Selasa, 24 Oktober 2023

Hadirnya SELAWAT FATIH

Kekurangan dan kelemahan umat di zaman ini dibantu dengan kehadiran selawat fateh..ianya merupakan anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada umat Baginda Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang kebanyakannya dalam keadaan leka,alpa dan cuai..

Keagungan selawat ini ialah menjadi jurubahasa bagi tiga tingkatan martabat berikut...

1.Hakikat Ahmadiah ( ilmu yang dikhaskan semata-mata untuk diri Rasulullah صلى الله عليه وسلم)

2.Hakikat Muhammadiah ( ilmu auliyaa'illah)

3.Hakikat Adamiah (ilmu syariat)

KEMULIAAN HAKIKAT BAGINDA SAW

Hakikat Ahmadiah itu adalah ibu segala hakikat-hakikat, itulah diri berdirinya Nabi SAW dengan hakikatnya yang ketunggalan, yang bersifat dengan esa dan ketunggalannya ia daripada segala ciptaan secara segala perincian..
iaitu di dalam Hadrah "Ha'ul-Huwwiyah" هَاءِالهَوِيَّةِ

dan pada martabat itu tidak mengetahui akan Hakikat Baginda SAW melainkan penciptanya (Allah SWT). 

Itulah jihah/arah penerimaan Hakikat Ahmadiah drdp Hadrah Al-Qidam, 

itulah sabdaan Hadis Baginda SAW, 
"Tidak mengenali aku secara Hakikat melainkan Tuhanku".

Dan daripadanya (Hakikat Ahmadiah), Allah Ta'ala mengeluarkan dengan semata-mata kurnianNya yang meratai akan Hakikat Muhammadiah
Dan menjadikan akan Hakikat Muhammadiah itu sebagai asal usul ataupun punca bagi segala hakikat-hakikat di dalam kerajaan Ilahi.


Ijazah Am 
Selawat Fatih
Disertakan Rantaian Sanad
Bagi siapa yg nak amalkan
Sanad Zahabi (Emas)

Al-Qutubul Maktum Wa-khotmul Muhammadi Alma'lum Sayyiduna Wamaulana Ahmad At-Tijani Al-Hasani RA 
               ⬇ 
Sidi Muhammad Al-Gholi Al-Hasani RA
               ⬇
Sidi Ahmad bin Muhammad Al-Kansusi Al-Ja'fari Al-Hasani RA
               ⬇
Sidi Alhaj Alhusein Alyifrini Al-Hasani RA
               ⬇
Mujaddidulmillah Waddin Sidi Alhaj Alahsan Alba'qili Al-Hasani RA 
               ⬇
Sidi Muhammad Al-habib Alba'qili Al-Hasani RA 
               ⬇
Sidi Alahsan Alyifrini Al-Hasani RA 
               ⬇
Sayyidina Murobbina Sidi Ahmad Alhadi Al-Hasani Al-Maghribi Hafizullahu Taala

JALAN MA'RIFAT

Barangsiapa yang masih belum lagi berjumpa dengan GURU yang MURSYID (ARIFBILLAH'), maka ia tidak akan dapat berjumpa dengan JALAN TAUBAT.

Barangsiapa yang tidak dapat berjumpa dengan JALAN TAUBAT, maka ia tidak akan dapat berjumpa dengan JALAN ILMU.

Barangsiapa yang tidak dapat berjumpa dengan JALAN ILMU, maka ia tidak akan dapat berjumpa dengan JALAN BERAMAL.

Barangsiapa yang tidak dapat berjumpa dengan JALAN BERAMAL, maka ia tidak akan dapat berjumpa dengan JALAN USAHA.

Barangsiapa yang tidak dapat berjumpa dengan JALAN USAHA, maka ia tidak akan dapat berjumpa dengan JALAN SABAR.

Barangsiapa yang tidak dapat berjumpa dengan JALAN SABAR, maka ia tidak akan dapat berjumpa dengan JALAN TAWAKKAL.

Barangsiapa yang tidak dapat berjumpa dengan JALAN TAWAKKAL, maka ia tidak akan dapat berjumpa dengan JALAN FANA'.

Barangsiapa yang tidak dapat berjumpa dengan JALAN FANA, maka ia tidak akan dapat berjumpa dengan JALAN BAQA'.

Barangsiapa yang tidak dapat berjumpa dengan JALAN BAQA', maka ia tidak akan dapat berjumpa dengan JALAN HAKIKAT.

Barangsiapa yang tidak dapat berjumpa dengan JALAN HAKIKAT, maka ia tidak akan dapat berjumpa dengan JALAN MA'RIFAT.

Barangsiapa yang masih belum lagi BERMA'RIFAT, maka ia tidak akan pernah bermula dengan JALAN AGAMA.

Dan barangsiapa yang tidak BERAGAMA, maka menjadilah ia sepertimananya Iblis dan Syaitan semata-mata...

Ketahuilah kamu bahawasanya,

Sesungguhnya MA'RIFAT itu adalah "ANUGERAH ALLAH SWT" kepada Insan-Insan Pilihan-NYA. 

Dan MA'RIFAT itu pula bukanlah suatu perkara yang sangat-sangatlah mudah sahaja untuk dicapai dan dimiliki oleh seseorang.

Apabila kamu telahpun mulai mendapatkan ILMU KETUHANAN dengan hasil daripada Belajar. 

Maka, MA'RIFAT itu hanyalah diperingkat Ilmu dengan Keyakinan kamu kepada Ilmu tersebut semata-mata.

Maka ia dinamakannya sebagai ILMU YAKIN. 

MA'RIFAT yang HAQIQI itu ialah,

Apabila kamu telahpun MENGENAL SEGALA SESUATU dengan secara HAQIQI dan bukanlah lagi dengan berdasarkan Ilmu dan Dalil. 

Apabila kamu sudahpun dibukakan Hijab untuk Melihat dengan PANDANGAN BATINMU akan HAKIKAT WUJUD, maka barulah ianya disebutkan MA'RIFAT. 

Apabila telah menerima PANDANGAN BATINMU, maka barulah ianya dinamakan MA'RIFAT pada Tahap AINUL YAKIN.

Maknanya, kamu telahpun YAKIN diatas PANDANGAN BATINMU akan tentang HAKIKAT SEGALA SESUATU. 

Seterusnya adalah KEYAKINAN yang "SAMPAI" kepada Tahapan yang HAQIQI. 

Iaitu HAQQUL YAKIN.

Maknanya kamu telahpun MENGENAL SEGALA SESUATU itu dengan secara HAQIQI.

Didalam PANDANGAN BATIN, ILMU dan RASA yang tidak sesekali dapat digoyahkan lagi.

Iaitu kamu telahpun mempunyai PENDIRIAN DIRI SENDIRI ataupun PENDIRIAN HIDUP.

Sepertimananya Nabi Khidir AS yang hanya duduk diatas BATU tanpa adanya apa-apapun, diantara Pertemuan Dua Lautan (Lautan SYARIAT dan HAKIKAT).

Setelah kesemuanya Perjalanan dan Tahapan itu Meresap (Menyatu) pada diri kamu, maka Allah SWT akan JAZBAH dirimu sehinggalah "SAMPAI" kepada Maqam KAMALUL YAQIN.

Maka, apabila ditanya kepada Nabi SAW bagaimanakah Beliau MENGENAL TUHAN ?

Dijawabnya dengan :

"ARAFTU RABBI BI RABBI..."

Ertinya : AKU MENGENAL TUHANKU DENGAN TUHANKU...

Mengenal keutamaan Baitul Maqdis


[Awal mula Baitul Maqdis dibangun]

Sayidah 'Aisyah meriwayatkan dari Baginda Nabi, beliau bersabda: Sungguh Makkah adalah kota yang Allah muliakan dan Allah juga muliakan kehormatannya. Allah mengutus malaikat untuk meliputi kota Makkah pada saat Allah belum menciptakan apapun dari bagian bumi, masanya adalah 1000 tahun. Allah lalu menghubungkan Makkah dengan Madinah. Lalu Allah menghubungkan Madinah dengan Baitul Maqdis. Kemudian, setelah 1000 tahun Allah menciptkan bumi dalam satu ciptaan.

Sayidina Ali bin Abi Talib berkata, "Mulanya bumi adalah air. Allah lantas mengutus angin, angin tersebut lantas menerpa bumi dan muncullah buih. Allah kemudian membagi bumi menjadi empat bagian, Allah menciptakan Makkah dari bagian pertama, menciptakan Madinah dari bagian kedua, menciptakan Baitul maqdis dari bagian ketiga, dan menciptakan Kufah dari bagian ketiga.

Ka'b al-Ahbâr berkata, "Nabi Sulaiman bin Dawud membangun Baitul Maqdis di atas pondasi lama sebagaimana Nabi Ibrahim membangun Ka'bah di atas pondasi lama."
Ibnu al-Jauzi berkata, "Orang-orang lalim mulanya tinggal di Baitul Maqdis. Allah lalu mengutus Yusya untuk menumpas mereka. Setelahnya Baitul Maqdis dikuasai oleh orang-orang kafir dan mereka menjadikannya tempat sampah. Setelah itu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Sulaiman, perintah membangunnya."

Sa'id bin al-Musayyab berkata, "Allah memerintah Nabi Dawud untuk membangun masjid Baitul Maqdis. Ia bertanya, "Duhai Tuhanku, di mana aku akan membangunnya?" Allah menjawab, "Di tempat raja menghunuskan pedangnya." Nabi Dawud kemudian melihatnya di tempat itu. Ia lantas menyusun pondasi dan membangun tembok masjid tersebut. Ketika bangunan masjid itu sudah berdiri, tiba-tiba bangunan itu roboh. Nabi Dawud bertanya, "Duhai Tuhanku, Engkau perintah hamba untuk membangun maajid, tapi setelah masjid itu berdiri, Engkau justru merobohkannya?" Allah menjawab, "Wahai Dawud! Aku jadikan dirimu sebagai Khalifah-Ku di antara seluruh makhluk-Ku. Mengapa kamu mengambil tempat itu dari pemiliknya dengan cuma-cuma? Masjid tersebut kelak akan dibangun oleh salah satu anakmu. Saat tiba generasi Nabi Sulaiman, ia menawar tanah tersebut dari pemiliknya. Pemiliknya berkata, "Hargarnya adalah satu qințâr (hitungan zaman tersebut)." Nabi Sulaiman menjawab, "Sepakat." Pemilik tanah bertanya, "Harga ini lebih baik atau harga yang itu?" Nabi Sulaiman menjawab, "Yang ini lebih baik. Itu yang nampak bagiku." Pemilik tanah bertanya lagi, "Bukankah tadi kamu sudah sepakat?" Nabi Sulaiman menjawab, "Benar. Tapi penjual dan pembeli masih memiliki hak pilih selama belum berpisah." Ibnu al-Mubarak berkata, "Ini adalah dalil hak pilih (bagi umat sebelum Islam)." Perawi berkata, "Nabi Sulaiman terus diberikan tawaran, tapi beliau tetap kukuh dengan keputusannya. Hingga akhirnya beliau sepakat dengan harga tujuh qințâr." Setelah itu, Nabi Sulaiman membangunnya hingga rampung, tapi ternyata pintunya tidak bisa dibuka. Nabi Sulaiman berusaha memperbaikinya agar pintu tersebut bisa beliau buka. Namun, pintunya tetap tidak bisa dibuka. Hingga akhirnya beliau berdoa, "Dengan perantara shalat-shalat yang dikerjakan ayahku, Dawud, semoga pintu ini terbuka." Lantas terbukalah pintu tersebut. Kemudian Nabi Sulaiman memilih 10.000 ahli kitab dari Bani Israil untuk tinggal di Baitul maqdis, 5.000 bagian siang dan 5.000 bagian malam. Dan setiap saat, entah itu pada malam atau pun siang hari, Baitul Maqdis selalu diisi oleh orang yang beribadah kepada Allah. 

(Inilah yang kemudian menjadi alasan Yahudi Bani Israil bahwa Baitul Maqdis adalah milik mereka, Padahal mereka telah berulang kali mendurhakai Allah, mereka juga beberapa kali membunuh nabi yang Allah utus kepada mereka. oleh karena itu mereka sudah sering kali Allah usir dari Baitul Maqdis)

Al-Syaibâni berkata, "Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud: Kamu belum menyelesaikan bangunan Baitul Maqdis. Nabi Dawud bertanya, "Wahai Tuhanku, kenapa?" Allah menjawab: "Karena tanganmu berlumuran darah (karena perang). Nabi Dawud berkata, "Semua itu semata karena hamba taat pada-Mu." Allah berfirman, "Ya, sekalipun itu alasannya."

Ka'b berkata, "Saat Nabi Sulaiman menjadi raja, Allah memerintahkannya untuk membangun Baitul Maqdis, maka beliau melaksanakannya. Ketika beliau masuk Baitul Maqdis, beliau tersungkur, sujud syukur kepada Allah. Beliau berdoa, "Duhai Tuhanku! Siapa pun yang masuk (ke Baitul Maqdis) dalam kondisi takut, berilah ia rasa aman, atau masuk dan berdoa (di sana), kabulkan doanya, atau masuk dan meminta ampun, ampuni dosanya." Setleah itu Nabi sulaiman menyembelih 4.000 ekor sapi dan 7.000 ekor kambing. Beliau membuat makanan dan mengundang bani Israil.

Dalam riwayat lain, Allah memerintah Nabi Dawud, "Bangunkan untuk-Ku rumah!" Nabi Dawud terlebih dahulu membangun rumahnya. Kemudian beliau membangun rumah (yang diperintahkan), tapi rumah tersebut roboh.

Abdul Malik al-Jazari berkata, "Setelah beberapa tahun Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaan, beliau memulai pembangunan Baitul Maqdis. Jumlah orang yang membangun Baitul Maqdis adalah 1.000 orang. Mereke harus menebang 1.000 pohon setiap bulan. Jumlah yang bertugas di bagian batu adalah 10.000 orang. Yang bertugas mengontrol mereka jumlahnya 300 orang yang amanat. Di Baitul Maqdis dimasukkan peti Nabi Musa dan Nabi Harun. Beliau shalat di sana dan berdoa, "Duhai Tuhanku! Engkau memerintahku untuk membangun rumah mulia ini. Maka aku mohon panggillah dia pada waktu siang dan malam. Setiap orang yang datang pada-Mu meminta nikmat, ampun, kemenangan, tobat, dan rezeki, maka kabulkanlah, entah mereka datang dari tempat dekat atau pun jauh." Allah lantas kabulkan permintaannya. Allah berfirman, "Aku telah kabulkan doamu." Allah berfirman, "Wahai Sulaiman! Aku ampuni dosa setiap orang yang mendatangi rumah ini hanya dengan tujuan untuk salat di sini."

Ata al-Khurâsâni berkata, "Tatkala Nabi Sulaiman bin Dawud selesai membangun Baitul Maqdis, Allah tumbuhkan dua pohon di dekat pintu al-Rahmah; Salah satunya tumbuh emas, dan satunya lagi tumbuh perak. Setiap hari Nabi sulaiman mengambil 200 ritl emas dan perak dari masing-masing pohon. Nabi Sulaiman menghamparkan lantai emas dan perak untuk masjid tersebut. Ketika Bukhtanassar berkuasa, ia merusaknya dan merampas emas dan perak seberat delapan puluh ekor anak sapi. Setelah itu ia membuangnya di al-rumiyyah.

Ahli sejarah berkata, " Baitul Maqdis sempat mengalami kerusakan hingga menjadi seperti tempat sampah. Allah kemudian memerintahkan nabi Sulaiman untuk membangunnya. Semua itu dilaksanakan setelah 4 tahun beliau meninggalkan kerajaan. Nabi Sulaiman terus membangunnya selama 7 tahun. Jarak antara turunnya Nabi Adam hingga Nabi Sulaiman membangun Baitul Maqdis adalah 4476 tahun."

Ka'b berkata, "Sesungguhnya, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Sulaiman, "Bangunlah Baitul Maqdis! Nabi Sulaiman lantas mengumpulkan orang-orang yang bijak, bangsa Jin ifrit, dan para pemimpin setan. Beliau kemudian membagi-bagi kelompok setan. Ada kelompok yang bertugas untuk membangun, ada yang bertugas memecah batu, ada kelompok yang bertugas memotong pohon kurma dan memotong pilar dari marmer, dan ada juga kelompok yang bertugas menyelam ke dasar laut untuk mengambil mutiara dan batu mulia, besar mutiara tersebut seperti telur burung unta atau telur ayam. Beliau lalu mulai membangunnya, tapi bangunannya tidak kokoh. Di tempat tersebut ada bangunan untuk hewan yang dibangun oleh Nabi Daud. Nabi Sulaiman lantas diperintahkan untuk merobohkannya. Kemudian beliau menggali hingga sampai pada air. Beliau berkata, "Bangunlah pondasinya di atas air." Mereka lalu melemparkan batu-batu tersebut ke dalam, tapi air mementalkan batu-batu tersebut kembali. Lalu Beliau bermusyawarah. Mereka kemudian memberi isyarat agar dibuat suatu kotak dari tembaga, lalu kotak itu dipenuhi dengan batu dan di atasnya ditulis tulisan kalimat tauhid yang ada di cincin nabi Sulaiman. Setelah itu ia kembali melemparkan batu-batu tersebut. Batu-batu tersebutlah yang kemudian yang menjadi pondasi. Beliau lalu melanjutkan pekerjaan. Bangunan tersebut pun berdiri kokoh. Beliau terus melanjutkan pembangunan Baitul Maqdis hingga menjadi bangunan yang begitu indah tidak terbayangkan. Hiasan yang digunakan dari emas, perak, permata, yakut, dan berbagai macam perhiasan mahal yang lain. Perhiasan tersebut diletakkan di langit-langit, di ubin, pintu, dan tembok. Setelah bangunan selesai, beliau mengumpulkan orang-orang dan mengatakan kepada mereka bahwa ini adalah Masjid Allah, dan Allah lah yang memerintahkannya untuk membangun masjid tersebut, semua yang ada di masjid tersebut murni milik Allah, siapapun yang mengurangi dari bagian masjid tersebut, maka sungguh ia telah menghianati Allah. Sebelumnya Allah telah memerintahkan pembangunan masjid tersebut kepada Nabi Dawud. Lantas setelahnya ia mewasiatkan masjid tersebut kepada Nabi Sulaiman. Setelah itu Nabi Sulaiman membuat makanan dan mengumpulkan seluruh masyarakat.

Allah berfirman
فَضُرِبَ بَيۡنَهُمۡ بِسُوۡرٍ لَّهٗ بَابٌؕ بَاطِنُهٗ فِيۡهِ الرَّحۡمَةُ وَظَاهِرُهٗ مِنۡ قِبَلِهِ الۡعَذَابُؕ
Lalu di antara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu. Di sebelah dalam ada rahmat dan di luarnya hanya ada azab.

Abdullah bin 'Amr bin al-'Aş berkata, "Dinding yang dimaksud adalah pagar Baitul Maqdis sebelah timur, Allahu a'lam."

PERBENDAHARAAN ALLAH


۞ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۞

Sepertimana SELAWAT AL FATIH itu, salah satu PERBENDAHARAAN ALLAH YANG MAHA AGONG, darinya tersimpan dan terzahir akan segala rahsia-rahsia alam, maka bagaimana pula dengan mereka yang terpilih untuk membacanya dan beramal dengannya, siang dan malam, pada setiap hembusan nafas yang keluar dan masuk.

Maka tidaklah masuk dek akal kedudukan mereka itu, walaupun mereka yang awam, kerana kurniaan, anugerah, dan pilihan Allah Ta'ala tidak terikat dengan darjat keilmuan seseorang. 

Bagi ummat Baginda Rasulullah ﷺ, mereka semua diistimewakan, mereka semua adalah pilihan Allah Ta'ala, mereka dicemburui oleh Nabi yang terdahulu, maka apakah adakah keraguan pada kurniaan dan anugerah untuk ummat Baginda Rasulullah ﷺ? 

SELAWAT AL FATIH itu adalah satu anugerah dan kurniaan dari Allah Ta'ala. Bagi yang mengambilnya sebagai satu kurniaan dan anugerah, mereka adalah sebahagian dari golongan yang tersangat beruntung dari kalangan ummat Sayidina Muhammad ﷺ yang sememangnya telah beruntung.

Aqal manusia hanyalah sekitar dalam bulatan alam.

Sabtu, 21 Oktober 2023

TAREKAT TIJANIY DI MALAYSIA

 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۩

Secara berfaktanya, Tarekat Tijaniyyah ini tidak dapat dibuktikan bilakah seawalnya memasuki bumi Malaysia. Namun, ianya dipercayai telah dibawa masuk ke Malaysia melalui ulama-ulama yang belajar melalui ulama-ulama nusantara yang telah terlebih awal mengamalkan tarekat ini. 

Salah seorang ulama yang dipercayai mengambil tarekat ini adalah Syeikh Fadhil Banten. Beliau telah mengambil tarekat ini ketika belajar di Mekah dimana dikatakan beliau banyak bergaul dengan pengikut Tarekat Tijaniyyah di Mekah, namun tidak dapat dipastikan dengan jelas daripada siapakah beliau mengambil tarekat ini. Syeikh Fadhil telah berhijrah ke Johor pada tahun 1915 dan beliau mengajar di Kampung Lenga, Muar. Syeikh Fadhil telah meninggal dunia pada 18 Mac 1950 di Bakri, Muar, Johor. 

Catatan berkenaan Syeikh Fadhil Banten ini sebagai penegak Tarekat Tijaniyyah dirantau Tanah Melayu seawal tahun 1915 berkemungkinan besar adalah benar, kerana terdapat catatan bahawa Tuan Guru Haji Muhammad Yassin Bin Haji Muhammad, yang merupakan seorang tokoh ilmuan islam yang cemerlang di Negeri Johor khususnya di Muar pernah merantau ke Banten, Indonesia dan berguru dengan Syeikh Fadhil Al-Banteni. 

Apabila Tuan Guru Haji Muhammad Yassin pulang ke Muar, Johor dicatatkan bahawa diantara sumbangan dan peninggalannya dalam pembinaan kearifan tempatan adalah dengan mewariskan amalan wirid Tarekat Tijaniyyah.    

Mengikut Syed Naquib Al-Attas (1963), terdapat juga dalam catatan sejarah pengkajian awal kemasukan tarekat-tarekat di Malaysia, dimana terdapat sembilan kumpulan tarekat yang terawal dan salah satu daripadanya adalah Tarekat Tijaniyyah.  

Setelah Tarekat Tijaniyyah ini senyap untuk satu jangkamasa yang lama di bumi Malaysia, pada tahun 2007 satu susuk tubuh daripada bumi Tunisia telah sampai ke Malaysia untuk mensyiarkan semula Tarekat Tijaniyyah. Untuk tahun-tahun berikutnya, Tarekat Tijaniyyah telah disuburkan semula di Malaysia oleh seorang Ulama yang berasal dari bumi Maghrib. Beliau dikenali sebagai Syeikh Sayidi Ahmad Al Hadi Al Hasani, bernasabkan Sayidina Hassan r.hu dari keturunan Sayidina Rasulullah ﷺ yang mulia.

Syeikh Sayidi Ahmad Al Hadi dilahirkan di Tunisia pada 4 Muharram 1395 Hijrah bersamaan 16 Januari 1975 Masehi. Nasab keturunan beliau adalah daripada kabilah Sibaiah Az-Zahabiah, daripada keturunan besar Maulay Idris yang masyhur di bumi Maghribi, dan beliau adalah berketurunan daripada Sayidina Al Hasan r.hu.

Beliau telah menerima Sanad Tarekat Tijaniyyah daripada pelbagai sumber dan pada permulaannya beliau menerima Sanad Tarekat Tijaniyyah Al-Aliyah daripada Asy-Syarif Al-Wasil Sayidi Habib Bin Hamid At-Tunisi. 

Sanad yang paling muktabar beliau telah terima, samada dari segi Feqah Tarekat atau dari segi Zauqi adalah Sanad Al-Ba’qili, sanad yang melalui susur jalur kepada Mujaddid Millah Wa-ddin, Qutbaniyatul-Uzma, Sayidi Ahsan Al-Ba’qili Al-Hasani Al-Maghribi, sanad yang dipernamakan disisi ahli sanad sebagai Sanad Az-Zahabi (Sanad Emas) secara umumnya, dan juga dipernamakan sebagai Sanad Qutbaniah (Sanad Wali-Wali Qutub) secara khususnya.

Beliau juga menerima Ijazah secara mutlak daripada Sayidi Abdul Aziz Al-Ba’qili, anak kepada Sayidi Ahsan Al-Ba’qili, beliau adalah seorang Qutub Al-Kamil Al-Mulamati, pewaris sir-sir ayahnya dan abangnya Sayidi Muhammad Al-Habib. 

Sepanjang pengembaraan beliau ketika menuntut ilmu di bumi Maghrib (Tunisia, Algeria, Maghribi dan Mauritania), beliau telah menemui beberapa Waliyullah diantaranya termasuklah Qutub Sayidi Mukhtar Asy-Syinqiti (dikenali juga sebagai Sayid Dahah, masyhur dikalangan orang Arab setempat) di Padang Sahara Maghrib, dan Qutub Maulay Tuhami Al-Wazzani Al-Idrisi di Maqam Sayidi Arabi As-Saaihi, yang telah berumur 136 tahun pada ketika itu.

NOTA: Tulisan ini adalah merupakan kumpulan dapatan daripada pencarian saya dibeberapa lamanweb.

AL ARIFBILLAH SAYIDI AHMAD AL HADI AL HASANI AL MAGHRIBI AT TIJANIY HAFIZAHULLAHU TA'ALA


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ 

■ Beliau dilahirkan di bumi Tunisia, pada tarikh 4 Muharram 1395 hijrah bersamaan 16 januari 1975 masihi. 

■ Nasab keturunan beliau daripada kabilah Sibaiah Az-Zahabiah, daripada keturunan besar Maulay Idris yang masyhur di bumi Maghrib (Moroko) dan beliau adalah berketurunan daripada Sayidina Alhasan r.hu. 

■ Beliau juga telah mendapat pujian daripada Rasulullah ﷺ dan kebanyakan daripada beberapa wali Qutub dan wali-wali. Pujian-pujian tersebut terarah kepada kesahihan nasab beliau dan pertambatan hubungannya (sanad toriqah dan pengajiannya) dengan hadrah kenabian, sama ada pada zahir atau pada batin dan pertemuan itu berlaku ketika mana beliau dalam pengembaraan (mencari ilmu daripada rijaal/wali Allah). 

■ Beliau menghabiskan permulaan kehidupannya seperti kehidupan kebanyakan masyarakat setempat, sehinggalah datang secara tiba-tiba Ahwal Ilahi dan Jazbah Rabbani yang membawanya kepada perjalanan Ahlillah, dan bukanlah dengan usahanya (ketika itu umur beliau dalam lingkungan dua puluhan) 

■ Bliau dijemput (secara barzakhi) oleh Qutubul-Maktum, Khotmul Auliya Al-Muhammadi dalam menjalani perjalanan Ahlillah dan diserapkan dengan hadrah-hadrahnya yang suci dan ilmu-ilmu hakikat. 

■ Pada permulaannya, beliau menerima toriqah Tijaniah al-Aliyah daripada Asy-Syarif Al-Wasil Sayidi Habib bin Hamid At-Tunisi, dan beliau juga menerima pelbagai sanad toriqah Tijani. Kemudian beliau terus mengembara jauh berpandukan kepada gerak hatinya berserta tawakkal kepada Allah. 

■ Pada pertemuan beliau dengan wali-wali qutub dan lainnya, beliau telah diberitahu dengan perkara-perka yang amat menyenangkan serta menyatakan secara kasyaf keadaan diri beliau dan perkara tersebut sukar untuk ditutur dengan kata-kata. 

■ Tetapi, sentiasalah diri beliau jadi tumpuan adalah kerana terarah kepada sanad toriqahnya yang muktabar, iaitu sanad toriqah yang menjadi pegangan tetap beliau, sama ada dari segi feqah toriqah atau dari segi Zauqi, iaitu sanad Al-Ba'qili, sanad yang melalui susur jalur kepada Mujaddid millah wa-ddin, Qutbaniayatul-Uzma, Sayidii Ahsan Al-Ba'qili Al-Hasani Al-Maghribi, sanad yang dipernamakan disisi ahli sanad, dengan sanad Az-Zahabi (emas) secara umumnya, dan juga dipernamakan dengan sanad-Qutbaniah (sanad wali-wali qutub) secara khususnya. 

■ Beliau juga menerima ijazah secara mutlak daripada Sayidi Abdul Aziz Al-Ba'qili anak kepada Sayidi Ahsan Al Ba'qili, beliau adalah seorang Qutub Al-kamil Al-Mulamati, pewaris sir-sir ayah dan abang beliau (Sayidi Muhammad Al-Habib). 

■ Dalam majlis pengijazahan toriqah, beliau (Sayidi Abdul-Aziz Al-Ba'qili), telah menuturkan katanya kepada beliau,dengan katanya: 

"Aku telah memberi izin kepada kamu sepertimana Rasulullah ﷺ, Syeikh Tijani r.hu, dan abangku memberi izin padaku. Dan aku juga memberi izin kepada kamu dalam mentashihkan Toriqah Tijani daripada segala kesalahan". 

■ Didalam pengembaraan, beliau telah bertemu dengan Qutub Sayidi Mukhtar Asy-Syinqiti di padang Sahara Maghrib, Qutub tersebut dikenali akannya dengan nama Sayid Dahah, masyhur dikalangan orang arab dan lainnya dan Qutub tersebut telah berkata kepadanya (dengan lisan izin llahi): 

"Pergilah ketempat mana yang engkau suka, sesungguhnya engkau akan dibantu, dikasihi dan diterima " 

■ Dan di dalam pengembaraan beliau, beliau telah bertemu dengan seorang lelaki yang berumur, iaitu Qutub Maulai Tuhami Al-Wazzani Al-Idrisi di maqam Sayidi Arabi As-Saaihi. Qutub tersebut berumur sekitar 136 tahun. Qutub tersebut telah menyambut kedatangannya di maqam tersebut adalah dengan melalui arahan daripada Sayidina Rasulullah ﷺ dan Syeikh Tijani r.hu (berlaku secara jaga). 

■ Kemudian setelah itu, beliau mengembara dari Sudan (barat) ke bumi Maghribi. Setelah menziarahi Maqam Syeikh Tijani r.hu yang mulia di bumi Fes, Maghribi, datang pula isyarat kepadanya dan juga arahan supaya menjejakkan kakinya ke bumi Jawi (Malaysia) untuk mengembangkan toriqah Tijani di kalangan masyarakatnya. 

■ Sebahagian daripada kelebihan diri beliau Hafizahullahu Ta'ala: 

* Beliau mempunyai zauqi yang khas dalam toriqah Tijani, dan beliau juga mempunyai keperibadian yang disukai, berperwatakan tenang, akhlak dan sifat semulajadi yang baik 

* Barangsiapa yang melihat keterampilan dirinya, nescaya akan mengingatkan beliau kepada orang-orang terdahulu yang disenangi oleh masyarakat. 

* Beliau amat menyayangi umat Nabi Muhammad ﷺ tanpa membezakan mana-mana kumpulan, kerana mewarisi daripada sifat gurunya dan guru besar beliau yaitu Sayidi Ahsan Al-Ba'qili r.hu. 

* Dan keadaan dirinya juga dikuasai oleh semangat ahwal Al-Mulamati, dan berpengetahuan dalam bidang Khotmiah dan Katmiah, dan setiap orang 

besar toriqah yang bertemu dengannya, akan merasa hairan dengan sesuatu yang ada pada dirinya dan keadaannya. 

* Barangsiapa yang mendengar penjelasan irfaniah, keterangan-keterangan zauqi daripada lautan Hakikat Muhammadiah dan Ahmadiah yang dihuraikannya, nescaya akan merasa kagum dengan huraian demi huraian yang dipertuturkan oleh lisannya seperti : 

1-Kunhil-Haahuti ( كنه الهاهوتي) 

2-Hadratul-a'ma' ( حضرة العماء ) 

3-Tanaazul A'ma Al-Haahuti (التنزل العماني الهالويي) dan sehingga ke martabat Uluhiyah 

4-Ismul-A'zom Zohir 

5-Ismul-A'zom batin 

6-Tajalliyat-kunhi dalam cermin Hakikat Muhammadiah 

7-Rahsia antara huruf Ha' Alhuwiyah dan wau Al-wujud (هاء الهوية وواو الوجود) 

8-Tanaazul yang empat 

9-Jauhar fird (الجوهر الفرد) 

10-Wehdah syuhud 

11-Martabat Tanaazul Ahmadiah 

12-Aliif-Ahmadiah 

13-Mim-Muhammadiah 

14-Hakikat-Tiniyah (tanah) 

15-Hakikat Iblisiah 

16-Syajarah-Muhammadiah (pokok Muhammad) 

17-Lautan nafsu yang tujuh 

18-Nafsu Kamilah 

19-Nafsu Mukammilah 

20-Rahsia nafsu Mukammilah Masalah Khotmiah (khotmul Auliya' Al Muhammadi) 

21-Masalah Katmiah Ahmadiah 

22-Hakikat Maaiyah Al-Muhammadi (air zam-zam) 

23-Hakikat Ahmadiah Makkiyah 

24-Hakikat Muhammad Al-Madaniyah 

25-Hakikat Al-Mahmiyat Al-Muhammadi 

26-Akal-Kulli 

27-Ruh-Kulli 

28-Nafsu-Kulli 

29-Insan-Kaamil 

30-Maddatul-Wujud 

Dan lain-lain. 

■ Dan sebagai makluman untuk saudara sekalian pada masa ini, kebanyakan orang sudah tidak mampu untuk mengusai ilmu-ilmu hakikat dan makrifat seperti mana yang diperolehi beliau, itulah kelebihan diri beliau. 

■ Dengar dan perhatikan sendiri kepada ibarat, isyarat, dan istilah yang dituturkannya pada zaman kita ini. Selalunya kita terdengar akan perkataan : 

* "telah berkata ahli-ahli hakikat" atau "telah berkata orang A'rif" 

* Barangsiapa yang sentiasa bersamanya, nescaya ia mengetahui dengan yakin sekali dengan kelebihan dan limpahan faidh yang ada pada dirinya. 

* Dan juga akan kedengaran : daripada manakah dia belajar ? atau "ini sesuatu yang baru". 

■ Sesungguhnya limpahan-limpahan yang sampai padanya adalah melalui Syeikh beliau, yaitu Syeikh Tijani r.hu. Sekarang ini, kita sungguh bertuah kerana dia berada di kalangan masyarakat kita di Malaysia. 

■ Kita pohon doa kepada Allah, dan moga-moga dengan berkat Syeikh Tijani r.hu, kita semua akan diberkati oleh Allah melalui beliau, dan ditambahkan lagi limpahan Syeikh Tijani r.hu atas diri beliau. 

■ Moga-moga beliau dapat memberi manfaat kepada sekelian muslimin, dan moga-moga Allah tidak menjauhkan kita daripada dapat berjumpa dengan beliau untuk mendengar kemanisan ungkapan demi ungkapan dan perbahasan demi perbahasan ditutur olehnya. 

Amiin....

وصلى الله وعظم ومجد وشرف وبارك على سيد الوجود وعلم الشهود سيدنا ومولانا محمد بحر الكرم والجود وعلى اله وصحبه وسلم تسليما والحمد لله رب العالمين

IBU² QURAN, SELAWAT DAN DOA


۞ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ۞ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۞ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ۞ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ۞ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۞ إهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ۞ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ۞

۞ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۞

۞ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ۞  وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ۞ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين ۞

Telah berkata Murobbina Sayyidi Ahmad Al Hadi Al Hasani Al Magribi At Tijani Hafizahullahu Ta'ala;

Surah Al Fatihah Ibu kepada Al Quran

[ ۞ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ۞ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۞ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ۞ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ۞ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۞ إهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ۞ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ۞ ]

Selawat Fatih Ibu kepada Selawat

[ ۞ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۞ ]

Akhirul Yaqtin (3 ayat terakhir surah As Saaffaat) ialah Ibu kepada doa

[ ۞ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ۞ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ۞ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين ۞ ]

Umpama Fatihah mencukupi daripada Al Quran secara keseluruhan. Kalau kita nak ganti Fatihah dalam sembahyang dengan semua Quran selain Fatihah (maka) tidak sah (solatnya) meliputi (mengikut) semua Mazhab atau Mazhab yang Masyhur walaupun kita baca semua Quran tanpa Al Fatihah tidak dikira sembahyang (tidak sah). Rukun (Qauli) dalam sembahyang ialah baca Al Fatihah. Itulah Ibu Al Quran. Fatihah itu mencukupi daripada Al Quran dan semua Al Quran tanpa Fatihah tidak mencukup daripadanya (Al Fatihah).

Begitu juga dengan Selawat Fatih umpama itu hukumnya dalam medan selawat. Selawat Fatih mencukupi daripada selawat² lain dan selawat² lain tidak mencukupi daripada Selawat Fatih.

Akhirul Yaqtin itu Ibu Doa atau intipati doa kerana dalam doa itu (Akhirul Yaqtin) mengiktiraf diri daripada kekurangan "عاجز" (tiada upaya langsung). Jadi itu martabat Makrifat yang tertinggi (iaitu dengan) iktiraf dengan "عاجز" (tiada upaya langsung) yang boleh mengenali tuhan secara tahqiq dan syuhud.

۞ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ۞ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۞ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ۞ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ۞ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۞ إهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ۞ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ۞

۞ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۞

۞ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ۞  وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ۞ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين ۞