ramai sekitar 12 ribu orang dan telah meninggal pada tanggal 16 Rabiul Awwal 871 Hijrah ketika bersujud menunaikan solat Subuh. 

Menurut Murobbina Sayidi Ahmad Al Hadi Hafizahullahu Ta'ala yang menceritakan bahawa jasad beliau telah dikebumikan di Kota Sus, dan setelah 60 tahun selepas kematian beliau, pihak kerajaan telah memerintahkan agar jasad beliau yang disemadikan di Kota Sus dipindahkan ke suatu tempat yang dinamakan Rayad Al Arus, berhampiran dengan Kota Marakesh yang terkenal dan yang terbesar di bumi Morocco. 

Menurut Murobbina lagi, sewaktu penggalian Maqam beliau dilakukan, terjadilah suatu perkara yang menakjubkan dimana kelihatan jasad beliau masih lagi segar dan wajahnya kemerahan seperti mana beliau baru dikebumikan. Bahkan dengan wajahnya yang tersenyum. Dan yang lebih menakjubkan lagi adalah sebelum beliau meninggal, beliau telah mencukur sedikit bahagian janggutnya dan memotong sedikit tepi rambutnya, dan bekas kesan potongan serta cukuran ini masih kelihatan nampak, seperti baru dilakukan ketika jasad beliau dikeluarkan dari Maqam.

Imam Jazuli rah. yang dikenali sebagai Tuan Selawat ini, apabila terbuka Maqamnya, bauan Kasturi yang wangi telah keluar dari kubur beliau dan wangian Kasturi ini semerbak tersebar tercium keseluruh bandar. 

Jadi, demikianlah berita kematian seorang pencinta Selawat yang telah mengabdikan segala Selawat dalam sebuah kitab karangannya yang diberi nama Dalail Al Khairat wa Syawariq al-Anwar fi Zikr al-Salat ‘ala al-Nabi al-Mukhtar (Petunjuk Kebaikan dan Pancaran Cahaya dalam Berselawat ke atas Nabi Yang Terpilih).

Ianya merupakan sebuah kitab yang mengandungi segala jenis selawat, puji-pujian dan doa-doa ke atas Sayidina Muhammad ﷺ yang dikarang di Maghribi pada abad ke-15 masihi oleh seorang ahli sufi terkenal ketika itu, al- Imam Sayyid Abu Abdillah Muhammad Bin Sulaiman al-Jazuli (Imam al-Jazuli). Semoga Allah menempatkan beliau disisi kekasih-kekasihNya yang mulia dan terpuji beserta Sayidina Wamaulana Muhammad ﷺ.

Wallahu a'lam

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۩

# Kisah asal adalah daripada Tausiyyah Murobbina Sayidi Ahmad Al Hadi Al Hasani Hafizahullahu Ta'ala dengan sedikit penambahan gaya bahasa untuk lebih mudah difahami oleh pembaca

Isnin, 26 Oktober 2020

Kaedah Mudah Beroleh Redha Allāh


Guru Mulia Al Alim Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz Bin Syech Abu bakar bin Salim berkata:
.
“Kadang-kadang bangun malam (untuk solat tahajjud) dan puasa sunnah malas, tapi derajat di Syurga ingin paling tinggi; namun kita yang malas bangun malam dan puasa sunnah masih ada kesempatan untuk mendapatkan redha Allāh SWT dan menempati Syurga paling tinggi.
.
“Caranya perbanyaklah membaca solawat kepada Rasulullāh SAW dan disertai juga berdoa untuk bisa mengerjakan bangun malam dan puasa sunnah.
.
“Dengan memperbanyak bacaan sholawat inilah Allāh akan menurunkan rahmat-Nya kepada pembaca shalawat.
.
“Kalau orang mendapatkan rahmat Allāh, maka ia akan mudah sekali bangun malam dan puasa sunnah.”
.
Syaikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari berkata tentang keutamaan membaca sholawat :
.
من فاته كثرة الصيام والقيام
.
Barang siapa yang luput kepadanya banyak puasa sunnah dan bangun malam
.
فليشتغل بالصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم
.
maka hendaklah ia menyibukkan dengan membaca solawat kepada Rasulullah SAW
.
فانك لو فعلت فى جميع عمرك كل طاعة ثم صلى الله عليك صلاة واحدة
.
Karena sesungguhnya jika engkau mengerjakan semua ketaatan sepanjang masa usiamu, kemudian Allāh bersolawat (memberikan rahmat) kepadamu dengan satu kali solawat
.
رجحت تلك الصلاة الواحدة منه على كل ما عملته فى عمرك من جميع الطاعات
.
Maka lebih berat satu solawat dari Allāh itu dibandingkan setiap ketaatan yang engkau kerjakan di sepanjang usiamu
.
لأنك تصلى على قدر وسعك وهو يصلى عليك على حسب ربوبيته وكرمه
.
Karena sesungguhnya engkau bersolawat menurut kadar kekuatanmu, sedangkan Allāh bersolawat (memberikan rahmat) kepadamu menurut kadar Ketuhanan dan Kedermawanan-Nya.

Satu kali solawat (limpahan rahmat) saja dari Allāh bisa mengungguli semua ketaatan kita, apalagi dua, tiga kali solawat dari Allāh kepada kita.
.
سبحان الله

Sedangkan Rasulullah SAW telah bersabda :
.
من صلى علي واحدة صلى الله عليه عشرا.
رواه مسلم، ابو داود، النسائ وابن حبان
.
“Barangsiapa bersolawat kepadaku dengan satu kali solawat, maka Allāh bersolawat kepadanya dengan sepuluh kali solawat.” (HR. Muslim)

Semoga kita tergolong dalam golongan yang mendapat Mahabbah (cinta) Allāh agar kita terselamat di dunia dan akhirat. Allahummaa ameen.

Kredit: Ustaz Fathul Wafi

HAMBA ITU TASLIM AKAN IRADAT ALLAH ‎ﷻ


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۩

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
"Mungkin kamu tidak suka pada sesuatu, sedangkan perkara itu baik untukmu, Al Baqarah, Ayat 216"

Murobbina Sayidi Ahmad Al Hadi Hafizahullahu Ta'ala mengatakan bahawa "Untuk menjadi seorang hamba, hilangkanlah tadbir diri, masuklah dalam tadbir Allah ﷻ, dan gembiralah dengan iradat (kehendak dan takdir) Allah ﷻ samada ianya muafakat dengan iradat (kehendak) diri kamu ataupun tidak. Jikalau muafakat, syukurlah. Kalau tak muafakat, taslimlah"

Abu Thalib Al Makki mengatakan, "Manusia tidak suka miskin, hina dan penyakit, padahal itu semua mungkin baik baginya untuk bekal di akhirat, sebaliknya mereka suka kaya, sihat dan ternama/terkenal, walhal itu semua bahaya disisi Allah ﷻ dan buruk akibatnya".

Abu Ali Ad Daqaaq mengatakan, "Suatu tanda bahawa seseorang itu mendapat taufiq kurnia Allah ﷻ ialah terpeliharanya iman (Tauhid) disaat mengahadapi bala ujian bencana (Taslim akan kehendak/taqdir Allah ﷻ).

FALSAFAH PERIGI

Jika sebuah Perigi ditimba airnya, maka setiap hari airnya akan menjadi jernih dan tidak akan pernah kering, akan selalu ada air di dalamnya.

Namun anehnya, jikalau didalam satu hari sahaja airnya tidak ditimba, ketinggian air yang ada didalam Perigi itu tidak pernah akan meningkat, ia sama seperti semula.

Perigi yang tidak pernah lagi diambil airnya, bahkan akan cenderung airnya akan menjadi kotor dan beracun sehingga ia tidak lagi layak untuk diminum.

"Inilah Hukum Alam"

Di mana, ramai yang tidak tahu bahawa didalam alam terdapat misteri (Qada dan Qadar) yang bertujuan untuk selalu Memberi dan Keseimbangan.

Sesungguhnya kehidupan kita juga sama dan serupa dengan seperti Perigi ini.

Pada umumnya, orang hanya berpikir bahawa, jikalau kita memberi apa yang kita telah miliki, pasti ia akan berkurang dari apa yang di miliki semula.

Tetapi jikalau kita mahu belajar dari Falsafah Perigi ini, maka semakin banyak dan sering kita memberi, akan semakin banyak air yang mengalir kepadanya.

Didalam hal memberi tidak seharusnya dalam bentuk duit atau barang. Kita boleh sahaja memberi didalam bentuk apa saja yang kita miliki.

Saat kita mengajarkan dan memberikan ilmu, maka dengan sendirinya kemampuan kita akan semakin meningkat.

Sebaiknya kita memberi kerana kita menginginkan orang lain agar boleh berbahagia atau boleh hidup yang lebih baik dan selayaknya.

Manfaat langsung yang dapat kita rasakan saat memberi adalah perasaan Kepuasan Batin. Dan inilah sebenarnya kebahagiaan yang sejati.

"Katakanlah : Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya."
(QS. Saba : 39)

Subhanallah...

Falsafah Air didalam Perigi, sama seperti bersedekah kerana sedekah tidak akan membuatkan kita menjadi miskin.

Justeru rezeki akan kian bertambah dan menjadi berkah.

"Sebutir Benih Yang Disemai Akan Dilipat Gandakan"

"SEKALI KITA MERENDAHKAN DIRI DIHADAPAN MANUSIA, MAKA AKAN DIANGKAT MARTABAT KITA DISISI ALLAH SWT"

Maka berserah dirilah dengan sebenar-benarnya berserah diri kepada Allah, adalah lebih baik dipandang mulia oleh Allah swt daripada dinilai oleh manusia, kerana kemulian yang dinilai manusia belum tentu menjamin Kepuasan Batin, manakala Kepuasan Nikmat dan Rahmat Allah swt adalah yang dinanti-nantikan untuk dikekalkan kepada diri didunia dan akhirat.

InsyaAllah...

MaasyaaAllah...

Allahuakbar...

Syeikhul Akbar Ibnu Arabi & Imam Fakhruddin Ar Razi & Wahdatul Wujud di dalam Kitab Syarah Jauharoh At-Tauhid Imam Ibrahim Al Laqqani Bagi Imam Ahmad Bin Muhammad As Sowi Al Maliki

Kisah ini selalu diceritakan oleh Al Marhum Sayyidi Guru Kami Tuan Guru Haji Abdul Hamid Bin Haji Salleh @ Pak Su Hamid Gunong قدس سره :

Imam Fakhrudin Ar Razi pernah ingin menjadi Murid Thariqah Sufiyyah Syeikh Akbar Ibnu Arabi namun tidak diterimanya kerana Syeikh Ibnu Arabi mengatakan Imam Fakhrudin Ar Razi "tiada bahagian" dalam ilmu ini . Namun Imam Fakhruddin tetap membenarkan Ilmu Haqiqat ini . Di pendekkan kisah sampailah tiba saat sakaratul maut Imam Fakhruddin Ar Razi , hampir habis 1000 dalil Imam Ar Razi berhujjah dengan Syaitan Syaitan yang ingin menggodanya supaya tercabut iman dan islam, Akhirnya dengan izin ALLAH di kurniakan karomah kepada Syeikh Akbar Ibnu Arabi yang ketika itu sedang bersembahyang untuk menggerakkan jari kaki kelingkingnya beberapa kali sebagai isyarat memukul syaitan syaitan yang berada di sekeliling Imam Ar Razi , lalu Wafatlah Imam Ar Razi di dalam Iman & Islam . Kata Al Murhum Guru kami Tuan Guru Pak Su Hamid Gunong : Ini jugalah maksud Kalam Imam Abul Hasan Syazuli : من تصديق في علمنا ولاية صغرى
Barangsiapa membenarkan ilmu kami (Haqiqat) nescaya dia Wali Kecil .

Rupa - Rupanya Kisah ini ada juga di sebut di dalam Syarah Sowi Jauharah Tauhid :

وقد حكي أن الفخرالدين الرازى حين احتضرته الوفاة وردت عليه شبه عجز عن دفعها فصار يقول اللهم إيمانا كإيمان العجائز وحكي عن ابن العربي أنه في تلك الحالة كان وافقا في الصلاة فضرب برجله مرارا فسئل عن ذلك فقال ابن العربي : إن الفخر احتضرته الوفاة فاحتوشته الشياطين يريدون نزع إيمانه فضربتهم برجلي فمات على الإيمان والحمدلله .اھ

Kitab ini kami mempelajarinya di Masjid Al Azhar As Syarif sampai Khatam bersama Sohibul Fadhilah أ.د جمال فاروق Al Mutakallim Syeikh Dr Jamal Faruq Ad Daqaq Al Hasani Al Azhari dan kami ulangi sekali lagi untuk lebih tahqiq bersama Guru Kami Tuan Guru Baba Muhammad Adnan Al Fathoni Ustaz Baba Kiyah (Sedihnya belum sempat Khatam kerana Covid-19 melanda,Tuan Guru Baba masih di Fathoni) 

Di dalam Kitab Syarah Sowi Jauharah Tauhid ini ada beberapa ulasan tentang Wahdatul Wujud pada muka surat 146 pada katanya Musonnif رضی الله : 

تنبيه 
شاع على ألسنة العوام (الله موجود في كل الوجود) وهو كلام صحيح في نفسه لأن مفاده وحدة الوجود لكنه غير لائق منهم لإيهام الحلول
Ini Satu Penjagaan
Telah masyhur di atas lidah orang orang awam ( Allah ada pada tiap tiap benda yang ada) dan ialah kalam yang benar pada dirinya kerana memberi faedah kalam tersebut akan Wahdatul Wujud akan tetapi tidak layak kalam itu bagi orang awam kerana boleh memberi prasangka Tuhan itu hulul yakni meresap dalam tubuh makhluk .

Kalau nak baca panjang lagi boleh di baca dalam gambar gambar yang kami sertakan ini . Letih nak taip panjang panjang .

Wallahul Muafiq ila Aqwamit Thariq .

Ust Ahmad Hafizuddin

Syukur adalah pintu terbesar

KALAM SAYYIDUL ANBIYA WA SAYYIDUL AWLIYA by. Sofyan Ats-Tsauri Al-Husayni Al-Tijani

KALAM SAYYIDUL ANBIYA WA SAYYIDUL AWLIYA

Sayyidul Awliya'. Assyekh Al Akbar AlGhousil A'dzom Al Quthbil Maktum Alhabib Was Syarif Assayid AHMAD BIN MUHAMMAD ATIJANI AL-HASANI RA berkata :

“Syukur adalah pintu terbesar Allah dan jalan-Nya yang terlurus. Karena itu, setan selalu duduk di jalurnya, merintangi orang-orang mukmin melewatinya.”

 “Pintu paling dekat menuju kepada Allah adalah pintu syukur. Siapa pada masa ini tidak masuk melalui pintu syukur, dia tidak akan dapat masuk. Karena jiwa manusia saat ini telah mengeras.”

“Jika kalian mendengar sesuatu dariku, maka pertimbangkan dengan neraca syara’. Sesuatu yang sesuai syara’, kerjakanlah dan sesuatu yang menyimpang, tinggalkanlah !”( Al- Inshof : 1).

“Kebaikan seluruhnya ada dalam mengikuti sunah dan kejelekan seluruhnya ada dalam menyalahinya.”

“Hendaklah kalian takut dari maksiat-maksiat kepada Allah dan siksa-Nya. Siapa yang telah melakukannya dari kalian ( dengan ketetapan Allah juga ) dan seorang hamba memang tidak ma’shum, maka jangan mendekat kepada Allah. Kecuali dengan hati yang menangis dan takut akan siksa Allah.” ( Mizabur arorahman , hal : 29 ).

Syeikh Ahmad bin Muhammad at-Tijani sendiri tidak pernah menyatakan bahwa Shalawat Fatih lebih utama dari al-Qur’an. Beliau hanya menyampaikan bahwa pahala Shalawat Fatih sekali sebanding dengan 6.000 khataman al-Qur’an. Perkataan sebanding tidak berarti melebihi atau lebih utama. Karena Beliau menggunakan kata (تعدل), bukan kata (افصل).

“Sesungguhnya siksanya ( pengakuan ) adalah mati secara su’ul khotimah.” (Mizabur ar-Rahmah, hal : 10).